...

BMKG Imbau Warga Tanjungpinang Waspadai Banjir Rob

18 11 2025 Bencana Deborah B. Diaz 0 Likes Bagikan :

Deskripsi

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tanjungpinang, Kepulauan Riau mengimbau warga untuk tetap mewaspadai banjir rob meski kondisi pasang air laut Pulau Bintan (Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan) mulai menurun.

Prakirawan BMKG Tanjungpinang, Vivi Putrima A, mengatakan, air laut sewaktu-waktu berpotensi naik, tergantung kondisi cuaca, karena itu warga harus tetap waspada.

Air laut dalam kondisi pasang tinggi beberapa waktu terakhir dipengaruhi oleh faktor fase bulan, curah hujan, serta kondisi perairan yang mengalami pendangkalan.

Meski situasi saat ini cenderung lebih stabil, potensi banjir rob masih bisa terjadi terutama saat kondisi cuaca memburuk atau memasuki periode bulan purnama dan bulan baru.

“Untuk beberapa hari ke depan masih aman. Tapi kalau ada cuaca buruk, seperti kemunculan awan cumulonimbus, bisa menyebabkan angin kencang dan gelombang meningkat secara tiba-tiba,” ujar Vivi, di Kantor BMKG Tanjungpinang, Selasa, 11 November 2025.

Menurut dia, potensi pasang tinggi masih dapat terjadi pada Desember mendatang. Oleh karena itu, kesiapsiagaan, pemantauan informasi resmi, dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi langkah penting untuk meminimalisir dampak banjir rob di wilayah pesisir

BMKG juga mengimbau masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, khususnya di kawasan pesisir, karena dapat memicu pendangkalan dan memperparah dampak banjir saat air pasang. Selain itu, masyarakat juga diminta lebih aktif memantau informasi terbaru melalui kanal resmi BMKG, seperti Instagram BMKG Tanjungpinang,

WhatsApp resmi BMKG, maupun website resmi BMKG, untuk mendapatkan peringatan dini dan perkembangan cuaca secara berkala.

“Jangan buang sampah sembarangan, terutama di pesisir. Sampah bisa menyebabkan pendangkalan dan memperparah genangan ketika air pasang,” ujarnya menambahkan.

Di sisi lain, warga pesisir mengaku masih merasakan kekhawatiran meski kondisi air berangsur surut. Myah, salah satu warga terdampak, mengatakan banjir besar biasanya terjadi setahun sekali dan kerap mencapai permukiman.

“Kalau bulan 12 kami sudah siap-siap angkat barang. Kulkas, kursi, semua dinaikkan. Yang paling penting itu keselamatan,” kata Myah.

Hal serupa disampaikan Dodi, warga lainnya, yang mengaku aktivitas warga sering terhenti saat banjir terjadi. Ia menyebut, warga biasanya mendapat informasi awal melalui grup RT/RW, namun tetap melakukan antisipasi mandiri untuk mengamankan rumah dan keluarga.

“Kalau air naik, ya kami angkat barang dulu, tunggu surut baru bisa beraktivitas lagi,” ucap Dodi.

Myah dan Dodi berharap alexistogel ada peningkatan perhatian dari pemerintah daerah, terutama dalam mitigasi dan bantuan saat banjir terjadi.

“Kami hanya bisa berjaga dan berdoa. Kalau ada bantuan atau perhatian lebih, tentu kami sangat berharap,” tuturnya.

Comment (0)