Menggali Jejak Faktual Longsor Legetang untuk Ketangguhan Bencana
Ringkasan
Deskripsi
Peristiwa longsor dahsyat yang melenyapkan Dusun Legetang pada 16 April 1955 merupakan babak kelam dalam sejarah bencana di Indonesia. Tragedi ini memicu perdebatan antara narasi spiritual yang menganggapnya sebagai azab dan penjelasan ilmiah di balik fenomena geologis. Artikel ini mengupas kembali jejak sejarah bencana, membedah fakta dan mitos, serta mengambil pelajaran berharga untuk membangun ketangguhan bangsa.
(Topographisch Bureau, 1903, 1915)
|
|
|
Gambar 2. (a) Citra satelit (Google,2025) daerah Legetang dan (b) ketika disuperimposisi dengan area Dusun Legetang berdasarkan peta topografi tahun 1903. |
|
Secara geografis, Dusun Legetang berada di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Banjarnegara, bagian dari Dataran Tinggi Dieng. Masyarakatnya hidup dari pertanian sayur-mayur yang melimpah. Kesuburan yang melebihi daerah sekitarnya, menjamin panen melimpah bahkan saat desa lain mengalami gagal panen (bambino, 2014; Susanto, 2016). Namun, ironisnya, kesuburan tanah ini berasal dari material endapan longsoran purba yang membuat wilayah tersebut sangat rentan secara geologis.
1. Legenda yang Mengakar: Legetang sebagai "Sodom dan Gomora"
Narasi yang paling dominan di masyarakat adalah bencana ini sebagai hukuman ilahi. Dusun ini dijuluki "Sodom dan Gomora" dari Banjarnegara karena tuduhan kemaksiatan seperti perjudian, minuman keras, dan perzinahan (Susanto, 2016). Bahkan, kesenian lengger diceritakan berakhir dengan tindakan amoral (bambino, 2014). Narasi azab ini mengisi kekosongan informasi dan dokumentasi resmi pada masa itu, yang kemudian mengakar kuat dalam memori kolektif melalui cerita lisan.
Saksi mata seperti Toyib dan Suhuri bercerita tentang suara yang amat keras seperti benda berat jatuh dan penemuan dusun yang telah menjadi bukit. Kesaksian lain juga menyebut longsoran terangkat dan jatuh melompati sungai dan jurang, yang semakin memperkuat keyakinan mistis bahwa itu adalah mukjizat ilahi (bambino, 2014; Susanto, 2016).
2. Anatomi Bencana: Dari Legenda ke Sains Geologi
2.1. Latar Belakang Geologis: Dieng, Warisan Bencana yang Subur
Untuk memahami tragedi Legetang, kita perlu melihatnya dalam konteks geologis yang lebih luas. Dataran Tinggi Dieng adalah kawasan vulkanik aktif dengan sejarah bencana yang panjang, seperti erupsi Kawah Sinila, Timbang, dan Sileri yang telah menewaskan ratusan jiwa (BPBD Jateng, 2019). Ini menunjukkan bahwa Dieng secara keseluruhan memiliki risiko geologis yang tinggi.
Kesuburan tanah Legetang sendiri adalah produk dari proses geologis yang sama yang akhirnya menghancurkannya. Analisis geologi menunjukkan bahwa dusun ini terletak di atas dataran meja atau tableland, yang merupakan bentukan unik dari deposisi material longsoran berulang dari Gunung Pengamun-amun dan Gunung Jimat selama ribuan tahun, mungkin lebih. Letaknya yang tepat berada di mulut lembah membuat material rombakan dari daerah tangkapan di atasnya menumpuk di area tersebut lapis demi lapis, menciptakan dataran yang subur namun menyimpan kerentanan tersembunyi (Gambar 4).
2.2. Rekonstruksi Ilmiah: Kronologi Malam Nahas
Tanda-tanda awal longsor sebenarnya sudah terlihat. Sekitar 70 hari sebelum kejadian, para pencari rumput dan kayu menemukan retakan memanjang dan cukup dalam di lereng gunung (bambino, 2014). Namun, tanda-tanda ini hanya menjadi bahan obrolan tanpa menimbulkan kewaspadaan
|
|
|
Gambar 5. Skema penampang longsor rotasional yang terjadi di Gunung Pengamunamun. (Google,2025) |
|
|
|
Gambar 6. Skema longsor yang menyapu Legetang (a) dilihat dari atas dan (b) dilihat secara perspektif. (Google, 2025) |
|
Hujan lebat berhari-hari membuat tanah di lereng Gunung Pengamun-amun menjadi sangat jenuh dan tidak mampu lagi menahan beban. Pada pukul 23.00, 16 April 1955, massa tanah ambrol dalam mekanisme longsor rotasional (Sudibyo, 2014). Massa tanah setinggi 200 meter itu menekan tanah bercampur air di bagian bawah, menciptakan dorongan yang menyebabkan material lumpur meloncat puluhan meter (Gambar 5). Lumpur ini kemudian membentur kaki Gunung Jimat, berbelok tajam ke selatan, dan tepat mengarah Legetang. Fenomena loncatan inilah yang menjelaskan kesaksian warga tentang "gunung terbang" yang melompati jurang dan sungai kecil (Hartono, 2022b; bambino, 2014).
|
|
|
Gambar 7. Perkiraan luasan area terdampak (a) dilihat dari atas dan (b) dilihat secara perspektif. (Google, 2025) |
|
Volume tanah yang bergerak diperkirakan mencapai 2 juta meter kubik, dengan aea terdampak diperkirakan antara 12 hingga 30 hektar ditunjukkan oleh Gambar 7, dengan ketebalan tumpukan material antara 0,5 hingga 2,5 meter (Gambar 8a). Material longsor tersebut menempuh jarak setidaknya 500 meter dari titik berbelok
|
|
|
Gambar 8. Kliping Koran Kedaulatan Rakjat tentang Longsor di Legetang. (Pratama, 2020) |
|
2.3. Ketidaksesuaian
Meskipun rekonstruksi ilmiah memberikan gambaran yang jelas, berbagai keterbatasan pada masa itu menghasilkan inkonsistensi data. Jumlah korban yang tercatat dalam berbagai sumber bervariasi. Plakat yang berada di Tugu Peringatan (Gambar 9) mencatat 332 penduduk dan 19 tamu sehingga total 351 korban jiwa. Sedangkan di tugu data bencana pada Gambar 3 menampilkan angka 450 korban tewas. Di kliping koran Kedaulatan Rakyat-pun menampilkan angka yang berbeda pada edisi yang berbeda yaitu 430 dan 500 orang korban (Gambar 8).
sebagai Gunung Pengamunamun yang terpotong puncaknya. (Kristanto, 2014)
Tabel 1 menunjukkan bagaimana fakta ilmiah menjelaskan bencana Legetang, yang berbeda dengan mitos yang beredar.
|
|
|
|
|---|---|---|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3. Respons dan Keterbatasan Masa Lampau
Respons awal terhadap bencana Legetang sangat terbatas. Kabar longsor baru menyebar perlahan pada pagi hari. Warga desa tetangga tidak berani mendekati lokasi karena tanah masih terus bergerak. Upaya pencarian korban sangat minim dan tidak efektif karena keterbatasan alat dan sumber daya, hanya dilakukan di titik yang diduga lokasi rumah petinggi dusun. Hingga kini, sebagian besar jasad korban masih terkubur di bawah timbunan tanah, menunjukkan ketiadaan operasi evakuasi yang memadai (bambino, 2014).
Tragedi ini juga mencerminkan kondisi penanggulangan bencana di Indonesia pada pertengahan abad ke-20. Pada tahun 1955, belum ada lembaga khusus yang berfokus pada bencana alam (BNPB, n.d.). Perhatian pemerintah saat itu terfokus pada urusan politik pasca-kemerdekaan, seperti Pemilu 1955. Ketiadaan struktur kelembagaan untuk mendokumentasikan, mengoordinasi tanggap darurat, dan rehabilitasi membuat peristiwa Legetang hanya tinggal cerita belaka tanpa adanya catatan resmi, sehingga memperkuat posisi narasi lisan dan mitos.
4. Membangun Ketangguhan dari Refleksi Sejarah
4.1. Peringatan Dini dan Sains
Kisah Legetang menjadi pengingat betapa pentingnya mengenali dan merespons tanda-tanda alam. Tanda-tanda seperti retakan tanah dan hujan berhari-hari yang diabaikan pada 1955 kini menjadi dasar bagi strategi mitigasi bencana modern. Masyarakat kini mengintegrasikan kearifan lokal dengan sains dan teknologi
bernama Land Instability Detection Unit yang disingkat LINDU. (Zidan, 2025)
Mitigasi modern mengombinasikan data geologis yang akurat dengan sistem peringatan dini berbasis komunitas. Tanda-tanda alam seperti curah hujan dan pergerakan tanah dapat diukur dan digunakan sebagai basis peringatan dini (Andang et al., 2025; Firdaus, 2018; Zidan, 2025). Hal ini menunjukkan sebuah transisi dari pandangan pasif terhadap takdir menjadi tindakan proaktif yang berbasis pada sains.
4.2. Tanggap Darurat Terstruktur
Tragedi Legetang mencerminkan keterbatasan respons terstruktur di masa lalu. Kini, Indonesia memiliki Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang beroperasi berdasarkan peraturan dan prosedur yang terstruktur (BAKORNAS PB, 2007). Tanggap darurat modern mencakup SOP yang jelas untuk evakuasi, pencarian, dan penyaluran bantuan (Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 17, 2010). Kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, serta alokasi anggaran khusus untuk penanggulangan bencana, menjadi kunci penanganan yang efektif.
4.3. Rehabilitasi dan Relokasi
Dusun Legetang tidak pernah dibangun kembali, selain karena penduduknya yang memang sudah habis, tempat itu memiliki resiko tinggi akan terjadinya kembali bencana serupa. Di tempat lain yang penduduknya tidak habis musnah, biasanya terdapat relokasi ke tempat yang lebih aman. Tempat yang sangat beresiko itu tidak boleh ditinggali lagi.
Upaya untuk rehabilitasi ataupun relokasi di tempat yang baru bertujuan untuk memulihkan semua aspek kehidupan masyarakat, termasuk layanan publik dan infrastruktur.
5. Penutup: Memori sebagai Kekuatan untuk Masa Depan
Tragedi Legetang mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga tentang pentingnya mengutamakan sains dan kesiapsiagaan di atas kepasrahan pada takdir. Peristiwa kelam ini menjadi pengingat bahwa di balik kesejahteraan, bisa tersembunyi bencana yang mematikan. Oleh karena itu, kita tidak boleh mengabaikan peringatan alam. Dengan mempelajari kembali sejarah Legetang, kita bisa memisahkan antara mitos dan fakta ilmiah.
Pelajaran dari Legetang adalah seruan untuk bertindak, membangun ketangguhan bangsa melalui literasi kebencanaan, sistem peringatan dini, dan partisipasi aktif. Memahami masa lalu akan membantu kita lebih waspada. Tujuannya adalah menjamin tragedi serupa tidak terulang dan masyarakat dapat hidup berdampingan dengan alam secara lebih aman.
Daftar Pustaka
Andang, A., Hidayat, E. W., Romdani, A., Permana, P., Firdaus, A. T., Pratama, M. H., & Rifansyah, E. A. (2025). Pengembangan purwarupa sistem peringatan dini longsor berbasis Internet of Things (IoT). JITEL (Jurnal Ilmiah Telekomunikasi, Elektronika, Dan Listrik Tenaga), 5(1), 1–10. https://doi.org/10.35313/jitel.v5.i1.2025.1-10
Astutik, E. A. P. (2023, October 30). Kisah Desa Legetang, Mengerikan Dusun Terkubur Bersama Warganya dalam Semalam. iNews.Id. https://jateng.inews.id/berita/kisah-desa-legetang-mengerikan-dusun-terkubur-besama-warganya-dalam-semalam
BAKORNAS PB. (2007). Pengenalan karakteristik bencana dan upaya mitigasinya di indonesia. https://bnpb.go.id/storage/app/media/uploads/migration/pubs/470.pdf
bambino. (2014, December 28). Kisah Nyata Sodom-Gomorah di Banjarnegara Desa Yang Hilang,. The Signs. https://bambies.wordpress.com/2014/12/28/desa-yang-hilang-kisah-nyata-sodom-gomorah-di-banjarnegaradesa-yang-hilang-kisah-nyata-sodom-gomorah-di-banjarnegara/
BNPB. (n.d.). Sejarah BNPB. Retrieved September 18, 2025, from https://bnpb.go.id/sejarah-bnpb
BPBD Jateng. (2019). Rencana Kontijensi Gas Beracun Erupsi Gunung Api Dieng Provinsi Jawa Tengah Tahun 2019. https://ppid.jatengprov.go.id/wp-content/uploads/2022/08/2.-Rencana-Kontijensi-Gas-Beracun-Gunung-Api-Dieng-2019.pdf
Casadevall, T. (1986). Image GVP-00665. https://volcano.si.edu/gallery/ShowImage.cfm?photo=GVP-00665
Chen, T.-Y. K., & Capart, H. (2022). Computational morphology of debris and alluvial fans on irregular terrain using the visibility polygon. Computers & Geosciences, 169, 105228. https://doi.org/10.1016/j.cageo.2022.105228
de Haas, T., Densmore, A. L., Stoffel, M., Suwa, H., Imaizumi, F., Ballesteros-Cánovas, J. A., & Wasklewicz, T. (2018). Avulsions and the spatio-temporal evolution of debris-flow fans. Earth-Science Reviews, 177, 53–75. https://doi.org/10.1016/j.earscirev.2017.11.007
Firdaus, H. (2018, June 4). Mengantisipasi Longsor dengan Sipendil. Kompas.Id. https://www.kompas.id/artikel/mengantisipasi-longsor-dengan-sipendil-2
Google. (n.d.). Peta satelit Dusun Legetang dan sekitarnya.
Hartono, U. (2022a, March 26). 2 Orang Ini Selamat Saat Longsor Telan Legetang Dieng dalam Semalam. Detikcom. https://www.detik.com/jateng/berita/d-6002416/2-orang-ini-selamat-saat-longsor-telan-legetang-dieng-dalam-semalam
Hartono, U. (2022b, March 26). Cerita “Tanah Terbang” di Dieng Lenyapkan Dusun Legetang dalam Semalam. Detikcom. https://www.detik.com/jateng/berita/d-6002091/cerita-tanah-terbang-di-dieng-lenyapkan-dusun-legetang-dalam-semalam
Hartono, U. (2022c, March 26). Kisah Legetang, Dusun di Dieng yang Hilang dalam Semalam. Detikcom. https://www.detik.com/jateng/berita/d-6002055/kisah-legetang-dusun-di-dieng-yang-hilang-dalam-semalam
Hidayat, M. (2015). Kondisi Geologi dan Bahaya Gerakan Tanah di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara. . Scribd. https://id.scribd.com/doc/262815263/Geologi-dan-Bencana-Tanah-Longsor-Banjarnegara
Kristanto, A. V. (2014). Tugu Legetang | Dieng Plateau. https://www.flickr.com/photos/adivlado/14808714318/in/photostream/
Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Pasca Bencana (2010). https://bnpb.go.id/storage/app/media/uploads/migration/pubs/26.pdf
Pratama, N. A. (2020). Apakah yang terjadi dengan dukuh Legetang pada tahun 1955? Quora. https://id.quora.com/Apakah-yang-terjadi-dengan-dukuh-Legetang-pada-tahun-1955
Setiawan, H. (2015, March). Kajian Bentuk Mitigasi Bencana Longsor Dan Tingkat Penerimaannya Oleh Masyarakat Lokal. https://media.neliti.com/media/publications/81519-ID-kajian-bentuk-mitigasi-bencana-longsor-d.pdf
Sudibyo, Muh. M. (2014, December 16). Longsor Dahsyat Jemblung dan Takdir Kebumian Banjarnegara. Ekliptika. https://ekliptika.wordpress.com/2014/12/16/longsor-dahsyat-jemblung-dan-takdir-kebumian-banjarnegara/
Susanto, E. (2016, February 19). Kisah Dusun Sodom Gomorah di Banjarnegara yang Dilaknat Tuhan (Bagian-1). SINDOnews.Com. https://daerah.sindonews.com/berita/1086458/29/kisah-dusun-sodom-gomorah-di-banjarnegara-yang-dilaknat-tuhan-bagian-1
Topographisch Bureau. (1903). JAVA. Res. Banjoemas en Kedoe. Blad XVIII.i.
Topographisch Bureau. (1915). JAVA. Res. Pekalongan. Blad XVIII i.
Zidan, M. (2025, August 15). Ahli Geografi Kebencanaan Unnes Ciptakan Alat Deteksi Dini untuk Daerah Rawan Longsor. Suara Merdeka Kendal. https://kendal.suaramerdeka.com/jawa-tengah/103615733664/ahli-geografi-kebencanaan-unnes-ciptakan-alat-deteksi-dini-untuk-daerah-rawan-longsor