...

WABAH PENYAKIT DI TANO BATAK SEBAGAIMANA TERTERA DALAM PUSTAHA LAKLAK

27 09 2021 Lomba Kategori Umum Rita Margaretha Setianingsih dan Efni Siswati 0 Likes Bagikan :
Ringkasan: Wabah Penyakit di Tano Batak dalam Pustaha Laklak Pustaha Laklak, manuskrip kuno berbahan kulit kayu yang merupakan warisan budaya Batak, mencatat setidaknya tiga wabah penyakit besar yang pernah melanda Tano Batak: sampar (epidemi menular seperti kolera), gadam (kusta), dan kudisan. Masyarakat Batak pada masa itu meyakini bahwa penyakit seringkali disebabkan oleh begu (roh jahat atau roh orang mati) dan menyikapinya dengan berbagai upaya pengobatan tradisional. Ini meliputi ramuan nyata serta ritual supranatural seperti Tawar Racun, Poda Ni Pangampunan Dohot Tabasna (mohon ampunan), dan porsili (ritual buang sial atau pengganti badan sakit) yang melibatkan ramuan herbal dan mantra. Para Datu (praktisi medis Batak) berjuang mengatasi pandemi massal yang mereka sebut Begu Attuk (kolera dan kusta), namun keterbatasan pengetahuan saat itu membuat masyarakat lebih percaya pada kekuatan gaib. Kisah-kisah seperti 'Si Bagot Ni Pohon' juga mengisahkan bencana kekeringan, sakit perut, dan cacar yang menyebabkan kematian massal. Dengan demikian, Pustaha Laklak menjadi cermin sejarah yang krusial, menawarkan perspektif masa lalu yang penting untuk memahami dan menghadapi tantangan di masa kini dan mendatang.

Deskripsi

WABAH PENYAKIT DI TANO BATAK

SEBAGAIMANA TERTERA DALAM PUSTAHA LAKLAK

 

OLEH

Rita Margaretha Setianingsih

Efni Siswati

 

Politeknik Pariwisata Medan

Rita_ms2004@yahoo.com

 

Abstrak

 

Orang Batak memiliki khasanah budaya dalam bentuk Pustaha Laklak, sarana pertulisan/manuskrip berbahan kulit pohon kayu tertentu. Mengacu pada pertulisan Pustaha Laklak diketahui setidaknya ada 3 (tiga) wabah penyakit yang pernah melanda Tano Batak. Saat itu mereka menyikapinya dengan membuat obat serta upacara tertentu untuk menghindari dan menyembuhkan penderita. Terkait dengan adanya pandemi Covid 19 saat ini, diharapkan kajian terhadap Pustaha Laklak membantu pengenalan kita akan berbagai penyaklit, upaya pencegahan dan penyembuhannya. Penulisan cerita tentang sejarah kebencanaan ini menggunakan data di Pustaha Laklak dari beberapa subsuku Batak yang ada di Sumatera Utara. Diharapkan dengan adanya beberapa data tentang penyakit baik yang menular, yang berbahaya dan yang tidak berbahaya yang terjadi pada masyarakat di Sumatera Utara dapat terekam dan dapat diketahui oleh masyarakat. Adapun data yang diambil dari Pustaha Laklak, yaitu (1) Tawar Racun; (2) Poda Ni Pangampunan Dohot Tabasna; (3) Pamusatan Ni Poda Aji Mangalo Musu; (4) Mapas; (5) Pustaha dari Sibolga, serta (6) Pustaha Ni Hulit; (7) Pengobatan dengan Ramuan dan Supranatural.

   

Cover Pustaha Laklak dan isi Pustaha Laklak

(Sumber : Foto pribadi, 2020)

 

Ada sakit sampar  atau epidemi yang menimpa sebuah kampung (disoro sampardo huta i), dimana penyakit menular, yang terkenal adalah sampar darah yaitu sampar yang menyebabkan kelenjar getah benih membengkak dan amat nyeri. Di Pustaha Laklak disebutkan  ...surung ma ho Bhatara Pangulubalang-pangulubalang panapu sidaldal asa ung ama ni paturung sampar ina paturum sampar surung paturun hosa ni porhilang bunu ale ulubalang  nita martabas ale datu ... Maka bangkitlah kamu batara panghulubalang, panghulubalang pemusnah penyengat Asa Ung Ayah pendatang kolera/sampar, ibu mendatangkan kolera, batara pendatangkan kolera, bunuh nyawanya, bunuh wahai ulubalang, demikianlah kita bermantera wahai dukun...

Kemudian  sakit gadam  atau penyakit lepra atau kusta (bakteri Mycobacterium leprae). Dalam Pustaha Laklak disebutkan .....sapu mana matamatam sapu ma na bisa sapu ma na aji ni halak, maton gadam na botar, matton sapu ma na bisa ya malayasa ...artinya ....sapu - sapu seluruh racun, hapuskan segala bisa, hapuskan semua aji orang lain, matikan gatal-gatal lepra yang merah, putih dan hitam, hapuskan segala bisa yang mematikan itu. Sakit lepra ini juga kadang disebut dengan ngenge na birong dalam Pustaha Laklak.

Penyakit yang ke tiga adalah penyakit kudisan, ini pun tertera dalam Pustaha Laklak sebagai sebuah penyakit yang mematikan ...i ma umbahen halak si juguon dohot darangon dohot mate sambariba, i ma na jumadihon hata sambariba sahat bake sahat bujur ale datunami, artinya ... demikianlah untuk membuat orang terduduk dungu, kudisan dan badannya mati separuh hingga terlentang menjadi bangkai, ya dukun kami. Juga ada satu kalimat lagi yang mematikan si penderita ...ruma ni ronggur di nariti iya ma halak na tamburlangaon jana darangon jana ma sangkot porhata-hata iya disahitina do boti mate ma ibana, ale datu nami artinya .... rumah petir di baratdaya badannya berbintik-bintik serta kudisan (darangon), berbicara gugup karena penyakitnya maka dia meninggal wahai dukun kami.

Serta masyarakat saat itu percaya bahwa semua penyakit disebabkan oleh seorang begu. Masyarakat beranggapan bahwa begu adalah (1) roh orang mati, selama manusia hidup rohnya disebut tondi, bila ia mati akan disebut begu, sebagai begu yang ditakuti; kepada begu dipersalahkan semua penyakit dan malapetaka atau (2) roh jahat atau hantu khayal.

Semua penyakit itu juga ada obatnya seperti yang tertera di Pustaha Laklak. Adapun obat yang diberikan pada si penderita dapat berupa obat yang nyata, tetapi ada pula obat yang diberikan dalam rupa white magic. Misalnya dalam Pustaha Laklak tentang Tawar Racun yang isinya tentang penawar racun, tertulis bagaimana racun yang berupa bubuk, racun supranatural yakni racun yang tak berujud yang dibuat dengan kekuatan gaib, serta racun yang dibuat dari sembilu yang dihaluskan, dan disebut satto..  

Juga ada Pustaha Laklak Pengampunan (Poda Ni Pangampunan Dohot Tabasna) isinya tentang pengampunan yang terkait dengan pengobatan. Pengampunan yang dimaksud di sini adalah mohon pengampunan terhadap pengetua-pengetua yang terdahulu (umumnya sudah meninggal). Kesalahan terhadap orang lain dianggap bisa mendatangkan penyakit kepada yang bersangkutan, atau kepada keluarganya. Agar si sakit sembuh perlu mendapatkan pengampunan.

Ada pula cara untuk ritual pengobatan yang disebut dengan kata porsili yang merupakan pengganti badan yang sakit atau buang sial, atau untuk menangkal dan membuang semua penyakit tersebut. Dukun pendatang pada hari yang telah ditentukan dan mengumpulkan beberapa bahan ramuan, yaitu tanah belirang dan lumut mengambang dalam air dan kulit lintah dan hirta (jenis lumpur yang halus), air ditumpuk semua ramuan itu dan digiling halus dan kita rendam ke air pisang kepok dan diurutkan kepada si sakit, bersama kunyit, lada dengan timbangan yang sama ramuan itu dan kita giling halus bersama garam, kemudian kita taruh air. Sudah itu si pitor na bolon kita potong-potong dan diremas. Setelah diremas dimasukan jeruk yang baru dan lemak. Untuk bahan pengurut yaitu kunyit, jahe, lengkuas, kencur, lada setimbang masing-masing, sudah itu kita giling halus, kita giling dicampur dengan bunga-bungaan dan daun tuba sawah sejenis tuba bunga kuning sarah dicampur dengan semua ramuan dan diperas bersama tepung dengan bunga-bunga tadi direndam dalam air kemudian dipanaskan ke api dari garung-garung (alat penadah), kita urutkan kepada si sakit. Diharapkan dengan ini si sakit akan sembuh.

Dalam sejarah Batak, seringkali disebutkan sebuah peristiwa yang mengakibatkan kematian massal yang mempengaruhi konstelasi geopolitik satu huta (kampung). Para praktisi medis Batak atau Datu lantas mengenal peristiwa itu dengan sebuah sebutan, misalnya Begu Attuk. Begu Attuk yang disebut para praktisi medis Batak itu, bukanlah berarti nama sebuah hantu. Artinya kejadian yang menimpa sebuah huta itu disebabkan bukan oleh adanya kekuatan ghaib dari sebuah begu tertentu, walau kebanyakan masyarakat memercayainya. Begu Attuk yang dimaksud para datu itu adalah penyakit yang menjangkiti masyarakat secara massal seperti kolera dan kusta. Dulu, kedatangan Begu Attuk yakni pandemi kolera dan kusta sangat menyusahkan dunia Batak.

Di sinilah para datu berjibaku meneliti dan melakukan eksperimen agar sebisa mungkin dapat mengatasi pandemi ini. Namun karena keterbatasan dunia pemikiran saat itu para datu tampaknya tidak sanggup dan tidak sempat menjelaskan kepada penduduk anatomi Begu Attuk tersebut. Sehingga yang ada di benak masyarakat adalah rasa khawatir yang tinggi terhadap hadirnya sosok begu, terbayang dalam bentuk hantu. Datu adalah satu-satunya orang yang menguasai seni melukis, oleh karena itu bergelar pormangsi di lopian (yang menulis dengan tinta di atas kulit kayu). Tetapi datu membatasi diri, dengan mengabadikan pengetahuan ajarannya dengan jalan menulis buku ramal-meramal guna meneruskan pengetahuannya kepada murid-muridnya.

Dalam cerita Si Bagot Ni Pohon disebutkan bahwa ... dilaon-laon ni ari disada tingki masa do logo ni ari sinanggar-nanggar di tano Baligeraja, marsik do gulu-guluan dohot mual, rahar sua-suanan mosok dohot duhut-duhut dibahen logo ni ari i, jadi nunga tung hasit dapot ngolu ni halak dohot pinahan maesa do roha mahiang daging melos bohi sai holan na mangholsoi, marangkup do muse sahit butuha dohot ngenge nabirong tu jolma dohot pinahan godang do na mate ala ni sahit-sahit i....artinya ...pada suatu masa terjadi kemarau panjang di Baligeraja, tanah dan sumur jadi kering, tanaman serta rumput jadi kering disebabkan kemarau. Manusia dan hewan berimbas mengalami kesulitan, mereka hampir putus asa. Sakit perut dan cacar juga dialami oleh manusia dan hewan, bahkan banyak di antaranya yang meninggal/mati.

Demikianlah dapat disampaikan bahwa pustaha laklak  sebagai warisan budaya orang Batak jelas ikut memaknai kelampauan bagi masa depan. Bahwa nilai budaya mengalami perubahan, hal itu harus disikapi salah satunya dengan memberi perlakuan khusus pada keberadaan pustaha laklak - sebagai sebuah master piece dengan kehidupan masyarakat di Sumatera Utara masa lalu - dalam menangani arkeologi dan kepentingan terkait lainnya

Oleh karena itu menjadi tugas setiap orang untuk mengenal sejarah agar mengetahui asal-usulnya. Sejarah ibarat cermin dan kita harus belajar memahami latar belakang permasalahan guna mampu dengan baik melangkah ke masa depan. Sejarah jelas merupakan wacana yang selalu actual. Tanpa suatu perspektif yang diperoleh dari kejadian-kejadian masa lalu, tentu tidak mudah menghadapi masalah-masalah hari ini, apalagi hari esok.  Sejarah adalah hal yang sangat patut dan pantas.

 

 

 

Comment (0)