Menggali Jejak Sejarah Bencana di Yogyakarta: Integrasi Ilmu Titen dan Pendidikan Kebencanaan untuk Ketangguhan Bangsa
Deskripsi
Menggali Jejak Sejarah Bencana di Yogyakarta: Integrasi Ilmu Titen dan Pendidikan Kebencanaan untuk Ketangguhan Bangsa
Pendahuluan
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia. Posisi geografis di antara tiga lempeng tektonik besar, kondisi vulkanik aktif, serta iklim tropis membuat bencana seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, dan tsunami kerap terjadi (Amri et al., 2022). Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) adalah contoh nyata daerah dengan kerentanan tinggi, khususnya terhadap gempa bumi dan erupsi vulkanik. Dua peristiwa besar yang masih membekas dalam ingatan masyarakat adalah Gempa Yogyakarta tahun 2006 dan Erupsi Merapi tahun 2010. Kedua bencana tersebut menimbulkan korban jiwa, kerugian materiil, dan trauma psikologis yang luas, sekaligus membuka kesadaran akan pentingnya pendidikan kebencanaan sebagai investasi sosial jangka panjang (Wardhani et al., 2024).
Selain itu, DIY juga menyimpan kekayaan pengetahuan lokal, salah satunya adalah ilmu titen yakni sebuah kearifan lokal berbasis pengamatan gejala alam yang diwariskan lintas generasi. Integrasi ilmu titen dengan pendekatan ilmiah modern membuka peluang besar bagi peningkatan ketangguhan masyarakat. Di sisi lain, program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang diatur melalui Permendikbud No. 33 Tahun 2019 hadir sebagai strategi formal pemerintah untuk memperkuat kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana. Tulisan ini membahas sejarah bencana di DIY, peran SPAB, kontribusi ilmu titen, serta pelajaran yang dapat dipetik untuk membangun ketangguhan bangsa.
Sejarah Bencana di Yogyakarta
Gempa bumi Yogyakarta pada 27 Mei 2006 menjadi salah satu bencana paling mematikan di Indonesia pasca-reformasi. Dengan magnitudo 6,3 SR, gempa tersebut menewaskan lebih dari 5.700 jiwa, melukai sekitar 150.000 orang, dan merusak hampir 350.000 rumah (Rofiah et al., 2021). Banyak korban jatuh akibat runtuhnya bangunan yang tidak tahan gempa, menunjukkan lemahnya kesiapsiagaan struktural dan kurangnya penerapan standar bangunan tahan bencana.
Empat tahun kemudian, pada Oktober–November 2010, Gunung Merapi mengalami erupsi eksplosif. Awan panas guguran melanda wilayah Sleman dan sekitarnya, menewaskan lebih dari 300 orang, mengungsikan hampir 400.000 jiwa, serta melumpuhkan aktivitas sosial ekonomi di lereng Merapi (Harada et al., 2023). Peristiwa ini menjadi titik balik dalam pengelolaan kebencanaan di Yogyakarta, karena masyarakat menyadari perlunya sistem peringatan dini, jalur evakuasi yang jelas, serta kapasitas kelembagaan yang lebih kuat.
Dua bencana tersebut memperlihatkan bahwa risiko tidak hanya berasal dari ancaman alamiah, tetapi juga dari kerentanan sosial, ekonomi, dan infrastruktur. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa bencana merupakan hasil interaksi antara bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability), dan kapasitas (capacity) masyarakat (Amri, 2017).
Upaya Penanggulangan Bencana
Pasca-bencana, upaya mitigasi struktural dan non-struktural mulai digencarkan. Pemerintah membangun hunian tetap (huntap), memperkuat infrastruktur, dan menyediakan jalur evakuasi. Dari sisi non-struktural, pendidikan kebencanaan di sekolah menjadi prioritas, terutama karena anak-anak termasuk kelompok rentan (Wardhani et al., 2024).
Program SPAB muncul sebagai wujud komitmen pemerintah dalam menyiapkan sekolah yang tangguh bencana. Program ini bertumpu pada tiga pilar: (1) fasilitas sekolah yang aman, (2) manajemen bencana di sekolah, dan (3) pendidikan pengurangan risiko bencana (Amri et al., 2022). Penelitian di SD Negeri Umbulharjo yang dilakukan oleh Ruslanjari, Nurdiansyah, Fajarian, dan Afandi (2024) menunjukkan bahwa penguatan pilar ketiga, yaitu integrasi pendidikan kebencanaan, mampu meningkatkan pemahaman siswa dan guru secara signifikan. Rata-rata nilai pemahaman guru meningkat dari 60,3 menjadi 90,5 setelah pelatihan, sementara siswa meningkat dari 78,4 menjadi 88,4. Hasil ini menegaskan bahwa pendidikan formal dapat menjadi sarana efektif dalam menanamkan budaya sadar bencana sejak dini.
Selain itu, penelitian Nurdiansyah dan Nurwati (2024) membandingkan kesiapsiagaan sekolah di wilayah perkotaan dan pedesaan. Hasilnya menunjukkan adanya kesenjangan signifikan: sekolah di perkotaan lebih unggul dalam akses infrastruktur dan teknologi, sementara sekolah pedesaan justru lebih kuat dalam partisipasi komunitas dan penerapan kearifan lokal. Temuan ini relevan dengan konteks Yogyakarta, di mana masyarakat lereng Merapi masih mengandalkan pengetahuan lokal seperti ilmu titen untuk mengenali tanda-tanda erupsi.
Integrasi Ilmu Titen dan SPAB
Ilmu titen merupakan praktik masyarakat Jawa yang berfokus pada pengamatan berulang terhadap gejala alam, seperti perilaku hewan, perubahan suhu udara, atau suara letusan kecil di gunung. Pengetahuan ini diwariskan secara turun-temurun dan terbukti berperan dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat di sekitar Merapi (Hiwasaki et al., 2014).
Integrasi ilmu titen dengan program SPAB penting karena dua alasan. Pertama, pengetahuan lokal meningkatkan relevansi pendidikan bencana dengan konteks kehidupan sehari-hari siswa. Kedua, integrasi ini memperkuat rasa memiliki dan keberlanjutan program, karena masyarakat melihat kearifan lokal mereka dihargai (Hadlos et al., 2022).
Studi oleh Firdaus et al. (2023) menunjukkan bahwa penggabungan pengetahuan lokal dan sains dapat menciptakan kurikulum kebencanaan yang lebih adaptif. Demikian pula, Suarmika et al. (2022) menekankan bahwa pendidikan bencana berbasis kearifan lokal lebih mudah dipahami anak-anak di sekolah dasar. Kasus di Banyumas, Jawa Tengah, misalnya, memperlihatkan bahwa masyarakat memiliki strategi mitigasi longsor berbasis tradisi yang efektif (Suwarno et al., 2022). Temuan-temuan ini mendukung urgensi integrasi ilmu titen dalam SPAB.
Lesson Learned: Dari Lokal ke Nasional
Pengalaman Yogyakarta menunjukkan bahwa pendidikan kebencanaan tidak dapat bersifat satu arah, melainkan harus bersifat kolaboratif dan kontekstual. Evaluasi program SPAB secara nasional menunjukkan masih adanya tantangan berupa keterbatasan anggaran, kapasitas guru, dan kesinambungan program (Amri et al., 2022). Namun, dengan melibatkan kearifan lokal, hambatan ini dapat diminimalisasi.
Selain itu, penelitian Harada et al. (2023) menunjukkan adanya efek lintas generasi dari pendidikan kebencanaan di sekolah: siswa yang belajar tentang mitigasi bencana mampu menularkan pengetahuan tersebut kepada keluarga dan komunitas. Artinya, SPAB tidak hanya berdampak pada siswa, tetapi juga memperluas kapasitas adaptif masyarakat.
Dalam konteks ini, penelitian oleh Ruslanjari et al. (2024) di Umbulharjo dan Nurdiansyah & Nurwati (2024) pada sekolah perkotaan dan pedesaan memperkuat gagasan bahwa SPAB perlu dikembangkan secara kontekstual. Sekolah di wilayah rawan Merapi, misalnya, dapat memadukan kurikulum SPAB dengan ilmu titen, sementara sekolah perkotaan dapat menekankan pemanfaatan teknologi.
Penutup
Sejarah bencana di Yogyakarta melalui gempa 2006 dan erupsi Merapi 2010 mengajarkan bahwa membangun ketangguhan tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan struktural, tetapi harus melibatkan pendidikan, komunitas, dan kearifan lokal. Program SPAB menjadi instrumen penting dalam mengarusutamakan pendidikan kebencanaan, sementara ilmu titen menawarkan kearifan lokal yang dapat memperkuat efektivitasnya. Integrasi keduanya bukan hanya memperkaya kurikulum, tetapi juga memperkuat identitas masyarakat dalam menghadapi risiko.
Dengan memadukan pengalaman empiris, kebijakan nasional, dan pengetahuan lokal, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun generasi yang lebih tangguh menghadapi bencana. Yogyakarta, sebagai laboratorium sosial kebencanaan, dapat menjadi contoh bagaimana sejarah dan kearifan lokal dapat menjadi fondasi bagi kebijakan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Daftar Pustaka
Amri, A. (2017). Disaster risk reduction education in Indonesia: Challenges and recommendations for scaling up. Natural Hazards and Earth System Sciences.
Amri, A., Lassa, J. A., Tebe, Y., Hanifa, N. R., Kumar, J., & Sagala, S. (2022). Pathways to disaster risk reduction education integration in schools: Insights from SPAB evaluation in Indonesia. International Journal of Disaster Risk Reduction, 73, 102860. https://doi.org/10.1016/j.ijdrr.2022.102860
Firdaus, A., et al. (2023). Integration of knowledge and local wisdom for disaster risk reduction. International Journal of Disaster Risk Reduction.
Hadlos, A., Opdyke, A., & Hadigheh, S. A. (2022). Where does local and indigenous knowledge in disaster risk reduction go from here? A systematic literature review. International Journal of Disaster Risk Reduction, 79, 103160. https://doi.org/10.1016/j.ijdrr.2022.103160
Harada, T., et al. (2023). Intergenerational spillover effects of school-based disaster education. International Journal of Disaster Risk Reduction.
Hiwasaki, L., Luna, E., Syamsidik, & Shaw, R. (2014). Process for integrating local and indigenous knowledge with science for hydro-meteorological DRR and climate change adaptation. International Journal of Disaster Risk Reduction, 10, 15–27. https://doi.org/10.1016/j.ijdrr.2014.07.007
Nurdiansyah, M. I., & Nurwati, D. (2024). Evaluating school disaster preparedness: A comparative study between urban and rural areas in Indonesia. Public Sector and Social Journal, 5(8). https://doi.org/10.55942/pssj.v5i8.524
Rofiah, N. H., et al. (2021). Key elements of disaster mitigation education in inclusive primary schools in Yogyakarta. International Journal of Disaster Risk Reduction.
Ruslanjari, D., Nurdiansyah, M. I., Fajarian, N. A., & Afandi, A. (2024). Penguatan Pilar Ke-Tiga Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di SD Negeri Umbulharjo. Jurnal KKN Kuliah Kerja Nyata Pengabdian Masyarakat, 1(4), 20–32. https://doi.org/10.70234/nacsw162
Suarmika, P. E., et al. (2022). Reconstruction of disaster education: The role of indigenous disaster mitigation for learning in Indonesian elementary schools. International Journal of Disaster Risk Reduction.https://doi.org/10.1016/j.ijdrr.2022.102874
Suwarno, N. W., Sutomo, Demirdag, I., Sarjanti, E., & Bramasta, D. (2022). The existence of indigenous knowledge and local landslide mitigation: A case study of Banyumas people in Gununglurah Village, Central Java. Sustainability, 14(19), 12765. https://doi.org/10.3390/su141912765
Wardhani, P. I., et al. (2024). Evaluation of Disaster Safe Education Unit (SPAB) programme in Merapi volcano area (Sleman, Yogyakarta): Implementation study. International Journal of Disaster Risk Reduction. https://hdl.handle.net/10520/ejc-jemba_v16_n1_a1769