Upaya Komprehensif: Pelajaran Berharga dari Penanggulangan Gempa Bumi Sumatera Barat
Ringkasan
Deskripsi
https://docs.google.com/document/d/1TCKVciGwYFrWFPR2H1r06s2xIqXkEotyKUU1LUgFen0/edit?usp=sharing
Bencana alam adalah ancaman serius dan sering terjadi di Indonesia, salah satunya gempa bumi. Kerawanan terhadap bencana gempa bumi disebabkan karena Indonesia merupakan jalur titik pertemuan 3 lempeng tektonik utama dunia, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Indo-Australia (Angglena & Pandey, 2025). Ketiga Lempeng tersebut memiliki pergerakan yang aktif dan dinamis, sehingga mengakibatkan wilayah Indonesia berada di jalur “Ring of Fire” atau "Cincin Api Pasifik". Salah satu jenis gerakan lempeng yaitu subduksi (penunjaman atau tumbukan) antarlempeng. Gerakan subduksi antara Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Mikro Sunda (Lempeng Eurasia yang berada di Asia Tenggara) telah menciptakan busur vulkanik yang membentang di bagian barat Pulau Sumatera. Hal inilah yang disebut Pegunungan Bukit Barisan, barisan gunung berapi aktif dari ujung Aceh hingga Lampung (Fitriana, 2017), seperti yang terlihat pada Gambar 1, sehingga terkadang kejadian gempa bumi kuat (tektonik) di Pulau Sumatera dapat menjadi salah satu pemicu terjadinya gempa vulkanik di wilayah tersebut. Adapun penyebab lain dari terjadinya gempa di Sumatera yaitu adanya pergerakan lempeng yang dilepaskan melalui Sesar Semangko. Sesar Semangko atau Sesar Sumatera (The Great Sumatera Fault) merupakan salah satu sesar (patahan) dari hasil pergerakan antara Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia. Hasil pergerakan dari kedua lempeng tersebut juga telah menghasilkan sesar lainnya, yaitu Sesar Mentawai. Sesar Mentawai di struktur geologi Sumatera menjadi sumber utama gempa kuat megathrust dan berpotensi memicu tsunami. Sesar Mentawai berlokasi di laut, sekitar 150 km dari lepas pantai barat Sumatera, membentang di sepanjang Kepulauan Mentawai. Dengan adanya letak Sesar Semangko yang berada di daratan dan Sesar Mentawai yang berada di laut lepas pantainya, mengakibatkan Sumatera Barat memiliki kerentanan seismik yang sangat tinggi, seperti yang terlihat pada Gambar 2. Dengan demikian, wilayah Provinsi Sumatera Barat menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang paling rawan terhadap ancaman gempa bumi.
|
Gambar 1. Peta Tektonik Sumatera Sumber : Hamzah., dkk, 2015 |
Gambar 2. Zona Gempa di Sumatera Sumber : Patronnews, 2020 |
Perihal ini diperkuat berdasarkan catatan sejarah bencana gempa bumi di Sumatera Barat, menunjukkan tingginya frekuensi dan skala dampak yang signifikan dari gempa bumi di wilayah tersebut. Pada tanggal 28 Juni 1926, gempa bumi berkekuatan 7,6 - 7,8 SR yang disusul oleh tsunami akibat gempa susulan terjadi di Padang Panjang, menyebabkan lebih dari 354 orang meninggal dunia dan robohnya stasiun kereta api, hotel, pasar, serta ribuan rumah (Sufyan, 2021). Dampak gempa bumi menjangkau hingga wilayah di sekitar Danau Singkarak, Kota Bukittinggi, Danau Maninjau, Kabupaten Solok, Sawah Lunto, dan Alahan Panjang (Sa’idah & Nofra, 2023), dapat terlihat pada Gambar 3. Runtuhnya masjid di Desa Tanjung Bingkung, Kabupaten Solok akibat gempa bumi tahun 1926. Pada tahun 1995, gempa bumi tektonik terjadi di Kota Sungai Penuh dengan berkekuatan 7 SR. Gempa bumi tersebut menyebabkan 84 orang tewas, 558 orang luka berat, dan 1.310 orang luka ringan serta sebanyak 7.137 infrastruktur rusak. Berdasarkan laporan BMKG, Kabupaten Tanah Datar pada tanggal 6 Maret 2007, mengalami 2 kali gempa bumi dengan berkekuatan magnitudo 6,4 SR hingga 6,3 SR. BMKG mencatat telah terjadi 226 gempa bumi hingga hari kedua. Pada 8 Maret 2007, BMKG melaporkan terdapat 45 kali gempa susulan, berintensitas lebih rendah yaitu 4,9 SR hingga 3,3 SR. Gempa bumi ini mengakibatkan rumah warga rusak, lalu lintas tersendat akibat longsor, dan 68 orang meninggal dunia (Erwin & Indrizal, 2015). Pada tanggal 30 September 2009, Kota Padang mengalami gempa bumi berkekuatan 7,6 SR dengan gempa susulan berkekuatan 6,2 SR. Akibat gempa tersebut, 1.115 orang meninggal dunia dan 279.000 bangunan mengalami kerusakan. Perihal ini karena dampak gempa bumi terasa di banyak wilayah, seperti Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Agam, Kota Solok, dan Kabupaten Pasaman Barat. Bahkan, getaran gempa tersebut merambat hingga ke negara-negara tetangga Indonesia. Pada tanggal 25 Oktober 2010, gempa bumi berkekuatan 7,5 SR yang mengakibatkan tsunami dengan ketinggian gelombang mencapai 3 m terjadi di Pagai, Kepulauan Mentawai, menimbulkan 456 orang meninggal dunia (Latif, 2012; Putri., dkk, 2022).
Gambar 3. Ambruknya Masjid di Desa Tanjung Bingkung, Kabupaten Solok,
Akibat Gempa Bumi Padang Panjang Tahun 1926.
Sumber : NMVW Wereld Museum, 1926
Catatan sejarah bencana gempa bumi di Sumatera Barat telah menyadarkan masyarakat setempat mengenai pentingnya mitigasi bencana alam, khususnya gempa bumi. Hal ini dikarenakan berbagai kejadian bencana alam telah terjadi sejak zaman dahulu, salah satunya gempa bumi sehingga membentuk kebiasaan dan pengalaman berulang bagi masyarakat. Oleh sebab itu, penduduk Sumatera Barat telah melakukan adaptasi dengan melakukan mitigasi pragempa dengan memanfaatkan kearifan lokal yang sudah ada, salah satunya dengan membangun Rumah Gadang. Masyarakat setempat membangun Rumah Gadang berupa rumah panggung sehingga memiliki kolong (jarak lantai) setinggi 1-2 meter untuk dijadikan mitigasi dari bencana banjir dan tempat hewan ternak serta peralatan pertanian. Infrastrukturnya lainnya seperti tiang penyangga rumah yang dibangun tidak di dalam tanah, tetapi ditumpukkan pada batu (umpak), sehingga dapat meminimalisir efek gempa (Imani., dkk, 2021). Oleh sebab itu, pondasi Rumah Gadang yang berbahan kayu menjadi tidak cepat rusak karena tiang penyangga rumah tidak berhubungan langsung dengan tanah. Struktur rumah gadang yang berbahan kayu dan anyaman bambu juga meningkatkan fleksibilitas dan kestabilan pondasi rumah terhadap guncangan dan getaran gempa (Abidah., dkk, 2023). Jadi, penerapan struktur Rumah Gadang yang diterapkan oleh masyarakat zaman dahulu terbukti efektif mampu bertahan dari efek gempa bumi. Seiring berkembangnya zaman, masyarakat banyak mengganti Rumah Gadang tradisional dengan Rumah Gadang “modern” karena ketersediaan bahan bangunan serta kemudahan dalam pembangunan dan perawatan, dengan cara mengganti beberapa bahan struktur bangunan menggunakan beton (Salaman & Kurniati, 2020). Namun, bahan beton akan mengurangi keefektifan rumah dalam menahan getaran gempa. Perihal tersebut juga telah disampaikan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., dalam materi kuliah umum di Universitas Andalas, menyampaikan bahwa Rumah Gadang perlu dilestarikan kembali dan mengajak para mahasiswa serta akademisi untuk mencari kearifan lokal lainnya sebagai upaya mitigasi kegempaan di wilayah Sumatera Barat (Dwiatmodjo, 2025).
Selain mitigasi pragempa tersebut, masyarakat juga telah melakukan beberapa mitigasi saat gempa bumi terjadi, yaitu tanggap bencana. Tanggap bencana dilakukan oleh masyarakat dengan selalu mengaktifkan peringatan dini, evakuasi menuju tempat yang lebih aman, dan membantu mengumpulkan informasi-informasi penting. Penggunaan alat peringatan dini EWS (Early Warning System) dilakukan untuk melaksanakan tanggap bencana gempa bumi yang dapat mendeteksi gempa bumi berkekuatan di atas 7 SR. Setelah sirine dari EWS berbunyi, masyarakat melakukan evakuasi sesuai papan petunjuk arah dan rambu-rambu jalur evakuasi menuju tempat yang lebih aman. Pemerintah Sumatera Barat telah membangun beberapa shelter atau Tempat Evakuasi Sementara (TES) ketika terjadi gempa bumi. Setelah evakuasi mandiri dilakukan, masyarakat akan dipandu oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS) setempat dibantu relawan dari Organisasi Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Sumatera Barat untuk melakukan pendirian posko, penyediaan bantuan kebutuhan-kebutuhan pokok, dan penanganan korban cedera (Priscillia, 2025). Adapun Pemadam Kebakaran setempat yang akan membantu melakukan respon cepat yang relevan dan memadamkan korban api apabila gempa bumi menyebabkan kebakaran.
DAFTAR PUSTAKA
Abidah, D. Y., Musthoffa, M. M., Hasanah, M., & Romadhani, O. (2023). Analisa Elemen–elemen Struktur Tahan Gempa Rumah Sederhana pada Arsitektur Nusantara Rumah Gadang. G-Tech: Jurnal Teknologi Terapan, 7(2), 367-376.
Angglena, M., & Pandey, F. (2025). Pemetaan Zona Rawan Gempa Berdasarkan Jejak Historis Gempa dan Kerusakan Infrastruktur. Innovative: Journal Of Social Science Research, 5(3), 204-213.
Dwiatmodjo, M, A. (2025). Kearifan Lokal Sebagai Mitigasi Bencana Sumatra Barat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). https://www.bnpb.go.id/berita/kearifan-lokal-sebagai-mitigasi-bencana-sumatra-barat
Erwin & Indrizal. (2015). Tata Kelola Penanggulangan Bencana Alam Suatu Deskripsi Inter-Relasi dan Kesiapan Para Pihak dalam rangka Rehabilitasi-Rekonstruksi Rumah Warga Terdampak Pascagempa di Kabupaten Tanah Datar. Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, 16(2), 201–221. https://doi.org/10.25077/jantro.v16.n2.p201-221.2014
Firtriana, Evi. (2017). GEOLOGI INDONESIA. Palangka Raya : FKIP Universitas PGRI Palangka Raya.
Hamzah., dkk. (2015). Bencana Geologi Pulau Sumatera. Universitas Negeri Gorontalo. https://mahasiswa.ung.ac.id/451413017/home/2015/11/3/bencana-geologi-pulau-sumatera.html
Imani, R., Wiraseptya, T., Nasmirayanti, R., Arman, U. D., & Sari, A. (2021). Asesmen Pondasi Umpak Sebagai Upaya Pengurangan Risiko Gempa Pada Bangunan Rumah Gadang Minangkabau. Rang Teknik Journal, 4(2), 406-412.
Latief, H. (2012). Kajian Risiko Tsunami di Provinsi Sumatera Barat dan Upaya Mitigasinya. 37th HAGI Annual Convention & Exhibition, Palembang, September 2012.
Museum, Wereld. (1926). Masjid di Tandjoeng Bingkoeng yang hancur akibat gempa bumi. https://collectie.wereldmuseum.nl/
Priscillia, Shalsa (2025) Strategi Organisasi Taruna Siaga Bencana (TAGANA) Sumatera Barat Dalam Tahap Tanggap Darurat Bencana Banjir Lahar Dingin Di Kabupaten Tanah Datar. S1 thesis, Universitas Andalas
Putri, T. U., Dewi, I. K., & Marlinda, L. (2022). Penentuan Zonasi Bencana Tsunami di Kabupaten dan Kota Pesisir Provinsi Sumatera Barat. SPEJ (Science and Physics Education Journal), 5(2), 47-54.
Sa'diah, I., & Nofra, D. (2023). Peristiwa Bencana Gempa Bumi Di Padang Panjang Pada Tahun 1926 (Studi Naskah-naskah Gempa). Majalah Ilmiah Tabuah: Talimat, Budaya, Agama dan Humaniora, 27(2), 95-106.
Salamah, H., & Kurniati, F. (2020). Prespektif Struktur dan Konstruksi pada Proses Renovasi Rumah Gadang. IPLBI, 4, 065-063.
Sufyan, F. H. (2021). Bencana Alam dan Penanggulangan Narasi Gampo Tujuah Hari Padang Panjang 1926. Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam, 11(2), 97-109.
Zein, C. A., Nababan, M., Wahyudi, A. R., & Suryandari, D. (2014). Penilaian Dampak Bencana Alam Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Jangka Pendek (Studi Kasus: Provinsi Sumatera Barat Pasca Bencana Gempa Bumi Tahun 2009). Pusat Kajian Strategis, Kementerian Pekerjaan Umum, Indonesia.
