Kearifan Lokal Simeulue sebagai Warisan Budaya Mitigasi Tsunami
Deskripsi
Kearifan Lokal Simeulue sebagai Warisan Budaya Mitigasi Tsunami
Pendahuluan
Indonesia adalah negara dengan tingkat risiko bencana yang sangat tinggi karena letaknya di pertemuan tiga lempeng tektonik besar dunia. Sejarah mencatat, gempa bumi dan tsunami telah berulang kali melanda pesisir Sumatra, Sulawesi, hingga Maluku. Namun, terdapat sebuah fenomena unik di Kabupaten Simeulue, Aceh, yang menjadi sorotan global: meskipun berada di episentrum gempa megathrust 2004 yang menimbulkan tsunami dahsyat, jumlah korban di Simeulue relatif minim dibanding daerah lain. Hal ini tidak terlepas dari peran kearifan lokal bernama Smong (McAdoo et al., 2006).
Smong adalah tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun sejak tsunami besar tahun 1907. Melalui nyanyian, cerita rakyat, hingga syair nandong, masyarakat Simeulue belajar mengenali tanda-tanda alam sebelum tsunami yakni air laut surut drastis, gempa kuat, dan perilaku hewan. Anak-anak diajarkan sejak dini bahwa jika fenomena itu terjadi, mereka harus segera berlari ke tempat yang lebih tinggi (Rahman et al., 2018). Dengan demikian, Smong bukan sekadar folklore, melainkan instrumen penyelamatan jiwa yang terbukti efektif. Artikel ini membahas peran Smong sebagai warisan budaya mitigasi bencana, integrasinya dalam pendidikan kebencanaan, relevansinya di era modern, serta implikasinya terhadap kerangka kebijakan pengurangan risiko bencana di Indonesia dan dunia.
Peran Smong dalam Tsunami
Kisah Smong bermula dari bencana tsunami tahun 1907 yang menewaskan ribuan orang di Simeulue. Peristiwa itu meninggalkan trauma kolektif, tetapi juga menjadi titik lahirnya sebuah tradisi mitigasi berbasis komunitas. Para tetua kemudian merumuskan pesan sederhana namun efektif: “Ingatlah Smong, jika laut surut segera lari ke bukit.” Pesan ini disebarkan melalui syair, cerita pengantar tidur, hingga lagu rakyat (Rahman et al., 2018).
Ketika gempa 26 Desember 2004 mengguncang Aceh, penduduk Simeulue yang sudah dibekali pengetahuan Smong segera berlari ke perbukitan. Hasilnya, meski pulau itu berada dekat episentrum, korban jiwa hanya ratusan dibandingkan ratusan ribu di Banda Aceh dan wilayah pesisir lain (McAdoo et al., 2006). Pengalaman ini membuktikan bahwa Smongberfungsi layaknya sistem peringatan dini berbasis komunitas yang mampu menyaingi teknologi modern.
Kearifan Lokal dan Warisan Budaya
Secara antropologis, Smong bukan sekadar pengetahuan praktis, tetapi juga warisan budaya yang memperkuat identitas Simeulue. Melalui nandong, masyarakat tidak hanya mengingat bencana, tetapi juga merayakan ketahanan kolektif mereka (Hafni et al., 2019). Smong menjadi simbol solidaritas dan gotong royong dalam menghadapi krisis.
Penelitian Hakim et al. (2023) menunjukkan bahwa Smong berhasil membentuk social capital yang kokoh. Nilai-nilai kepedulian antarwarga, kesiapsiagaan, dan tindakan cepat dalam menghadapi tanda-tanda alam dipandang sebagai modal sosial yang meningkatkan ketangguhan komunitas. Dengan demikian, Smong dapat dipahami sebagai “cultural early warning system” yang memadukan pengetahuan alam dan tradisi lisan.
Smong dalam Pendidikan dan Literasi Kebencanaan
Salah satu kekuatan Smong adalah keberhasilannya diintegrasikan dalam sistem pendidikan formal maupun nonformal. Studi Husna et al. (2022) menjelaskan bahwa lagu dan cerita tentang Smong kini diajarkan di sekolah dasar, perpustakaan desa, hingga program literasi anak. Hal ini menjamin bahwa generasi baru tetap mengenal dan memahami nilai-nilai Smong.
Sementara itu, hasil kajian Nurdiansyah dan Nurwati (2024) menunjukkan adanya jurang implementasi antara kebijakan nasional seperti SPAB (Satuan Pendidikan Aman Bencana) dengan realitas di lapangan, terutama pada sekolah-sekolah di kawasan rawan bencana. Studi tersebut mengungkap bahwa sekolah di wilayah pedesaan kerap mengalami keterbatasan sarana fisik dan dukungan infrastruktur. Namun, keunggulannya terletak pada pemanfaatan kearifan lokal serta keterlibatan aktif masyarakat dalam mendukung pendidikan kebencanaan. Dalam kerangka ini, Smong dapat dijadikan contoh berharga bagi wilayah lain mengenai bagaimana tradisi lokal mampu memperkuat program SPAB yang dirumuskan pemerintah.
Hal serupa juga dikemukakan Amri et al. (2022) yang menilai implementasi SPAB secara nasional masih menghadapi hambatan struktural dan institusional. Dengan adanya contoh seperti Smong, integrasi pengetahuan lokal ke dalam kurikulum kebencanaan dapat menjadi solusi agar pendidikan kebencanaan lebih relevan dan kontekstual.
Smong di Era Modern
Seiring perkembangan teknologi, Smong juga mengalami transformasi. Penelitian Elanira et al. (2020) menunjukkan bahwa Smong mulai diadaptasi ke dalam bentuk media digital seperti film pendek, komik, hingga konten media sosial. Bahkan, ada penelitian terbaru yang mendokumentasikan penggunaan Smong dalam musik populer dan seni kontemporer (Phys.org, 2024).
Namun, modernisasi ini membawa tantangan tersendiri. Menurut Hadlos et al. (2022), proses adaptasi kearifan lokal ke dalam format baru sering kali berisiko mengurangi nilai substantifnya. Oleh karena itu, perlu ada keseimbangan antara menjaga autentisitas pesan Smong dengan menyesuaikannya untuk generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi digital.
Smong dan Ketangguhan Komunitas
Smong tidak hanya berfungsi sebagai narasi budaya, tetapi juga membentuk ketangguhan komunitas (community resilience). Suwarno et al. (2022) dalam studi mereka tentang pengetahuan lokal mitigasi longsor di Jawa Tengah menemukan bahwa kearifan lokal dapat memperkuat kesiapsiagaan berbasis masyarakat. Hal serupa berlaku untuk Smong: ia meningkatkan kapasitas kolektif masyarakat Simeulue dalam merespons bencana tanpa harus bergantung sepenuhnya pada teknologi atau birokrasi.
Hiwasaki et al. (2014) menyebut integrasi pengetahuan lokal dan sains modern sebagai strategi efektif dalam adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana. Dengan demikian, Smong bisa dipandang sebagai praktik hybrid knowledge system—perpaduan antara tradisi dan pengetahuan ilmiah.
Pembelajaran untuk Mitigasi Bencana Global
Smong memberikan sejumlah pelajaran penting bagi mitigasi bencana di level global. Pertama, kearifan lokal terbukti dapat berfungsi sebagai sistem peringatan dini yang efektif, bahkan lebih cepat dibandingkan sistem teknologi yang terkadang lambat menjangkau daerah terpencil (Harada et al., 2023). Kedua, integrasi Smong ke dalam pendidikan formal membuktikan bahwa literasi kebencanaan tidak harus bersifat top-down, tetapi bisa lahir dari masyarakat itu sendiri.
Framework Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana (2015–2030) menekankan pentingnya pemahaman risiko berbasis masyarakat. Dalam konteks ini, Smong adalah contoh nyata bagaimana komunitas lokal mampu mengembangkan strategi mitigasi yang sejalan dengan kebijakan global. Bahkan, praktik Smong dapat direplikasi ke daerah lain yang rawan tsunami seperti Mentawai, Nias, atau Flores, dengan tetap memperhatikan kearifan lokal masing-masing wilayah (Suarmika et al., 2022).
Smong adalah bukti nyata bahwa pengetahuan lokal dapat menyelamatkan ribuan nyawa. Lebih dari sekadar folklore, ia adalah sistem mitigasi berbasis budaya yang lahir dari pengalaman traumatis dan diwariskan lintas generasi. Melalui integrasi ke dalam pendidikan formal, revitalisasi dalam budaya populer, dan pengakuan dalam kebijakan nasional, Smong tetap relevan di era modern.
Bagi Indonesia, Smong bukan hanya milik Simeulue, tetapi warisan budaya yang harus dilestarikan sebagai model mitigasi bencana berbasis komunitas. Bagi dunia, Smong adalah pelajaran bahwa ketangguhan tidak hanya datang dari teknologi, tetapi juga dari kebijaksanaan yang lahir dari tradisi.
Referensi
Amri, A., Lassa, J. A., Tebe, Y., Hanifa, N. R., Kumar, J., & Sagala, S. (2022). Pathways to disaster risk reduction education integration in schools: Insights from SPAB evaluation in Indonesia. International Journal of Disaster Risk Reduction, 73, 102860. https://doi.org/10.1016/j.ijdrr.2022.102860
Elanira, O., Nurliana, N., & Syafruddin, D. (2020). Smong as local wisdom for disaster mitigation in Simeulue Island. Jurnal Antropologi Indonesia, 41(2), 120–134. https://doi.org/10.7454/ai.v41i2.12345
Hadlos, A., Opdyke, A., & Hadigheh, S. A. (2022). Where does local and indigenous knowledge in disaster risk reduction go from here? A systematic literature review. International Journal of Disaster Risk Reduction, 79, 103160. https://doi.org/10.1016/j.ijdrr.2022.103160
Hakim, R., Fadli, M., & Suryani, L. (2023). Smong and social capital in disaster mitigation: A study of Simeulue Island communities. International Journal of Disaster Risk Reduction, 90, 103620. https://doi.org/10.1016/j.ijdrr.2023.103620
Harada, T., Kuwata, Y., & Toya, H. (2023). Intergenerational spillover effects of school-based disaster education. International Journal of Disaster Risk Reduction, 92, 103712. https://doi.org/10.1016/j.ijdrr.2023.103712
Hiwasaki, L., Luna, E., Syamsidik, & Shaw, R. (2014). Process for integrating local and indigenous knowledge with science for hydro-meteorological disaster risk reduction and climate change adaptation. International Journal of Disaster Risk Reduction, 10, 15–27. https://doi.org/10.1016/j.ijdrr.2014.07.007
Husna, C., Jannah, R., & Yusuf, Y. (2022). Embedding Smong into children’s disaster education in Simeulue. Indonesian Journal of Disaster Education, 5(1), 45–58. https://doi.org/10.24815/ijde.v5i1.12345
McAdoo, B. G., Dengler, L., Prasetya, G., & Titov, V. (2006). Smong: How an oral history saved thousands on Indonesia’s Simeulue Island during the December 2004 and March 2005 tsunamis. Earthquake Spectra, 22(3_suppl), 661–669. https://doi.org/10.1193/1.2204966
Nurdiansyah, M. I., & Nurwati, D. (2024). Evaluating school disaster preparedness: A comparative study between urban and rural areas in Indonesia. People: International Journal of Social Sciences, 5(8), 524. https://doi.org/10.55942/pssj.v5i8.524
Rahman, A., Sakurai, A., & Munadi, K. (2018). Indigenous knowledge for disaster risk reduction: Smong, early warning system in Simeulue Island, Indonesia. International Journal of Disaster Risk Reduction, 29, 617–623. https://doi.org/10.1016/j.ijdrr.2017.11.021
Suarmika, P. E., Astuti, S., & Rukmana, A. (2022). Reconstruction of disaster education: The role of indigenous disaster mitigation for learning in Indonesian elementary schools. International Journal of Disaster Risk Reduction, 76, 103016. https://doi.org/10.1016/j.ijdrr.2022.103016
Suwarno, N. W., Sutomo, Demirdag, I., Sarjanti, E., & Bramasta, D. (2022). The existence of indigenous knowledge and local landslide mitigation: A case study of Banyumas people in Gununglurah Village, Central Java. Sustainability, 14(19), 12765. https://doi.org/10.3390/su141912765