LETUSAN KELUD 1919: TONGGAK BARU MITIGASI VULKANIK DI INDONESIA
Ringkasan
Deskripsi
LETUSAN KELUD 1919: TONGGAK BARU MITIGASI VULKANIK DI INDONESIA
Oleh:
Dedi Sasmito Utomo
Gunung Kelud, dikenal dengan karakteristiknya yang menghancurkan, kerap disebut sebagai gunung berapi yang "tenang tetapi mematikan." Ia seolah tertidur selama bertahun-tahun, memberi rasa aman yang menipu, sebelum tiba-tiba meletus dengan kekuatan destruktif yang luar biasa. Dalam buku yang berjudul “Geweldige natuurkrachten” (Kekuatan alam yang mengagumkan), gunung ini digambarkan sebagai entitas yang licik dan penuh kejutan, membawa kehancuran mendadak yang tak terhindarkan (Vissering, 1910).
Gunung Kelud memiliki posisi yang istimewa dalam dunia gunung berapi di Indonesia. Dalam data Global Volcanism Program (2025) Gunung Kelud memiliki catatan letusan tertua di Indonesia sejak tahun 1000 Masehi. Dari puluhan kali letusannya, gunung ini telah dua kali mengalami letusan paling dahsyat dalam sejarah karena menewaskan ribuan orang, yakni letusan tahun 1586 dengan korban mencapai 10.000 jiwa (Brascamp, 1917) dan tahun 1919 hingga merenggut 5.110 jiwa (Kemmerling, 1921). Namun demikian, letusan tahun 1919 menjadi sejarah baru dalam dunia vulkanologi di Indonesia.
Peristiwa waktu itu terjadi pada tengah malam tanggal 19 hingga 20 Mei 1919. Letusan ini disebut sebagai letusan kedua terbesar dari erupsi Gunung Kelud sepanjang abad ke-20. Ledakan letusannya sangat keras dan dilaporkan terdengar hingga ke Kalimantan (Kemmerling, 1921).
Letusan tersebut memompa air danau kawah secara tiba-tiba dan memaksa keluar dari kaldera bersama dengan magma yang membanjiri lembahnya. Campuran magma, air panas, lumpur, batu, kerikil, dan pasir meluncur sangat deras ke daerah di bawahnya. Aliran lahar ini menuju ke Blitar menerjang dan merusak apapun yang dilaluinya. Saat banjir ini datang, banyak warga yang masih terlelap tidur sehingga tidak sempat menyelamatkan diri. Selain itu, aliran lahar mengalir tidak pada salurannya tetapi menerjang bebas lewat persawahan, pekarangan, jalan, dan sungai.
Letusan eksplosif Gunung Kelud tahun 1919 menjadi peristiwa yang sangat mengerikan. Gambaran beberapa kesaksian yang berhasil didokumentasikan dalam naskah cukup menjelaskan bagaimana kejadian di malam kelam tersebut. Bung Karno dalam otobiografinya Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (Adams, 1986) menggambarkan bahwa pada saat itu Gunung Kelud mulai meletus, ia baru saja tiba di rumah sahabatnya di Wlingi, sekitar 20 km dari Blitar. Tanah dikatakan telah terguncang dengan kuat dan suara gemuruh yang menakutkan membahana di langit. Banyak orang termasuk ibu-ibu yang ketakutan, anak-anak berteriak, dan pekerja perkebunan berlarian keluar rumah.
Mereka merasakan ketakutan, kebingungan, dan kekacauan akibat letusan. Gunung Kelud dikatakan menunjukkan kemarahan para dewa dan langit berubah menjadi gelap karena abu dan arang yang terlempar bermil-mil jauhnya. Lahar mendidih dengan kecepatan tinggi mengalir deras menuruni lereng gunung ke daerah yang lebih rendah menghancurkan segala sesuatu yang dilaluinya dan menetap di antara Blitar dan Wlingi seperti yang tampak pada Gambar 1. Daerah tersebut dilaporkan tertutup oleh asap, api, dan racun. Bung Karno juga mendengar bahwa setengah negara ini dilaporkan terkena dampak letusan.

Sumber: (Suryo & Clarke, 1985)
Gambar 1. Peta Wilayah Terdampak Lahar dan Nuee Ardente pada Letusan 1919 dan 1966
Letusan eksplosif Gunung Kelud pada tahun 1919 membuat situasi menjadi kacau. Diceritakan dalam laporan Kemmerling (1921), orang-orang menjadi ketakutan, bingung, dan panik. Mereka berlarian, berusaha menyelamatkan diri dan sebagian harta benda mereka. Banyak dari mereka yang tidak dapat selamat dari bencana letusan dan meninggal dunia.
Selain korban jiwa, kerusakan secara fisik dan sosial begitu parah. Kerusakan lahan pertanian dan perkebunan yang sangat luas, kematian hewan ternak begitu banyak, dan rumah tinggal, perkantoran, serta sarana publik lainnya juga ikut hancur. Rangkuman data korban dan kerusakan akibat letusan Gunung Kelud tahun 1919 dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Ringkasan Dampak Letusan Gunung Kelud 1919
|
Aspek |
Dampak Utama |
Keterangan |
|
Korban jiwa |
± 5.000 orang tewas |
Terbesar kedua setelah letusan 1586 (± 10.000 jiwa) |
|
Perkebunan Kalicilik, Bendorejo |
42 orang tewas |
Termasuk sinder (pengawas) |
|
Distrik Srengat |
Ratusan orang tewas |
Termasuk 7 orang Eropa |
|
Tahanan penjara |
± 900 terjebak, ± 100 sempat keluar |
Hampir semuanya tewas tersapu lahar |
|
Penumpang kereta api |
Banyak tewas |
Terjebak saat kereta dihantam lahar di jembatan |
|
Aliran lahar |
3 jalur utama (timur Blitar–Wlingi, barat Blitar–Srengat/Udanawu/Bendha, pusat Blitar via Kali Lahar) |
Memusnahkan desa, kota, dan infrastruktur |
|
Kota Blitar |
Tertutup lahar ± 1,6 m |
Banyak rumah dan fasilitas umum hancur |
|
Jembatan & transportasi |
Puluhan jembatan hancur (termasuk Ganggangan & Pakunden) |
Jalur Blitar–Wlingi, Blitar–Srengat, Blitar–Tulungagung terputus |
|
Kereta api |
Jalur hanya sampai Kalipucang, stasiun Blitar rusak parah |
Kerugian Rp 80 juta |
|
Pertanian & perkebunan |
± 15.000 ha rusak (kopi, karet, kelapa, singkong); ± 14.000 ha sawah/tegalan hancur |
Pabrik pengolahan lumpuh, hasil bumi musnah |
|
Peternakan |
Ribuan ternak (kuda, lembu, kerbau, kambing) mati |
Petani kehilangan tabungan & tenaga kerja |
|
Ekonomi lokal |
Aktivitas ekonomi lumpuh total |
Perusahaan tetap wajib bayar upah pekerja |
Sumber: (Kemmerling, 1921; Nawiyanto & Sasmita, 2019)
Bencana letusan Gunung Kelud pada tahun 1919 adalah jawaban akhir dari kekhawatiran panjang para ahli geologi Hindia Belanda saat itu. Letusan tersebut memberikan pelajaran penting bagi pemerintah kolonial. Oleh karena itu, pemerintah mulai mencari cara untuk mengurangi ancaman yang ditimbulkan oleh letusan Kelud di masa depan, salah satunya dengan mengurangi volume air di kawah.
Jauh sebelumnya, perhatian serius terhadap Gunung Kelud, khususnya air yang ada di danau kawah semakin intensif dilakukan. Sejak peristiwa erupsi dingin pada 1875 (Kemmerling, 1921), yang memicu luapan lahar hingga 40,3 juta m³, pemerintah semakin yakin bahwa air danau kawah merupakan ancaman serius bagi wilayah sekitarnya. Atas dasar keyakinan itulah berbagai penelitian mulai dilakukan. Para ahli mempelajari secara langsung morfologi Gunung Kelud dan kondisi air danau kawah dan kaitannya dengan lingkungan jika air ini meluap menuruni lereng-lereng.
Sejak letusan pada 1901, berbagai penyelidikan di kawah sudah dilakukan. Pemerintah semakin intensif menugaskan para ahli untuk datang ke kawah Gunung Kelud. Beberapa orang yang melakukan penyelidikan seperti J. Hooman van der Heide, L. Houwink, Ir. Gouka, Hugo Cool berhasil mendapatkan data akurat keterkaitan antara air danau kawah dengan aktivitas vulkanik yang ada di kawah (Heide, 1904; Houwink, 1901; Kemmerling, 1921). Data yang dikumpulkan oleh para ahli menghasilkan kesimpulan yang pada intinya mengusulkan ada upaya mengendalikan volume air danau kawah. Namun demikian, belum diketahui alasannya, pemerintah hanya membangun dam penahan lahar yang akhirnya ikut hancur diterjang letusan tahun 1919 (lihat Gambar 2).

Keterangan: Percabangan Kali Badak (Kali Temas di kanan dan Kali Blitar di kiri) lokasi bendungan yang dibangun pada tahun 1905, namun hancur karena tidak mampu menahan aliran lahar ketika Gunung Kelud meletus tahun 1919. Lokasi bendungan sebelumnya berada di sisi Kali Blitar.
Sumber: (Photografisch Atelier Promemoria, 1919)
Gambar 2. Bekas Bangunan Dam Penahan Lahar yang Hancur di Lahar Blitar
Pada tahun 1919, apa yang telah diprediksi oleh para insinyur pertambangan seperti Houwink, Gouka, dan Cool akhirnya terjadi, Kelud meletus hebat dan danau kawah kembali terlontar menyisakan cekungan besar di kawahnya. Setelah erupsi Gunung Kelud pada tahun 1919, rencana untuk menyedot air dari danau kawah kembali menjadi perhatian utama, karena danau ini akan terus terisi oleh air hujan. Oleh karena itu, diperlukan solusi untuk menjaga volume danau kawah agar tetap terkendali secara permanen. Akhirnya, Pemerintah Hindia Belanda mempertimbangkan tiga alternatif, masing-masing dengan kelebihan dan kelemahannya:
- Pemasangan instalasi pompa, alternatif ini melibatkan instalasi pompa untuk menguras air dari danau kawah.
- Drainase melalui saluran terbuka, pilihan ini melibatkan pembuatan saluran terbuka yang memerlukan penggalian cukup dalam untuk memastikan pengaliran air secara alami.
- Drainase melalui terowongan, alternatif ketiga adalah pembangunan terowongan sebagai saluran drainase.
Dari sekian usulan tersebut, disetujui untuk membangun terowongan pembuangan air. Pada tahun 1920, pemerintah memulai proyek pembangunan saluran air sepanjang 980 m dengan diameter 2 m (Tromp, 1926). Terowongan ini dirancang untuk mengalirkan air dari danau kawah ke Kali Badak, dengan arah pembangunan menuju ke barat. Namun demikian, pembangunan terowongan tersebut sempat terhenti akibat kecelakaan yang disebabkan oleh runtuhnya dinding kawah, sehingga menghambat kelanjutan proyek tersebut untuk sementara waktu. Konstruksi terowongan secara penuh selesai dibangun pada tahun 1926. Dengan adanya terowongan pembuangan air tersebut, ketinggian air di kawah Kelud dikurangi sebesar 134,5 m dan volume air yang tersisa di kawah hanya 1,8 juta m3.

Keterangan: Inlet Ganesha merupakan Terowongan I yang dibangun pada tahun 1923 dengan panjang 185 m dengan diameter sekitar 2 m. Saat ini, terowongan digunakan akses masuk menuju ke danau kawah. Meskipun mengalami letusan berkali-kali, terowongan ini mampu bertahan. Ini menunjukkan bahwa struktur terowongan ini sangat kuat.
Sumber: Dokumen penulis
Gambar 3. Terowongan I
Pembangunan terowongan ini membawa dampak yang signifikan terhadap keberhasilan teknik mitigasi di area vulkanik. Terbukti sejak pengendalian air danau kawah, dampak lahar menurun drastis ketika terjadi letusan. Data korban letusan setelah berfungsinya terowongan danau kawah dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Jumlah Korban Letusan Gunung Kelud Pascapembangunan Terowongan
|
Tahun letusan |
Karakteristik letusan |
Jumlah korban jiwa |
Dampak tambahan |
|
1951 |
Letusan tiba-tiba, eksplosif |
7 |
Dasar kawah turun 79 m; abu mencapai Bandung; kerusakan kebun. |
|
1966 |
Letusan eksplosif dengan aliran piroklastik |
210 |
138 desa terdampak; 2.500 rumah rusak; lahar mencapai sungai. |
|
1990 |
Letusan Plinian dengan awan panas |
32 |
Abu vulkanik merusak 500 rumah dan 50 sekolah; tephra 130 juta m³. |
|
2007 |
Pembentukan kubah lava di danau kawah |
Tidak ada korban jiwa |
Danau kawah hilang, menyisakan kolam kecil akibat kubah lava. |
|
2014 |
Letusan eksplosif besar |
7 |
100.000 lebih mengungsi; abu mencapai 700 km; infrastruktur rusak. |
Sumber: Diolah dari berbagai referensi
Letusan Gunung Kelud pada tahun 1919 menjadi tonggak baru bagi perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia khususnya bidang vulkanologi. Selain pembangun terowongan vulkanik pertama di Indonesia dan ke-2 di dunia (yang pertama terowongan Danau Albano, Italia) (De Benedetti et al., 2008), letusan Gunung Kelud tahun 1919 juga menginspirasi untuk pertama kalinya pemantauan gunung berapi dilakukan. Usaha nyata tersebut dibuktikan dengan didirikannya Dinas Pengawasan Gunung Berapi (Vulkaan Bewaking Dienst) pada 16 September 1920 (Kemmerling, 1921). Dengan demikian, sejak saat itu, era baru mitigasi vulkanik di Indonesia dimulai.
Daftar Pustaka
Adams, C. (1986). Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (4th ed.). Jakarta: CV. Haji Masagung.
Brascamp, E. H. B. (1917). Geen Uitbarsting Van Den Lawoe In 1752. Tijdschrift van Het Koninklijk Nederlands Aardrijkskundig Genootschap, 35, 202–206. https://archive.org/stream/tijdschrift3519nede/tijdschrift3519nede_djvu.txt
De Benedetti, A. A., Funiciello, R., Giordano, G., Diano, G., Caprilli, E., & Paterne, M. (2008). Volcanology, history and myths of the Lake Albano maar (Colli Albani volcano, Italy). Journal of Volcanology and Geothermal Research, 176(3), 387–406. https://doi.org/10.1016/j.jvolgeores.2008.01.035
Global Volcanism Program. (2025). Eruptive History. Smithsonian Institution National Museum of Natural History. https://volcano.si.edu/volcano.cfm?vn=263280
Heide, J. H. van der. (1904). Het kratermeer or de Kloet in verband met de uitbarsting op 23 Mei 1901. In Tijdschrift van het Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap XXI (pp. 203–226). Amsterdam: Boekhandel en Drukkerij.
Houwink, L. (1901). Verslag van een onderzoek naar aanleiding van de uitbarsting van den vulkaan Keloet in den nacht van den 22e op den 23e mei 1901. In Jaarboek van het Mijnwezen in Nederlandsch-Indië (Vol. 30, pp. 122–136). Batavia: Landsdrukkerij.
Kemmerling, G. L. L. (1921). De uitbarsting van den G. Keloet in den nacht van den 19den op den 20sten Mei 1919. Weltevreden: Landsdrukkerij.
Nawiyanto, & Sasmita, N. (2019). The Eruption of Mount Kelud in 1919: Its Impact and Mitigation Efforts. Proceedings of the 1st International Conference on Social Sciences and Interdisciplinary Studies (ICSSIS 2018). https://doi.org/10.2991/icssis-18.2019.25
Photografisch Atelier Promemoria. (1919). Kali Badak na de uitbarsting van de Keloed op Oost-Java. Leiden University Libraries Digital Collections. http://hdl.handle.net/1887.1/item:912037
Suryo, I., & Clarke, M. C. G. (1985). The occurrence and mitigation of volcanic hazards in Indonesia as exemplified at the Mount Merapi, Mount Kelut and Mount Galunggung volcanoes. Quarterly Journal of Engineering Geology, 18(1), 79–98. https://doi.org/10.1144/GSL.QJEG.1985.018.01.09
Tromp, V. H. (1926). De aftapping van het Kloetmeer. De Ingenieur, 109–124.
Vissering, G. (1910). Geweldige natuurkrachten. Batavia: Landsdrukkerij.