Ketika Prangko Ingin Berkisah: Secarik Warisan Ingatan dan Harapan Sejarah Kebencanaan - Juara 1
Ringkasan
Deskripsi
Seorang anak SMP mengeluh kepada ibunya karena diberi tugas oleh gurunya membuat makalah tentang apa itu prangko dan meminta mereka mencari sebuah perangko untuk diceritakan. Anak ini bahkan baru tahu istilah “prangko” sejak sang guru menyebutkannya.
Tah heran, anak-anak zaman sekarang memang kurang familiar dengan benda ini, karena benda ini identik dengan sistem komunikasi lawas, yaitu surat-menyurat yang diperantarai kantor pos. Rumit dan tidak efisien, begitulah kira-kira tanggapan anak muda zaman sekarang sembari membandingkannya dengan pos-elektronik atau yang biasa mereka sebut sebagai e-mail.
Namun di mata para kolektor prangko alias filatelis, sisi romantisisme dari cara komunikasi surat-menyurat ini ada pada rasa “harap-harap cemas” saat menanti datangnya surat ke alamat kita, gurat tulisan tangan khas dari penyurat, dan tentunya desain indah dari secarik prangko pada pinggir amplop surat.
Pesona prangko memang tak pernah habis meski termakan zaman. Di balik fungsi utamanya sebagai alat pembayaran jasa layanan Pos, di dalamnya ia mampu membekukan beragam peristiwa penting dalam sebuah desain artistik yang penuh makna. Contohnya saja peristiwa Bencana Alam Tsunami, Banjir, Tanah Longsor, Angin Puting Beliung, Gempa Bumi, hingga yang paling sering terjadi: Gunung Meletus.
Sejak jutaan tahun yang lalu, Indonesia sering dilanda bencana gunung meletus. Sebagai wilayah cincin api di Asia Pasifik, kisah runtuhnya beberapa kerajaan yang ada di Jawa juga dipengaruhi dengan terjadinya bencana alam ini. Tak heran jika sejak ratusan tahun lalu masyarakat telah akrab dengan kisah cerita rakyat terkait meletusnya gunung api atau gunung berapi.
Kisah bencana Gunung Meletus sendiri tertuang pada beragam seri dan desain prangko yang dikeluarkan PT. Pos Indonesia. Menurut sejarah filateli (koleksi dan penyelidikan tentang prangko dan meterai) Indonesia, prangko seri Bencana Alam di Indonesia sudah ada sejak tahun 1953.
Kemunculan prangko seri Bencana Alam ini menjadi penanda bahwa di kisaran waktu-waktu tersebut telah terjadi bencana alam yang dahsyat di Indonesia, sehingga setiap terjadi bencana alam luar biasa, pihak PT Pos Indonesia membuat prangko, misalnya prangko Bencana Alam Letusan Gunung Merapi pada tahun 1954, Bencana Alam tahun 1961, Letusan Gunung Agung pada tahun 1963, dan sederetan bencana alam di tahun 1967.