...

Jejak Erupsi Sinabung, dari Abu Menjadi Ketangguhan Bangsa

25 09 2025 Lomba Kategori Umum Nur Azly 1 Likes Bagikan :
Sejak terbangun pada tahun 2010 setelah ratusan tahun tertidur, Gunung Sinabung telah menjadi simbol derita berulang bagi warga Karo, memuntahkan abu vulkanik yang menghitamkan langit, meluluhlantakkan desa, dan memaksa ribuan orang hidup di pengungsian. Bencana ini melampaui kerugian material, menyebabkan dampak ekonomi signifikan pada sektor pertanian dengan kerugian triliunan rupiah, serta luka batin mendalam berupa displacement trauma, kecemasan, dan terganggunya pendidikan anak-anak. Namun, di balik tragedi ini, Sinabung juga memicu respons kolektif dari pemerintah, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat, yang bahu-membahu membangun Hunian Tetap Siosar, memperkuat literasi kebencanaan, dan memberikan dukungan psikososial. Jejak erupsi Sinabung mengajarkan pentingnya ketangguhan fisik dan mental, kesiapan menghadapi bencana, serta kekuatan solidaritas dan sinergi antarpihak untuk membangun bangsa yang tidak hanya selamat, tetapi juga lebih kuat setelah menghadapi cobaan alam.

Deskripsi

 

Gambar 1. Erupsi Gunung Sinabung (BNPB, 2018)
 

Langit Karo pernah menghitam bukan karena malam, melainkan karena abu yang mengepul tinggi dari Gunung Sinabung. Tahun 2010, Gunung yang tertidur pulas ratusan tahun tiba-tiba terbangun memuntahkan lava dan menyemburkan debu vulkanik. Suara letusan yang terdengar hingga jarak 8 kilometer meluluhlantahkan desa-desa di sekitar kaki Gunung Sinabung. sejak saat itu, Sinabung seakan menjadi derita bagi warga sekitar; erupsi berulang kali, sebagian desa terkubur, dan ribuan warga harus hidup di pengungsian.

Namun peristiwa Sinabung bukan hanya berbicara tentang bencana alam. Akan tetapi mencerminkan betapa kecilnya manusia di hadapan alam dan pentingnya daya juang untuk tetap bertahan. Di balik bencana yang melanda, ada cerita dari masyarakat Karo yang terus berusaha bangkit meski harus meninggalkan tanah leluhur. Ada tangisan, trauma, bahkan konflik yang tak semua orang tahu. Di lain sisi masih ada solidaritas, doa bersama dan secercah harapan yang tetap menyala.

Mengulik jejak sejarah erupsi Sinabung, kita akan memahami sebuah arti tentang ketangguhan. Bagaimana bangsa ini menghadapi bencana yang tak terduga? Bagaimana warga bertahan dalam tekanan hidup di pengungsian? Dan apa pelajaran yang bisa kita ambil agar generasi mendatang lebih siap? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menjadi kunci untuk membangun bangsa yang tidak hanya selamat dari bencana, tetapi juga lebih kuat setelahnya.

Gunung Sinabung berdiri gagah di atas tanah Karo, Sumatra Utara dengan ketinggian mencapai 2.460 mdpl. Sebelum terbangun di tahun 2010, Sinabung dianggap sebagai “gunung tidur”. Menurut catatan Sejarah, Sinabung terakhir erupsi pada sekitar tahun 1600-an. Saat itu masyarakat Karo masih hidup dengan nyaman dan tentram dengan aktivitasnya menanam kopi, jeruk hingga sayur-sayuran disekitar lereng yang subur. Tidak ada yang menyadari bahwa setelah empat abad, Sinabung akan kembali murka.

Tepat pada tanggal 27 agustus 2010, gunung Sinabung kembali terbangun dengan menyemburkan abu vulkanik setinggi 1.500 meter. BNPB (2010) mencatat lebih dari 30 ribu warga Karo dievakuasi dan saat itu satu orang dinyatakan meninggal dunia. Siapa sangka semua itu hanyalah permulaan, pada rentang tahun 2013 sampai 2014 menjadi fase yang paling kelam. Pada priode tersebut, letusan Sinabung yang dahsyat menewaskan 16 orang, mengubur beberapa desa dan memaksa lebih dari 30 ribu warga mengungsi ke tempat yang aman (PVMBG, 2014).

Erupsi gunung Sinabung tidak berhenti disitu saja. Pada tahun 2016, abu vulkanik kembali terlihat diatas Sinabung. Aktivitas vulkanik terus berulang sampai 2018, selain merenggut korban jiwa rangkaian peristiwa tersebut seakan membuat kehidupan masyarakat karo seolah tak pernah pulih seperti dulu. Bahkan di tahun 2019-2021, Sinabung masih beberapa kali mengalami erupsi, meski tidak sebesar pada periode 2010, 2013 – 2014 gunung Sinabung dinyatakan dalam kategori aktif permanen. Bagi masyarakat Karo jejak erupsi Sinabung adalah peristiwa kelam yang berulang. Di mulai dari kehilangan tempat tinggal, lahan sampai dengan identitas kultural. Bisa diartikan setiap peristiwa letusan merupakan babak baru penderitaan, dan juga babak baru sebuah perjuangan.

Sering kita ketahui, disetiap peristiwa bencana hal pertama yang dilihat adalah kerugian secara material. Seperti berapa banyak rumah hancur, berapa hektar lahan yang rusak dan seberasa besar kerugian ekonomi yang ditimbulkan. Akan tetapi dari bencana Sinabung mengajarkan kita bahwa dampaknya jauh lebih dari itu. Memang kalau dilihat dari segi ekonomi, seperti pertanian yang menjadi tulang punggung penghasilan warga karo hancur. Komoditas seperti jeruk, kopi dan sayur mayur gagal panen dan tidak mendapatkan hasil. Kerugian sektor pertanian saat itu diperkirakan mencapai lebih dari Rp1 triliun (Pemprov Sumut, 2014).

Namun jika kita lihat lebih dalam dari dampak peristiwa Sinabung. Maka kita akan melihat luka batin yang dirasakan oleh masyarakat Karo. Bertahun-tahun hidup di pengungsian membuat masyarakat kehilangan rasa kepemilikan atas tanah leluhur. Banyak yang mengalami displacement trauma (trauma kehilangan ikatan dengan rumah dan budaya) yang merupakan rasa kehilangan ikatan dengan rumah dan budaya yang diwariskan turun-temurun. Anak-anak kehilangan ruang bermain, pendidikan terganggu, bahkan ada yang menghabiskan masa kecilnya di pengungsian. Studi LIPI (2016) menunjukkan banyak anak-anak pengungsi Sinabung mengalami kecemasan, mimpi buruk, bahkan penurunan motivasi belajar akibat kondisi pengungsian yang berkepanjangan. Trauma ini memang tidak kasat mata, tetapi dampaknya bisa jauh lebih lama daripada kerugian material

Dari sisi psikologi peristiwa erupsi gunung Sinabung bukan hanya sekedar fenomena geologi, melainkan suatu tragedi psikologi. Trauma pasca bencana sangat nyata dirasakan oleh korban seperti; kecemasan berlebih, kekhawatiran, hingga depresi. Hal itu diperparah saat di pengungsian hidup dengan penuh keterbatasan dan konflik sosial mudah muncul. Pada akhirnya, bencana alam dapat berubah menjadi bencana mental yang berlarut-larut bila tidak ditangani dengan serius.

Dibalik peristiwa bencana Sinabung yang kelam, hal ini juga memicu respon pemerintah. BNPB dan pemerintah daerah bergerak cepat untuk mengevakuasi dan membangun hunian sementara. Instrument dari TNI, Polri, relawan hingga Lembaga Swadaya Masyarakat saling membantu. BNPB kemudian membangun Hunian Tetap (Huntap) Siosar untuk 3.331 kepala keluarga atau sekitar 11.600 jiwa (BNPB, 2017). Desa-desa baru mulai berdiri, meski sebenarnya tidak mudah bagi warga karo untuk merelakan tanah leluhur. Relokasi yang dilakukan memang menyelamatkan nyawa, akan tetapi tidak sepenuhnya menyembuhkan luka batin yang menganga.

Pengetahuan tentang kebencanaan juga sudah diperkuat dimulai dari jalur evakuasi yang jelas, Latihan evakuasi digelar dan sistem peringatan dini di pasang. Anak-anak juga diberikan bekal tentang bagaimana menyelamatkan diri saat gunung Sinabung erupsi. Di lain sisi, dukungan psikososial juga masuk, meski belum merata. Sudah ada beberapa lembaga menghadirkan trauma healing pascabencana untuk anak, konseling bagi keluarga, serta pendampingan bagi warga agar sehat secara mental. Tak kalah penting, solidaritas masyarakat Indonesia terasa nyata membantu warga karo. Bantuan datang dari berbagai daerah, doa dipanjatkan bersama lintas agama, dan gotong royong menjadi penguat. Sinabung memang melukai, tetapi juga mempertemukan banyak orang dalam empati.

Peristiwa erupsi gunung Sinabung memberikan pelajaran penting bagi kita semua. Literasi kebencanaan adalah kebutuhan mendesak. Indonesia adalah negara yang kaya, milai dari keberagaman flora ataupun fauna dan sumber daya alam. Akan tetapi negara kita juga dilintasi oleh cincin api. Bencana besar seperti gunung meletus, gempa bumi, tsunami akan menjadi bagian dari kehiduapan kita. Maka dari itu generasi yang akan datang harus dibekali pengetahuan, bukan hanya dibiarkan belajar melalui penderitaan. Pengalaman Sinabung adalah “laboratorium pembelajaran” bangsa: bagaimana koordinasi pemerintah, peran relawan, hingga gotong royong masyarakat membentuk ketangguhan sosial (BNPB, 2020).

ketangguhan tidak hanya soal fisik, tetapi juga mental. Trauma pasca bencana sering kali luput menjadi perhatian kita. Luka ini memang tidak terlihat, akan tetapi trauma adalah luka yang membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Selanjutnya, kebersamaan adalah fondasi ketahanan. Peristiwa Sinabung menunjukkan bahwa pemerintah, masyarakat, ilmuwan, dan relawan akan berhasil jika saling bersinergi. Bencana memang tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa diminimalkan jika bangsa ini bekerja sama.

Kemarahan Sinabung adalah pengingat bagi kita semua, bahwa bencana bisa datang kapanpun. Bahkan dari gunung yang telah dianggap tertidur pulas. Dalam hal ini bisa dilihat bagaimana rapuhnya kita jika dihadapkan dengan alam. Jejak sejarah erupsi Sinabung bukan sekadar mengenang derita, melainkan menemukan pelajaran untuk masa depan. Bahwa ketangguhan bangsa lahir dari pengetahuan, kesiapan, dan solidaritas. Abu yang pekat memang pernah menutup langit Karo. Tetapi dari abu itulah, kita belajar bahwa cahaya ketangguhan bangsa bisa lahir selama kita berani berdiri kembali setelah jatuh.

 

 

Daftar Pustaka

 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (2010). Laporan Erupsi Gunung Sinabung 2010. Jakarta: BNPB.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (2017). Laporan Relokasi Hunian Tetap Siosar. Jakarta: BNPB.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (2018). Gunung Sinabung kembali meletus setinggi 5.000 meter — tidak ada korban jiwa. Foto diambil dari situs resmi BNPB. Diakses pada 11 September 2025 dari https://www.bnpb.go.id/berita/gunung-sinabung-kembali-meletus-setinggi-5000-meter-tidak-ada-korban-jiwa

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (2020). Literasi Kebencanaan Nasional. Jakarta: BNPB.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). (2016). Kajian Dampak Psikososial Pengungsi Sinabung. Jakarta: LIPI Press.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. (2014). Laporan Kerugian Ekonomi Dampak Erupsi Sinabung. Medan: Pemprov Sumut.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). (2014). Data Erupsi Gunung Sinabung. Bandung: PVMBG.

Comment (0)