...

PERAN TRADISI LOKAL MASYARAKAT DALAM MENCEGAH TIMBULNYA KORBAN JIWA AKIBAT TSUNAMI

29 09 2021 Lomba Kategori Umum Anis Kurniasih 0 Likes Bagikan :

Deskripsi

Bangsa Indonesia sangat akrab dengan bencana geologi. Gempa bumi, banjir, tanah longsor, letusan gunung berapi, dan tsunami, semuanya pernah menimpa berbagai daerah di negara kepulauan ini. Di antara sekian banyak bencana geologi yang pernah terjadi, tsunami tercatat sebagai bencana yang menimbulkan korban jiwa dalam jumlah tinggi. Dalam Katalog Tsunami Indonesia Tahun 416 - 2018 (BMKG, 2019) terhitung telah terjadi setidaknya 10 tsunami yang mengakibatkan korban jiwa di atas 100 orang. Bencana tsunami yang dilaporkan memakan korban jiwa terbanyak adalah tsunami pada akhir tahun 2004 yang melanda Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Gempa berkekuatan 9.0 Skala Richter memicu tsunami hingga puluhan meter di pesisir barat Aceh dan menimbulkan jumlah korban tewas mencapai 166.080 orang dan 6.245 orang lainnya hilang. Tingginya angka kematian yang diakibatkan bencana tsunami membawa duka mendalam tak hanya bagi masyarakat yang tertimpa bencana akan tetapi turut menyayat hati seluruh rakyat Indonesia.

Selepas kejadian tsunami Aceh, pemerintah terus meningkatkan upaya penanggulangan bencana, khususnya tsunami, dengan membentuk badan penanggulangan di tingkat nasional dan daerah. Sistem peringatan dini tsunami yang melibatkan campur tangan pihak asing dengan teknologi terbarunya pun terus dikembangkan guna mencegah timbulnya korban jiwa yang tinggi. Secara konseptual, InaTEWS, sistem peringatan dini tsunami di Indonesia, memiliki sistem yang komprehensif dan dapat diandalkan. Akan tetapi efektivitasnya dalam mencegah timbulnya korban jiwa dipertanyakan setelah terjadi tsunami di Palu tahun 2018 yang memakan setidaknya 2037 korban jiwa (BMKG, 2019). Dalam pernyataan resminya, BMKG sebagai penyelenggara InaTEWS menerangkan bahwa pada kejadian tsunami Palu, seluruh petunjuk teknis telah diikuti dan tidak ada kesalahan teknis maupun sumberdaya manusia dalam sistem peringatan dini. BMKG juga menambahkan bahwa respon masyarakat terhadap peringatan dini yang dikeluarkan sangat menentukan dalam proses penyelamatan diri, dan hal ini di luar kewenangan BMKG.

Bercermin dari hal tersebut, semakin jelas bahwa upaya penanggulangan bencana dan pencegahan terhadap dampak timbulnya korban jiwa bencana tidak hanya mengharuskan sistem peringatan yang komprehensif tapi juga melibatkan peran masyarakat. Dalam mencegah timbulnya korban jiwa yang tinggi akibat tsunami, respon masyarakat menjadi faktor penentu ketika sistem peringatan dini sudah dijalankan dengan baik. Masyarakat yang menempati daerah dengan potensi tsunami diharuskan memiliki pengetahuan yang baik tentang tsunami dan dampak yang ditimbulkan. Tidak hanya itu, prosedur penyelamatan yang tepat ketika tsunami mendekat juga harus dikuasai di luar kepala. Sehingga ketika peringatan diberikan, secara otomatis dan tanpa dikomando mereka tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan diri.  

Budaya dan tradisi lokal masyarakat Indonesia sangatlah beragam. Tradisi yang berkembang di suatu daerah terbentuk dari pola adaptasi dan penyesuaian diri terhadap lingkungan di sekitar tempat tinggal. Bencana geologi yang sudah terjadi bahkan sebelum bangsa Indonesia mendiami wilayah kepulauan Indonesia, pastinya turut memberi andil dalam terbentuknya tradisi di suatu daerah, termasuk di antaranya tsunami. Istilah tsunami sendiri baru akrab dikenal setelah tsunami Aceh tahun 2004, namun sebenarnya kelompok masyarakat yang tinggal di daerah rawan tsunami telah mengenal peristiwa ini meskipun dengan istilah yang berbeda. Contohnya, masyarakat Pulau Simeulue mengenal tsunami dengan istilah “Smong”; di Donggala masyarakat menyebut tsunami dengan sebutan “Lembotalu” atau “Bombatalu”; dan dalam Bahasa Aceh tsunami lebih dikenal sebagai “Ie beuna”. Kemunculan istilah-istilah tersebut di berbagai daerah di Indonesia merupakan suatu produk tradisi yang muncul akibat dampak fenomena alam terhadap kehidupan masyarakat pada saat itu. Keberadaan istilah ini juga membuktikan bahwa masyarakat daerah telah mengenal peristiwa tsunami di masa lampau.

Gambaran bagaimana fenomena alam berpengaruh terhadap munculnya tradisi tertentu di kalangan masyarakat dapat diamati di daerah Simeulue. Daerah yang termasuk dalam Provinsi Aceh ini, merupakan sebuah pulau yang berada kurang lebih 150 km dari lepas pantai barat Aceh. Letaknya yang berada dalam jalur rawan gempa bumi dan tsunami menjadikan masyarakat setempat terdidik dan terlatih mengenali tanda-tanda terjadinya tsunami dan mengetahui dengan baik prosedur penyelamatan diri. Masyarakat Simeulue mengenal tsunami dengan istilah smong yang dipahami sebagai sebuah fenomena alam berupa gelombang besar dari laut dan terjadi setelah gempa besar. Kisah tentang smong telah disampaikan secara turun temurun melalui cerita daerah, lagu pengantar tidur, dan senandung. Lirik dan isi dari cerita dan lagu tentang smong menggambarkan secara dramatis detik-detik terjadinya smong. Tidak hanya itu, pertanda munculnya smong dan petunjuk tentang tindakan yang harus dilakukan saat terjadi smong juga dirangkum dan disusun menjadi syair yang dapat diterima oleh semua kalangan. Oleh karenanya, saat terjadi tsunami tahun 2004 dan 2005, jumlah korban jiwa di Simeulue jauh lebih kecil daripada daerah di sekitarnya. Hal ini membuktikan bahwa pemahaman smong di kalangan masyarakat Simeulue dan bagaimana cerita itu disampaikan dari generasi ke generasi menjadi kunci keberhasilan smong sebagai sistem peringatan dini lokal di Simeulue. Peristiwa ini telah membawa masyarakat Simeulue dikenal dunia dan mendapat penghargaan “United Nations Sasakawa Award for Disaster Reduction” pada tahun 2005.

Dari keberhasilan masyarakat Simeulue menjadikan tradisi sebagai sistem peringatan dini tsunami di daerahnya, kita dapat mengambil pelajaran tentang bagaimana sikap kewaspadaan diri terhadap bencana telah menjadi bagian kehidupan masyarakat. Sikap kewaspadaan ini menjadi dasar setiap individu untuk dapat menilai situasi secara cepat dan mengambil tindakan penyelamatan yang tepat jika bencana terjadi. Penanaman nilai dan pengetahuan tentang bencana dapat dilakukan melalui berbagai media yang erat dengan kehidupan, misalnya melalui seni pertunjukan dan seni musik yang dapat dikemas secara menarik dan diterima semua kalangan. Dengan demikian, masyarakat menjadikan pemahaman tentang bencana sebagai sebuah memori yang dapat meningkatkan kesiapsiagaan diri terhadap bencana.

Referensi:

BMKG, 2019. Katalog Tsunami Indonesia tahun 416 - 2018. Pusat Gempabumi dan Tsunami Kedeputian Bidang Geofisika BMKG.

Kurniasih, A., Marin, J., dan Setyawan, R., 2020. Belajar dari Simeulue: Memahami Sistem Peringatan Dini Tsunami di Indonesia, Jurnal Geosains dan Teknologi Vol. 3, 21-30.

UNDRR and UNESCO-IOC, 2019. “Limitations and Challenges of Early Warning Systems: A Case Study from the 2018 Palu-Donggala Tsunami”. United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UnDRR), Regional Office for Asia and the Pacific, and the Intergovernmental Oceanographic Comission of United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization.

Comment (0)