...

Menelaah Sejarah Bencana: Dua Dekade Mengenang Tsunami Aceh

24 06 2024 Sejarah Mutia Ridwan 2 Likes Bagikan :
Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 merupakan peristiwa global yang memilukan, menewaskan lebih dari 166.000 orang dan mengubah paradigma penanggulangan bencana Indonesia dari responsif menjadi proaktif, yang kemudian melahirkan BNPB. Wilayah Aceh sendiri memiliki sejarah panjang kejadian tsunami, dengan catatan 13 peristiwa antara tahun 416-2021, termasuk tsunami-tsunami besar pada abad ke-19 dan ke-20 yang disebabkan oleh gempa bumi dan longsor bawah laut. Bahkan, bukti arkeologi menunjukkan adanya tsunami signifikan jauh sebelum itu (1394-1450 M) yang berdampak besar pada peradaban. Namun, sejarah bencana juga mengajarkan pelajaran berharga; kearifan lokal seperti cerita 'smong' di Simeulue, yang diwariskan dari tsunami 1907, terbukti menyelamatkan banyak nyawa pada tahun 2004, menekankan pentingnya mendokumentasikan dan mengkomunikasikan sejarah bencana untuk memperkuat ketahanan masyarakat.

Deskripsi

Dua dekade lalu, semua mata masyarakat dunia tertuju pada Indonesia. Tsunami Aceh yang terjadi pada 26 Desember 2004 memecah hiruk pikuk aktivitas masyarakat yang menyambut hari, seketika terdengar riuh rendah gemuruh dari laut lepas. Ombak air laut pekat dengan gemuruh hebat meluluhlantakkan bumi Iskandar Muda. Bencana ini mengakibatkan rusaknya tempat tinggal bagi kurang lebih 500.000 orang, korban tewas sekitar 166.080 orang, dan hilangnya 6.245 orang1. Tidak hanya itu, luapan air laut juga menyapu pesisir 17 negara lainnya. Peristiwa ini menyadarkan Indonesia, untuk mengubah paradigma penanggulangan bencana dari responsif menjadi proaktif dalam mengurangi risiko bencana. Selain itu, hal ini menjadi tonggak sejarah pembentukan Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi (Bakornas PBP), yang menjadi cikal bakal berdirinya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Jejak tsunami di wilayah Aceh dan sekitarnya, telah lama tertulis dalam manuskrip kuno, juga terpatri pada bukti sedimen dan catatan geologis. Berdasarkan katalog tsunami sejak tahun 416 - 20212, telah tercatat 13 kejadian tsunami yang pernah melanda Provinsi Aceh dan sekitarnya. Berdasarkan catatan dan hasil penelitian, tsunami yang terjadi di bagian utara Aceh sebagian besar terjadi karena gempa bumi, sedangkan tsunami akibat longsoran tercatat terjadi di bagian barat Provinsi Aceh, tepatnya di Pantai Calang di Kabupaten Aceh Jaya.

Gambar. Peta Historis Kejadian Tsunami di Aceh

Catatan tsunami Indonesia menunjukkan 12 tsunami telah terjadi 200 tahun sebelum tsunami Aceh pada akhir tahun 2004 Pada abad ke-19, telah terjadi tujuh tsunami pada tahun 1837, 1861, 1885, 1886, 1887, 1888, dan 1891, yang diakibatkan oleh gempa bumi. Tsunami juga terjadi sebanyak lima kali pada abad ke-20, tepatnya pada tahun 1922, 1929, 1948, 1964, dan 1967, yang disebabkan oleh gempa bumi juga longsor di bawah laut.

Namun Daly et al3 mengemukakan bahwa tsunami tahun 2004 bukanlah satu-satunya tsunami yang menyebabkan gangguan besar pada masyarakat. Bukti arkeologi yang ada mengungkapkan bahwa bencana ini terjadi jauh sebelum catatan tsunami Indonesia, yaitu pada 1394 M hingga 1450 M. Hal ini juga didukung oleh bukti tekstual bahwa salah satu atau kedua tsunami ini sangat mempengaruhi pemukiman dan perdagangan di sepanjang pantai utara Sumatera dan Selat Malaka. Dalam kurun waktu satu abad itu, kurang lebih, budaya yang diwakili oleh pemukiman di Lhok Cut menghilang dari catatan tertulis dan arkeologis, dan pemukiman di pesisir Selat Malaka yang lebih terlindungi menjadi dominan. Hilangnya sejarah ini menjelaskan besarnya dampak tsunami pada peradaban manusia.

Di lain sisi, sejarah bencana tsunami tidak hanya memberikan catatan mengerikan mengenai dampaknya yang merusak, namun juga pelajaran berharga bagi masyarakat setempat. Sejarah tsunami telah mengakar kuat pada masyarakat di Simeulue, Aceh, yang mengenal cerita turun-temurun seperti ‘smong’ yang menjelaskan fenomena naiknya air laut atau tsunami. Pengetahuan lokal  yang diperoleh dari kerugian besar yang dialami Simeulue akibat tsunami tahun 1907 ini dapat menyelamatkan penduduk dengan  mengungsi ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari tsunami tahun 2004.  Monecke et al4 mengungkapkan bahwa di daratan Sumatera, sebagian besar korban tsunami mungkin bisa selamat dengan cara ini, melalui pengetahuan lokal yang turun-temurun diceritakan. Oleh karena itu, sejarah bencana harus terus menerus didokumentasikan dan dikomunikasikan untuk meningkatkan dan memperkuat ketahanan masyarakat terhadap bencana.

Daftar Pustaka:

(1) Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. 2019. Katalog Tsunami Indonesia Per-Wilayah Tahun 416 - 2018

(2) Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral. 2023. Katalog Tsunami Indonesia Tahun 416 - 2021

(3) Daly, P et al. 2015. Penultimate predecessors of the 2004 Indian Ocean tsunami in Aceh, Sumatra: Stratigraphic, archeological, and historical evidence, J. Geophys. Res. Solid Earth, 120, doi:10.1002/2014JB011538

(4) Monecke, K., Finger, W., Klarer, D. et al. 2008. A 1,000-year sediment record of tsunami recurrence in northern Sumatra. Nature 455, 1232–1234 https://doi.org/10.1038/nature07374

 

Comment (0)