...

UPAYA MENGUATKAN MITIGASI KEBENCANAAN: SEJARAH PERKEMBANGAN PALEOTSUNAMI DI ACEH

02 01 2025 Sejarah S. Yunita Sofiana Dewi 2 Likes Bagikan :
Ringkasan: Studi Paleotsunami dan Mitigasi Bencana di Indonesia Artikel ini mengulas peningkatan dampak bencana alam, dengan menyoroti gempa bumi dan tsunami Aceh 2004 sebagai contoh di mana kurangnya kesadaran mitigasi menyebabkan korban jiwa yang besar. Dijelaskan bahwa peristiwa ini memiliki preseden historis di wilayah Aceh-Andaman, bukan kejadian tunggal. Penekanan utama adalah pada pentingnya studi paleotsunami, yang melibatkan penggalian geologis di gua dan lapangan terbuka untuk mengidentifikasi endapan tsunami purba (ditandai oleh lapisan pasir, humus, dan kotoran kelelawar). Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kejadian tsunami masa lalu yang tidak tercatat, memperkaya literasi sejarah bencana, dan menyediakan data krusial untuk merancang strategi mitigasi yang lebih efektif di masa depan, terutama di daerah rentan yang minim catatan historis.

Deskripsi

 

Kejadian bencana alam di masa lalu yang memusnahkan peradaban manusia telah menjadi bagian penting dari sejarah geologi. Bencana alam merupakan peristiwa ekstrem yang disebabkan oleh berbagai faktor lingkungan, seperti badai, banjir, kekeringan, kebakaran, dan gelombang panas. Seiring waktu, tingkat keparahan, cakupan, dan dampak dari bencana alam ini terus meningkat, sehingga menimbulkan tantangan yang semakin kompleks.

Di Indonesia, berbagai peristiwa bencana alam telah terjadi dan meninggalkan jejak berupa fakta-fakta geologi yang belum sepenuhnya terungkap. Salah satu contohnya adalah peristiwa gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Aceh pada 2 dekade silam yang tidak hanya memberikan dampak besar pada kehidupan manusia, tetapi juga menyimpan informasi penting bagi kajian geologi di masa depan.

Hingga sebelum 26 Desember 2004, mayoritas warga Aceh tidak menyadari bahwa kota mereka dibangun di atas endapan tsunami tua atau paleosunami. Bahkan, ketika laut surut, tak lama terjadinya gempa, banyak orang yang pergi ke pantai dan tidak mengetahui bahwa fenomena surutnya air laut itu adalah salah satu pertanda datangnya tsunami. Maka, ketika air laut setinggi lebih dari 20 meter secara tiba-tiba merengsek ke daratan, kesempatan menyelamatkan diri menjadi terbatas dan sekitar 200.000 lebih penduduk meninggal dunia pada Desember 2004. Salah satu penyebab banyaknya korban adalah karena ketidaktahuan masyarakat terhadap mitigasi kebencanaan.

Sebenarnya, peristiwa gempa tahun 2004 bukan suatu hal yang terjadi tiba-tiba. Bahkan, gempa tahun 2002 di Simelue diduga merupakan gempa pembuka dari mega-gempa tahun 2004 tersebut. Banyak gempa-gempa besar yang terjadi di wilayah Aceh-Andaman ini pada masa lalu. Di wilayah zona subduksi di Laut Andaman yang pecah ketika gempa tahun 2004 pernah terjadi gempa besar tahun 1881 dan tahun 1941 (Natawidjaja, 2015). 

Tidak hanya itu, zona subduksi yang pecah tahun 2005 tersebut pernah terjadi gempa yang serupa tahun 1861. Di wilayah Pulau Simelue pernah diterjang oleh tsunami pada tahun 1907 mempunyai tinggi gelombang yang dua kali lebih besar dari yang terjadi tahun 2004. Gempa tahun 1907 di Simelue ini mempunyai mekanisme yang serupa dengan yang terjadi di Pulau Pagai, Mentawai pada bulan September 2010, yaitu sebenarnya pergerakan patahan yang terjadi sangat besar walaupun magnitudonya tidak terlalu besar sehingga membangkitkan tsunami yang jauh diatas perkiraan (Natawidjaja, 2015).

Meskipun demikian, gempa dan tsunami menjadi penting untuk dikaji lebih mendalam, terutama studi paleotsunami. Merujuk kepada Undang-undang Cagar Budaya Nomor 11 tahun 2010, pasal 5 “Paleotsunami adalah tsunami yang terjadi lebih tua dari 50 tahun yang lalu”. Sementara itu dalam geologi, sesuatu dikategorikan “paleo” apabila umurnya lebih dari 10.000 tahun lalu (Holosen). 

Penelitian terkait paleotsunami dilakukan di gua tahun 2011-2012 dan bekerja sama  dengan Earth Observatory of Singapore. Penelitian ini dilakukan tidak hanya di sepanjang pantai, tetapi juga dilakukan di daerah Pulot, daerah Leupung sebelah kanan. Di daerah Leupung, penggalian dilakukan tidak seperti penggalian yang dilakukan di gua karena hanya ingin melihat lapisan atasnya. Ketebalan lapisan pada tsunami 2004 adalah sekitar 50 cm. Meskipun demikian, sampel paleotsunami dapat ditemukan di daerah lain dan disimpan dengan baik dan tertutup agar tidak kering. 

Paleotsunami terjadi akibat penurunan tanah daratan. Ketika terjadinya gempa, tsunami membawa pasir yang tertimbun di dalam rawa-rawa. Akan tetapi, jika sekali terjadi penurunan tanah, setidaknya ada lapisan humus atau lapisan tanah hitam yang disebut tanah tertimbun. Di dalam satu lapisan humus, ada terdapat satu lapisan tsunami dan pasir.

Jika tsunami lainnya terjadi dalam rentang 200 tahun mendatang, hal itu disebabkan oleh lapisan atas tsunami sebelumnya tertumpuk oleh humus yang baru sehingga menyebabkan penurunan tanah. Dalam penelitian terkini akan sangat mungkin kejadian tersebut menjadi terlihat selang-seling antara tanah tsunami dengan humus. Meskipun demikian, hal tersebut tidak selalu disebabkan oleh pasir tsunami. Kondisi demikian juga dapat disebabkan oleh pasir tsunami dengan humus, pasir rawa-rawa, badai, maupun pasang surut.

Penemuan usia barang harus mengacu kepada ketentuan dari katalog benda-benda bersejarah yang mana benda-benda tersebut memiliki masa kadaluarsa, seperti peralatan rumah tangga atau keramik. Keramik yang ditemukan tidak selalu berasal dari Cina, bisa berasal dari Jepang atau Belanda. Misalnya, suatu keramik dipastikan berasal dari Cina jika keramik tersebut sudah sesuai dengan katalog benda-benda bersejarah dari Cina.

Paleotsunami dipopulerkan di Museum Tsunami. Faktanya, adanya endapan tsunami yang tersimpan di museum tersebut sehingga pengunjung tertarik untuk melihat tempat asli endapan tersebut ketika berkunjung ke museum. Proses penggalian untuk melakukan penelitian paleotsunami cukup menantang di Gua Meunasah Lhong, Aceh. Tanah di dalam gua digali sedalam 2 meter dengan besar lubang 1,5 x 3 meter, sementara panjang lubang adalah sekitar 3 meter lebih. 

Alasan penggalian tanah dengan kedalaman 2 meter adalah untuk mengetahui seberapa dalam dan jumlah lapisan tsunami berikutnya selain lapisan tsunami tahun 2004. Jika sampel diambil dari atas, di bawahnya lapisan atas lapisan tsunami 2004 terdapat lapisan pasir. Pembatasnya dapat diketahui dari kotoran kelelawar yang berwarna hitam. Oleh karena waktu antar-tsunami berbeda, lapisan tersebut bisa 100 tahun. Kelelawar selalu berada di gua sehingga sebelum terjadi tsunami selanjutnya, lapisan atas telah tertutup oleh kotoran kelelawar.

Tempat penggalian lainnya adalah di Kecamatan Lhong. Lokasinya terletak di tanah datar lapangan terbuka lewat Kuah Plik Chu. Setelah turun dari Gunung Kulu, berjalan melewati Warung Kuah Chu. Lokasi tersebut diapit oleh antargunung. Di sana ada laut dengan jarak lautnya sekitar 3.000 meter dengan penggalian kedalaman sekitar 2 meter lebih beserta lubang 1,5 x 2 meter.

Kedahsyatan tsunami dilihat dari seberapa tebal pasir sidemen. Batas layer dapat diketahui dari sidemen lumpur atau tanah. Banjir setelah tsunami atau naik air pasang akan membawa sidemen. Sampel sidemen tersebut diteliti untuk melihat kesinambungan apakah lapisan tsunami ada di gua tersebut. Temuan yang berbeda dari temuan lain sudah diprediksi pada hilangnya lapisan yang disebabkan oleh terkurasnya air dan di dalam gua tersebut terdapat sungai di sebelah sisi kiri, air akan turun ketika air pasang secara automatis.

Penggalian yang dilakukan hanya 2 meter. Jika digali lebih dalam lain kemungkinan ada lapisan lagi di bawahnya. Oleh karena keterbatasan, penggalian hanya sampai pada lapisan tanah liat. Layer dapat dikatakan sebagai paleotsunami jika lapisan pasir—antara lapisan pasir laut dengan lapisan pasir tsunami)—berbeda. 

Saat ini, belum adanya alat untuk mendeteksi layer tsunami. Penentuan layer tsunami dapat dilakukan dengan mengacu tsunami 2004 yang pasirnya masih dapat terlihat. Gua berdekatan dengan pantai, tetapi mulut gua tidak berhadapan dengan laut sehingga sidemen pasir laut akan terbawa ketika air laut masuk ke gua. Ketika air surut, sidemen pasir laut akan mengendap. Selain penemuan sidemen, sebongkah gigi geraham juga ditemukan di kedalaman 2 meter yang akan diteliti lebih lanjut untuk menentukan apakah gigi tersebut merupakan gigi manusia atau gigi babi.

Lapisan sedimen di area penggalian sekitar pantai adalah berdasarkan asumsi bahwa tiap gelombang tsunami akan meninggalkan deposit material dari laut di darat seperti jejak fosil mereka lantas diteliti untuk mengungkap beragam data. Proses penggalian dilakukan dengan cara menggali sekitar kedalaman 2 meter dengan besar lubangnya 1,5 x 3 meter lebih untuk membedakan setiap lapisan paleo itu dapat dilihat dari lapisan yang berwarna hitam yaitu kotoran kelelawar gua tempat ditemukan paleo ini dinamakan Gua Leunti karena merupakan tempat tinggalnya kelelawar.

Saat penggalian, ada terdapat pasir beserta pembatasnya. Hal tersebut menandakan bahwa ada beberapa kali terjadi tsunami yang ditandai oleh kotoran kelelawar yang menetap di gua selama 10 tahun. Kotoran kelelawar akan menutupi pasir dan lapisan tersebut akan tersimpan dengan baik. Jika terjadi tsunami atau banjir, sidemen berada di atas kotoran kelelawar tadi. Seiringnya dengan waktu, sidemen akan tertutupi oleh kotoran kelelawar kembali.

Selain di gua, penggalian serupa dilakukan di lapangan terbuka Lhoknga (penggalian selanjutnya adalah Meulaboh, sepanjang pantai barat, dan Singkil) dengan  kedalaman 2 meter dengan besar lubangnya 1,5 x 2 meter. Penggalian di lapangan terbuka bertujuan untuk membedakan setiap lapisan paleo itu adalah melalui sedimen lumpur atau tanah. Dari keterangan sedimen yang diperoleh, misalnya, kita bisa memprediksikan besar gelombang tsunami yang terjadi dalam rekonstruksi ini yang juga mencakup estimasi ketinggian gelombang tsunami, termasuk mengungkap kemungkinan gempa.

Studi paleotsunami bertujuan untuk mencari jejak tsunami pada masa lampau yang tidak tercatat dalam sejarah tertulis. Penelitian ini memiliki kontribusi yang sangat penting dalam memperkaya literasi sejarah bencana, terutama di wilayah yang minim informasi tentang gempa dan tsunami. Melalui paleotsunami, jejak fisik dari bencana yang terjadi ratusan hingga ribuan tahun lalu dapat diidentifikasi, seperti sedimen yang tersisa, pola kerusakan geologis, atau lapisan material yang mencerminkan dampak tsunami. Data ini melengkapi catatan sejarah yang mungkin tidak terdokumentasi akibat keterbatasan pengetahuan atau teknologi pada masa itu.

Literasi Sejarah Bencana yang diperkuat dengan temuan paleotsunami dapat menjadi landasan dalam merancang strategi mitigasi bencana yang lebih baik. Dengan memahami pola bencana masa lalu, masyarakat dan pemerintah dapat mempersiapkan langkah antisipasi yang lebih efektif untuk mengurangi risiko di masa depan, khususnya di area yang rentan tetapi belum memiliki catatan sejarah gempa dan tsunami. (HA & SD)

Referensi:

Museum Tsunami Aceh, Naskah Kajian Tahun 2019-2021.

Natawidjaja, Danny Hilman. Siklus Mega-Tsunami di Wilayah Aceh-Andaman dalam Konteks Sejarah: Mega-tsunami Cycles Aceh Andaman Region in Historical Context. Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI. 2015 


 
Comment (0)