MENGGALI JEJAK SEJARAH BENCANA DI KABUPATEN SUKABUMI: ANTARA ALAM, KEARIFAN LOKAL, DAN KETANGGUHAN
Deskripsi
MENGGALI JEJAK SEJARAH BENCANA DI KABUPATEN SUKABUMI: ANTARA ALAM, KEARIFAN LOKAL, DAN KETANGGUHAN
Yulia Enshanty, M.Pd
SMAN 1 Warung Kiara, Kabupaten Sukabumi
Abstrak
Artikel ini mengulas rekam jejak bencana alam yang terjadi di Kabupaten Sukabumi dan peran kearifan lokal dalam memperkuat ketangguhan masyarakat. Kondisi geologi, topografi, dan iklim membuat wilayah ini rawan bencana gempa, tsunami, longsor, banjir, serta pergerakan tanah. Sejumlah peristiwa besar seperti tsunami 2006, longsor Cisolok 2018, banjir bandang Sungai Citarik 2020, pergerakan tanah di Nyalindung, hingga banjir dan longsor 2024, menunjukkan pola bencana berulang dan menuntut strategi penanganan berkelanjutan. Artikel ini menyoroti bagaimana masyarakat merespons kejadina bencana, sejauh mana kearifan lokal berperan dalam mitigasi, dan bagaimana tradisi dapat dipadukan dengan ilmu pengetahuan modern yang berkembang saat ini. Penelitian dilakukan melalui studi literatur dengan pendekatan deskriptif-kualitatif berdasarkan data BNPB, dokumen pemerintah, pemberitaan daring, serta kajian etnografi masyarakat adat Kasepuhan. Hasil kajian memperlihatkan bahwa rumah panggung tahan gempa, adanya larangan eksploitasi hutan, dan filosofi “ngajaga lembur, ngajaga leuweung” terbukti efektif mengurangi kerentanan. Integrasi kearifan lokal dengan pendekatan ilmiah memperkuat kapasitas adaptasi masyarakat. Dengan demikian, pemahaman sejarah bencana bukan hanya catatan masa lalu, tetapi juga fondasi strategis untuk membangun masa depan yang lebih tangguh.
Kata kunci: bencana, kearifan lokal, ketangguhan, rumah tahan gempa, Sukabumi
- PENDAHULUAN
Kabupaten Sukabumi terletak di selatan Jawa Barat dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Posisi geografis ini membuat wilayah tersebut rawan gempa dan tsunami. Selain itu, kondisi topografi berupa perbukitan dan pegunungan menjadikan Sukabumi rentan terhadap longsor dan pergerakan tanah. Kombinasi faktor-faktor tersebut menempatkan Sukabumi sebagai salah satu daerah dengan tingkat kerawanan bencana tertinggi di Indonesia.
Sejarah panjang bencana di Sukabumi memperlihatkan betapa rentannya wilayah ini terhadap berbagai ancaman alam. Peristiwa gempa bumi dan tsunami pada tahun 2006, longsor besar di Cisolok tahun 2018, hingga banjir bandang Sungai Citarik tahun 2020 meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat. Selain itu, pada tahun 2024, Sukabumi menghadapi gelombang bencana hidrometeorologi yang meliputi banjir, longsor, serta pergerakan tanah di berbagai kecamatan, termasuk Nyalindung. Data tersebut menunjukkan bahwa bencana bukanlah peristiwa sesaat, melainkan bagian dari siklus yang terus berulang di Sukabumi.
Namun, dari setiap bencana selalu lahir pelajaran penting bagi masyarakat. Pengalaman masa lalu memberikan pemahaman tentang pentingnya mitigasi bencana, edukasi kebencanaan, hingga tata kelola lingkungan yang lebih baik. Lebih jauh, masyarakat adat di Sukabumi, khususnya Kasepuhan Gelar Alam, menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi salah satu modal utama dalam membangun ketangguhan. Misalnya, rumah adat berbentuk panggung dengan struktur fleksibel terbukti lebih tahan terhadap guncangan gempa.
Dengan demikian, pemahaman sejarah bencana bukan hanya bertujuan untuk mengenang duka, melainkan juga menjadi pijakan dalam membangun kesiapsiagaan di masa depan. Integrasi antara pengalaman masa lalu, sains modern, dan kearifan lokal dapat menjadi model ketangguhan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana. Oleh karena itu, Artikel ini menelusuri rekam jejak bencana di Sukabumi dan menelaah peran kearifan lokal dalam memperkuat adaptasi serta mitigasi.
- METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan studi literatur dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Data dikumpulkan dari laporan BNPB, BPBD Provinsi Jawa Barat, dokumen pemerintah, artikel jurnal, serta pemberitaan daring. Kajian etnografi masyarakat adat Kasepuhan Gelar Alam turut dijadikan rujukan untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal terkait mitigasi bencana. Analisis dilakukan dengan menelusuri kronologi bencana di Kabupaten Sukabumi, mengidentifikasi penyebab dan dampak, lalu mengaitkannya dengan praktik kearifan lokal. Hasil akhirnya berupa sintesis antara sejarah bencana, nilai budaya, dan strategi ketangguhan masyarakat.
- PEMBAHASAN
3.1 Dinamika Bencana di Kabupaten Sukabumi
Kabupaten Sukabumi memiliki sejarah panjang bencana dengan dampak besar pada kehidupan sosial maupun lingkungan. Beberapa kejadian utama adalah:
- Gempa dan Tsunami 2006
Guncangan kuat dan tsunami melanda pesisir selatan Jawa, termasuk Kabupaten Sukabumi yang menewaskan ratusan orang dan merusak infrastruktur. Peristiwa ini menegaskan kerentanan di wilayah pesisir selatan akibat adanya subduksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia.
- Longsor Cisolok 2018
Tahun 2018, longsor besar terjadi di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok. Puluhan jiwa meninggal dunia dan permukiman serta lahan pertanian rusak parah. Faktor geologi berupa lereng curam dan curah hujan tinggi menjadi pemicu utama longsor, dan diperburuk oleh pengelolaan lahan yang tidak sesuai kaidah konservasi. Tragedi ini memperlihatkan tingginya kerentanan perbukitan di wilayah Kabupaten Sukabumi terhadap longsor.
- Banjir Bandang Sungai Citarik 2020
Pada tahun 2020, banjir bandang melanda Kecamatan Cicurug akibat luapan Sungai Citarik. Ratusan rumah terendam, fasilitas umum rusak, dan menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup signifikan. Penyebab utama adalah curah hujan tinggi, berkurangnya daerah resapan, serta semakin sedikitnya ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan.
- Pergerakan Tanah Kronis di Nyalindung
Fenomena pergerakan tanah di Kecamatan Nyalindung merupakan bencana kronis yang terjadi berulang. Puluhan rumah rusak, infrastruktur terganggu, dan sebagian warga harus direlokasi. Kondisi geologi berupa tanah lempung dengan tingkat pelapukan tinggi menjadikan wilayah ini rawan bergerak ketika curah hujan meningkat.
- Banjir dan Longsor Sukabumi Selatan 2024
Bencana terbaru terjadi pada Desember 2024 di Kecamatan Ciemas, Ciracap, Surade, dan Jampang Kulon. Hujan deras berhari-hari memicu banjir besar yang merendam ratusan rumah serta longsor yang menutup akses jalan, merusak jembatan, dan memutus arus distribusi logistik. Ratusan warga harus mengungsi, sementara infrastruktur publik mengalami kerusakan yang serius. Peristiwa ini menegaskan bahwa bencana hidrometeorologi semakin intensif akibat adanya perubahan iklim.
3.2 Relevansi Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana
Masyarakat adat Sukabumi telah lama mengandalkan kearifan lokal untuk menghadapi bencana. Kasepuhan Gelar Alam, misalnya, membangun rumah panggung yang lebih tahan gempa dan aman dari banjir. Mereka juga melarang penjualan padi sehingga selalu tersedia cadangan pangan saat darurat dan tidak pernah terjadi krisis pangan. Aturan adat terkait hutan berperan menjaga keseimbangan ekosistem dan mengurangi risiko terjadinya banjir maupun longsor (Enshanty, 2025). Nilai-nilai tersebut membuktikan bahwa tradisi lokal bukan hanya sekadar warisan budaya, tetapi strategi ekologis yang adaptif. Integrasi kearifan lokal ke dalam kebijakan mitigasi bencana perlu dipandang sebagai aset penting.
3.3 Strategi Ketangguhan Berbasis Pengalaman Masa Lalu
Pengalaman menghadapi berbagai bencana memberikan pelajaran penting bagi masyarakat dan pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi dalam membangun ketangguhan. Salah satu strategi utama adalah meningkatkan literasi kebencanaan adalah melalui pendidikan di sekolah dan pelatihan masyarakat yang berbasis komunitas. Tata ruang wilayah juga harus dirancang berbasis risiko, misalnya dengan menghindari pembangunan di zona rawan longsor atau aliran sungai yang sering meluap. Integrasi kearifan lokal dengan pendekatan ilmiah modern, seperti sistem peringatan dini dan pemetaan risiko, akan memperkuat kemampuan adaptasi masyarakat. Selain itu, Kolaborasi antara pemerintah, komunitas adat, dan organisasi non-pemerintah juga akan ikut menentukan ketangguhan mitigasi bencana. Dengan kombinasi pengetahuan lokal dan pendekatan ilmiah, ketangguhan masyarakat Sukabumi dapat terus diperkuat.
- KESIMPULAN
Penelitian ini menunjukkan bahwa Kabupaten Sukabumi merupakan daerah dengan dinamika bencana yang kompleks dan berulang. Gempa, tsunami, banjir, longsor, dan pergerakan tanah menjadi ancaman nyata yang memerlukan perhatian serius. Di sisi lain, masyarakat setempat memiliki kearifan lokal yang relevan dengan upaya mitigasi bencana, mulai dari rumah tahan gempa, sistem pengelolaan pangan, hingga perlindungan hutan. Pembelajaran dari pengalaman masa lalu menunjukkan pentingnya menggabungkan tradisi dengan ilmu pengetahuan modern. Oleh karena itu, kebijakan pengurangan risiko bencana di Kabupaten Sukabumi sebaiknya berbasis pada pendekatan hibrid yang memadukan sains, budaya, dan partisipasi masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Antara News. 2024. Kerugian Akibat Bencana di Sukabumi Capai Rp 180 Miliar. Antaranews.com, diunduh pada 25 Agustus 2025.
BPBD Jawa Barat. 2024. Laporan Kejadian Bencana di Provinsi Jawa Barat Tahun 2024. Bpbd.jabarprov.go.id, diunduh pada 25 Agustus 2025.
BNPB. 2024. Cuaca Ekstrem di Kabupaten Sukabumi Picu Banjir, Longsor, dan Pergerakan Tanah. BNPB.go.id, diunduh pada 25 Agustus 2025.
BNPB. 2024. Laporan Tahunan Penanggulangan Bencana Indonesia 2024. BNPB.go.id, diunduh pada 25 Agustus 2025.
Enshanty, Y. 2025. Nilai-Nilai Kearifan Lokal Berbasis Mitigasi Bencana Pada Masyarakat Adat Kasepuhan Gelar Alam Desa Sirnaresmi Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi. Tesis. Program Pascasarjana Universitas Siliwangi, Tasikmalaya.
CMS, S., Erwina, W., & Lusiana, E. (2021). Pengetahuan lokal dan strategi lokal Sunda dalam hadapi bencana. Informatio: Journal of Library and Information Science, 1(2), 181. https://doi.org/10.24198/inf.v1i2.34268
JPNN Jabar. 2024. 1.488 Bencana Melanda Sukabumi Sepanjang Tahun 2024. Jpnn.com, diunduh pada 25 Agustus 2025.
Kompas.id. 2024. Tanggap Darurat Bencana di Sukabumi Diperpanjang. Kompas.id, diunduh pada 25 Agustus 2025.
Pusat Krisis Kemenkes. 2024. Respons Cepat Penanganan Banjir dan Tanah Longsor di Kabupaten Sukabumi. Pusatkrisis.kemkes.go.id, diunduh pada 25 Agustus 2025.
Radar Sukabumi. 2024. Pergerakan Tanah di Nyalindung Ancam Permukiman Warga. Radarsukabumi.com, diunduh pada 25 Agustus 2025.
Shalih, O. S. M. A. R., & Magister, J. E. N. J. A. N. G. (2020). Strategi membangun ketahanan komunitas (masyarakat) terhadap bencana tanah longsor di desa sirna resmi, kecamatan cisolok, kabupaten sukabumi. Universitas Indonesia, January.