Ringkasan
Deskripsi
Sumatra Barat daerah rawan gempa dan tsunami. Secara historis, ditemukan beberapa catatan dan kisah tentang gempa di wilayah Minangkabau ini. Gempa yang terjadi berulang kali berdampak luas terhadap masyarakat. Sebut saja gempa Sumatra 1797, kemudian Gempa Padang 26 Agustus 1835. Gempa 5 Juli 1904, gempa 28 Juni 1926 di Padang Panjang. 8 Maret 1977 gempa di Pasaman, berlanjut 7 Oktober 1995 gempa 7 SR. Gempa di Kabupaten Tanah Datar 16 Februari 2004. Dan gempa besar Padang 30 September 2009 dengan kekuatan 7,6 SR. (https://infopublik.id/). Menurut kajian ilmu seismogoli hal ini dipengaruhi oleh letak Sumatra Barat yang berada di jalur lempeng tektonik India-Australia dan Eurasia serta patahan sesar Semangko (https://www.detik.com/). Wilayah yang masuk dalam rangkaian cincin api pasifik ini tak lepas dari berbagai aktivitas gempa bumi dan letusan gunung berapi.
Kita coba tampilkan beberapa catatan tentang gempa yang pernah membuat Ranah Minang berduka. Gempa Sumatra 1797 merupakan gempa bumi pertama yang tercatat dari serangkaian gempa bumi besar yang terjadi pada bagian segmen Sumatra. Gempa ini memicu gelombang tsunami yang menyebabkan kerusakan parah di Kota Padang. Kapal-kapal Inggris seberat 150-200 ton yang sedang menepi di Padang, terdorong sejauh 1 km ke pedalaman Batang Arau. Gempa bumi ini merusak banyak rumah. Gelombang tsunami menghantam pantai Kota Padang. Perahu-perahu kecil hanyut hingga 1,8 km ke hulu sungai. Di daerah Air Manis, wilayahnya digenangi air dan ditemukan mayat bergelimpangan. Getaran gempa di Padang berlangsung selama satu menit, gempa ini adalah gempa terkuat yang tercatat dalam memori orang Padang. Tinggi gelombang tsunami di Padang dan Air Manis diperkirakan 5–10 m. (https://id.wikipedia.org/)
Senin, 28 Juni 1926 terjadi lagi gempa bumi yang cukup besar di Sumatra Barat dengan titik pusat Padang Panjang. Gempa itu meluluhlantakkan Padang Panjang dan daerah-daerah disekitarnya. Sebagaimana ditulis koran Nieuwe Haarlemsche terbitan 30 Juni 1926 "Gempa di Sumatra: Padang Panjang Hampir Hancur". Gempa bumi yang menimbulkan tsunami Danau Singkarak serta longsor diberbagai wilayah, menghancurkan banyak bangunan penting sekaligus memakan banyak korban. Sekitar 354 orang diketahui meninggal dalam bencana tersebut dan ribuan korban luka-luka. Menurut laporan koran Deli, stasiun, kantor pos, sekolah, apotek, dan sebagian besar kamp Tionghoa telah runtuh. Semua bangunan militer di Padang Panjang rusak bahkan Rumah Sakit militer ikut runtuh. Tak hanya bangunan, gempa tersebut juga merusak jalur transportasi dan komunikasi. Jembatan kereta api di Kandang Ampat, Lembah Anai dan Padang Luar, begitupun dengan tiang-tiang telegraf semua rusak.

Foto 1
Dampak Gempa Bumi 1926 di Padang Panjang
https://id.wikipedia.org/wiki/
COLLECTIE_TROPENMUSEUM
Gempa ini diperkirakan berkekuatan 6,4 SR menghancurkan beberapa daerah lainnya seperti Padang, Fort de Kock, Singkarak, Cupak, Lembah Anai, Solok, Alahan Panjang, Pariaman, Maninjau, hingga ke Payakumbuh. Gempa ini agaknya memberikan efek trauma cukup besar bagi masyarakat, sebab hingga bulan Maret tahun 1927 sebagian besar masyarakat masih tetap berada di tenda masing-masing, meskipun pemerintah telah merekonstruksi rumah-rumah masyarakat dan bangunan-bangunan penting lainnya pada tahun 1926 dan 1927 dengan anggaran dana sebesar f 126.500. (https://sejarah.dibi.bnpb.go.id/).

Foto 2
Kerusakan Masjid Akibat Gempa Bumi Padang Panjang 1926
https://id.wikipedia.org/wiki/
COLLECTIE_TROPENMUSEUM
Tak luput dari para pewarta di zaman itu, mereka juga menampilkan berbagai tulisan tentang peristiwa gempa. “Gempa dahsyat mengguncang Padang Panjang dan sekitarnya. Gempa yang terjadi pada Senin pukul 10.10 dan pukul 13.00. Kerusakan gempa 1926 terekam di beberapa titik, di antaranya Danau Singkarak, Danau Maninjau, Sawahlunto, dan Alahan Panjang” begitu tertulis di surat kabar Soeara Kota Gedang tanggal 7 Juli 1926. Sementara itu Bataviaasch Nieuwsblad mengisahkan kejadian gempa, sehari setelahnya. Pada 29 Juni 1926 kembali diguncang gempa pada pukul 03.00 dinihari. Orang-orang panik, dan berhamburan ke luar rumah. Penguasa Sumatra Westkust, Residen Whitlaw yang baru kembali ke Padang pada 30 Juni 1926 memberitahu pers, bahwa jumlah korban tewas di Padang Panjang sulit diperkirakan, hal ini terpampang di Koran Bataviaasch Nieuwsblad, 5 Juli 1926. (https://republika.id/)
Tragedi gempa Sumatra Barat terjadi lagi, gempa 7,6 SR tanggal 30 September 2009 pukul 17:16 WIB meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Sumatra Barat. Gempa ini menyebabkan kerusakan parah di beberapa wilayah seperti Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Padang Panjang Kabupaten Agam, Kota Solok, dan Kabupaten Pasaman Barat. Menurut data resmi tercatat sebanyak 1.117 orang tewas akibat gempa ini. Luka berat 1.214 orang, luka ringan 1.688 orang, ratusan ribu rumah rusak. Menurut catatan ahli gempa, wilayah Sumatra Barat memiliki siklus 200 tahunan gempa besar yang pada awal abad ke-XXI telah memasuki masa berulangnya siklus. (https://id.wikipedia.org/)
Melihat dari keberulangan kejadian gempa, dampak yang begitu nyata dan menguras air mata maka sudah seharusnya semua lapisan masyarakat, pemerintah dan pihak swasta bersatu untuk saling memahami pentingnya informasi dan ilmu tentang mitigasi bencana. Mitigasi merupakan upaya yang bertujuan untuk menurunkan risiko dan dampak bencana. Dengan mengetahui dan memahami mitigasi bencana ini kita berharap dapat mengurangi resiko bencana yang lebih luas dan masif, tentu tetap dengan berserah diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan berharap pada perlindungan Nya saja. Sebab tiada daya dan upaya yang bisa kita lakukan kecuali atas izin Allah Tuhan Semesta Alam.
Usaha penanganan bencana pada dasarnya dapat dibagi empat kegiatan yaitu : sebelum bencana terjadi, saat bencana terjadi, tepat setelah bencana terjadi. Dan kegiatan pasca bencana meliputi pemulihan, penyembuhan, perbaikan, dan rehabilitasi. (https://bpbd.bogorkab.go.id). Keempat tahapan ini harus dipahami oleh semua orang demi mengurangi resiko terdampak bencana.
Gempa bumi dipahami sebagai getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari bawah permukaan secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang seismik. Berdasarkan penyebab terjadinya, gempa bumi dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :
1. Gempa Vulkanik, yaitu gempa bumi yang disebabkan oleh letusan gunung berapi.
2. Gempa Tektonik, yaitu gempa bumi yang terjadi karena pergeseran lapisan kulit bumi akibat lepasnya energi di zone penunjaman.
3. Gempa runtuhan atau terban, yaitu gempa bumi yang disebabkan oleh tanah longsor, gua-gua yang runtuh, dan sejenisnya. (https://bpbd.bandaacehkota.go.id/)
Langkah mitigasi gempa bumi dibedakan menjadi tiga, yakni langkah sebelum gempa, langkah saat terjadi gempa, dan langkah pasca gempa. Langkah mitigasi yang bisa dilakukan sebelum gempa sebagai berikut:
- Mendirikan bangunan sesuai aturan baku (tahan gempa).
- Kenali lokasi bangunan tempat tinggal.
- Tempatkan perabotan pada tempat yang proporsional.
- Siapkan peralatan seperti senter, P3K, makanan instan, dan lain-lain.
- Periksa penggunaan listrik dan gas.
- Catat nomor telepon penting.
- Kenali jalur evakuasi.
- Ikuti kegiatan simulasi mitigasi bencana gempa.
- Langkah mitigasi ketika terjadi gempa adalah berikut ini :
- Jika saat terjadi gempa bumi anda sedang berada di dalam bangunan, seperti rumah, sekolah ataupun bangunan bertingkat:
- Guncangan akan terasa beberapa saat, upayakan keselamatan diri dengan cara berlindung di bawah meja untuk menghindari benda jatuh atau pecahan kaca.
- Lindungi kepala dengan bantal atau helm. Bila sudah terasa aman, segera lari ke luar rumah.
- Jika anda sedang memasak, segera matikan kompor serta mencabut dan mematikan semua peralatan yang menggunakan listrik untuk mencegah terjadinya kebakaran.
- Bila keluar rumah, perhatikan kemungkinan pecahan kaca, genteng atau material lain.
- Jangan berdiri di dekat tiang, pohon atau sumber listrik atau gedung yang mungkin roboh.
- Jangan gunakan lift, tapi gunakalah tangga darurat untuk evakuasi keluar gedung.
- Kenali bagian bangunan yang memiliki struktur kuat, seperti pada sudut bangunan.
- Apabila anda berada di dalam bangunan yang memiliki petugas keamanan maka ikuti instruksi evakuasi.
- Jika anda berada di dalam mobil :
- Saat terjadi gempa bumi dengan kekuatan besar, anda akan kehilangan kontrol terhadap mobil.
- Jauhi persimpangan, berhentilah di kiri bahu jalan.
- Ikuti instruksi dari petugas berwenang dengan memperhatikan lingkungan sekitar atau melalui alat komunikasi lainnya seperti radio atau gawai.
- Apabila mendengar peringatan dini tsunami, segera lakukan evakuasi menuju ke tempat tinggi, seperti bukit dan bangunan tinggi.
- Langkah mitigasi yang dilakukan setelah terjadi gempa bumi adalah :
1.Tetap waspada terhadap gempa susulan.
2. Ketika berada di dalam bangunan, evakuasi diri anda setelah gempa bumi berhenti. Dengan tetap memperhatikan benda-benda yang bisa membahayakan.
3. Periksa keberadaan api dan potensi terjadinya bencana kebakaran.
4. Berdirilah di tempat terbuka jauh dari gedung dan instalasi listrik dan air. Apabila di luar bangunan tetap perhatikan keadaan sekeliling, hindari daerah yang rawan. (https://bpbd.bogorkab.go.id, https://bpbd.jogjaprov.go.id)
Mengingat pentingnya pemahaman mitigasi ini untuk semua masyarakat maka tak mungkin bila kita hanya bersandar pada pemerintah dan instansi terkait seperti BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Dalam penyebaran keilmuan ini perlu peran aktif semua pihak. Sudah seharusnya semua lini bahu membahu menjadi katalisator demi percepatan dan perubahan. Pemerintah dan jaringannya menjadi trigger melalui kebijakan, aturan dan sarana. Media massa menjadi penyambung informasi hingga sampai pada masyarakat. Dunia swasta menyiapkan dan membantu berbagai alat dan kebutuhan. Serta yang penting juga, masyarat dengan penuh kesadaran untuk mempelajari, memahami, dan menjaga semua rambu-rambu mitigasi dan alat-alat kebencanaan. Jangan ada lagi kita mendengar alat pendeteksi gempa, tsunami hilang maupun rusak karena sebagian alat digondol maling. Kita berharap budaya sadar bencana hadir dalam setiap diri masyarakat Indonesia. Aaamin.
#BNPBIndonesia
#PortalLiterasiSejarahBencana
#SiapUntukSelamat
#BudayaSadarBencana
#RoadToBulanPRB
#PRB2025
#TangguhRek
Referesi :
- https://bpbd.bandaacehkota.go.id/2018/08/05/pengertian-gempa-bumi-jenis-jenis-penyebab-akibat-dan-cara-menghadapi-gempa-bumi/
- https://bpbd.bogorkab.go.id/berita/Seputar-OPD/mitigasi-adalah-upaya-mengurangi-risiko-berikut-langkah-langkah-dan-contohnya
- https://bpbd.jogjaprov.go.id/berita/mitigasi-bencana-gempa-bumi
- https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_Sumatra_1797
- https://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_Sumatra_Barat_2009
- https://infopublik.id/kategori/bencana/609841/index.html
- https://republika.id/posts/53697/satu-abad-gampo-tujuah-hari-padang-panjang
- https://sejarah.dibi.bnpb.go.id/artikel/gempa-padang-panjang-28-juni-1926-dalam-surat-kabar-kolonial/65
- https://www.detik.com/sumut/berita/d-6690624/catatan-sejarah-gempa-yang-terjadi-di-sumatera-barat-sejak-1835