...

Gempa Flores 1992: Dari Lindu ke Lintas Generasi

25 08 2025 Sejarah Putra Dewangga Candra Seta 1 Likes Bagikan :
Nusa Tenggara Timur (NTT), meskipun dikenal akan keindahannya, merupakan wilayah yang sangat rawan bencana, sebagaimana dibuktikan oleh Gempa Flores 1992 yang dahsyat. Peristiwa ini, yang menewaskan lebih dari 2.000 jiwa dan menyebabkan kerusakan infrastruktur parah, menyoroti kurangnya kesiapsiagaan awal namun sekaligus menunjukkan ketangguhan luar biasa masyarakat Flores. Mereka bangkit melalui semangat gotong royong dan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi. Pembelajaran kunci dari tragedi ini adalah pentingnya mengintegrasikan pengetahuan tradisional, seperti tanda-tanda alam tsunami, dengan sistem peringatan dini dan teknologi modern. Integrasi ini krusial untuk membangun budaya sadar bencana yang adaptif, menjadikan memori Gempa Flores 1992 bukan hanya sebagai luka, melainkan sebagai modal sosial dan pelajaran hidup berharga yang memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi ancaman di masa depan.

Deskripsi

Nusa Tenggara Timur (NTT) sering disebut sebagai salah satu permata timur Indonesia. Gugusan pulau-pulau kecil yang terhampar di Laut Flores hingga ke Laut Sawu menawarkan panorama memesona: garis pantai yang panjang, air laut biru jernih, terumbu karang yang kaya, serta pegunungan hijau yang memeluk desa-desa tradisional. Bagi wisatawan, NTT adalah surga. Namun, di balik keelokan itu tersimpan kenyataan lain: wilayah ini juga merupakan salah satu kawasan paling rawan bencana di Indonesia. Gempa bumi, tsunami, kekeringan, hingga badai tropis seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat (Lassa, 2018).

Salah satu peristiwa paling membekas dalam ingatan kolektif masyarakat NTT adalah Gempa Flores 12 Desember 1992. Bencana ini bukan sekadar guncangan seismik biasa; ia memicu tsunami besar yang merenggut ribuan nyawa dan meluluhlantakkan infrastruktur di Pulau Flores. Catatan resmi menyebutkan lebih dari 2.000 orang meninggal dunia, ribuan lainnya luka-luka, serta puluhan ribu kehilangan tempat tinggal (Prasetya, 1996). Dalam sejarah kebencanaan Indonesia, peristiwa ini menjadi salah satu gempa paling mematikan sebelum era modern sistem peringatan dini tsunami dibangun.

Namun, pertanyaan penting yang masih relevan hingga hari ini adalah: bagaimana masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana dapat bertahan, pulih, bahkan meneruskan kehidupan lintas generasi? Apakah tragedi hanya meninggalkan duka, atau justru menumbuhkan kearifan baru dalam menghadapi ancaman?

Gempa Flores 1992 bukan hanya catatan statistik bencana, melainkan juga kisah tentang daya tahan (resilience) masyarakat. Ia mengajarkan bagaimana trauma bisa diwariskan, tetapi juga bagaimana ingatan bencana dapat menjadi modal sosial untuk membangun ketangguhan generasi berikutnya (Gaillard & Mercer, 2013). Dalam konteks inilah, menelusuri jejak gempa Flores berarti menggali pelajaran yang melintasi batas waktu: dari lindu yang menghancurkan, lahirlah narasi ketabahan yang masih hidup hingga kini.

Artikel ini akan mengurai kronologi bencana, menganalisis proses penanggulangan, hingga menyingkap pembelajaran lintas generasi yang bisa dipetik. Sebab, sebagaimana pepatah lokal di Flores mengingatkan: “Luka boleh diwariskan, tapi kebijaksanaan harus dilanjutkan.”

Kronologi Bencana (Timeline)

Pada 12 Desember 1992, wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, diguncang oleh gempa bumi berkekuatan 7,8 Skala Richter. Pusat gempa berada di lepas pantai Flores, sekitar 35 kilometer di sebelah utara Maumere. Guncangan kuat ini tidak hanya merobohkan bangunan di daratan, tetapi juga memicu tsunami dahsyat yang menyapu pesisir utara Flores, termasuk Maumere, kota terbesar di Pulau Flores, serta Pulau Babi yang terletak di sekitarnya (Hidayati, 1993).

Gelombang tsunami dengan ketinggian hingga 25 meter di beberapa titik menghantam permukiman warga. Rumah-rumah di pesisir lenyap seketika, perahu-perahu hancur, dan lahan pertanian tertimbun pasir serta lumpur laut. Laporan resmi menyebutkan bahwa lebih dari 2.000 jiwa meninggal dunia, sementara 400 lebih orang mengalami luka-luka, dan ribuan warga lainnya kehilangan tempat tinggal (UNESCO, 1994).

Selain korban jiwa, dampak fisik bencana ini sangat luas: jalan raya rusak, jembatan putus, fasilitas umum hancur, dan sarana pendidikan lumpuh. Maumere, yang sebelumnya dikenal sebagai kota kecil dengan pelabuhan ramai, berubah menjadi kota sunyi penuh puing-puing. Trauma yang ditinggalkan tidak hanya dirasakan pada hari itu, tetapi bertahan bertahun-tahun kemudian, membentuk ingatan kolektif masyarakat Flores tentang rentannya kehidupan di daerah rawan bencana (Natawidjaja, 2007).

Peristiwa ini menandai salah satu bencana terbesar di Indonesia pada dekade 1990-an. Gempa Flores 1992 bukan hanya sekadar catatan sejarah, melainkan luka panjang yang menorehkan dampak lintas generasi bagi masyarakat NTT.

Analisis Penanggulangan

Sebelum bencana melanda, masyarakat Flores hidup dalam kondisi yang nyaris tanpa pengetahuan memadai tentang mitigasi gempa bumi dan tsunami. Sosialisasi terkait potensi bahaya alam hampir tidak ada, baik dari pemerintah maupun lembaga terkait. Padahal, kawasan Nusa Tenggara Timur secara geologis berada pada jalur pertemuan lempeng tektonik aktif, yang seharusnya menjadi dasar utama kesiapsiagaan (Puspito, 1994). Ketidaksiapan masyarakat ini menjadikan gempa Flores 1992 sebagai tragedi besar yang menelan korban sangat tinggi.

Ketika gempa berkekuatan 7,8 skala Richter mengguncang pada 12 Desember 1992, keadaan menjadi semakin buruk karena jalur komunikasi terputus dan akses transportasi terhambat. Bantuan logistik serta medis dari luar daerah memerlukan waktu lama untuk mencapai lokasi terdampak. Hal ini memperlihatkan lemahnya infrastruktur tanggap darurat yang kala itu masih bergantung pada jalur laut dan udara terbatas. Para penyintas harus berjuang sendiri di hari-hari awal pasca-gempa, mengandalkan apa yang ada di sekitar untuk bertahan hidup (UNESCO, 1994).

Namun, di balik keterlambatan bantuan, tumbuh kekuatan sosial dari masyarakat itu sendiri. Sesudah bencana, warga Flores mengandalkan semangat gotong royong untuk membangun kembali rumah, fasilitas umum, dan kehidupan sosial mereka. Lebih dari sekadar pemulihan fisik, lahir pula bentuk kearifan lokal yang berfungsi sebagai ingatan kolektif. Cerita-cerita tentang lindu besar 1992 dituturkan dari orang tua kepada anak-anak, menjadi semacam “arsip lisan” yang menjaga kewaspadaan lintas generasi. Inilah bukti bahwa meskipun secara struktural kesiapsiagaan masih lemah, masyarakat Flores berhasil menciptakan modal sosial yang berharga bagi mitigasi bencana ke depan (Gaillard, 2007).

Pembelajaran

Gempa Flores 1992 menjadi salah satu contoh nyata betapa pentingnya indigenous knowledge atau pengetahuan lokal dalam mitigasi bencana. Di banyak wilayah pesisir Flores, masyarakat menyimpan cerita-cerita turun-temurun mengenai “air yang tiba-tiba surut” sebagai tanda tsunami. Cerita ini diwariskan dalam bentuk dongeng atau nasihat, yang kemudian terbukti menyelamatkan sebagian warga ketika bencana melanda (Hiwasaki, 2014).

Nilai penting dari kearifan lokal ini adalah kemampuannya menjaga memori kolektif lintas generasi. Dalam masyarakat yang minim akses informasi modern saat itu, pengetahuan tradisional berperan sebagai alarm dini berbasis budaya. Anak-anak tumbuh dengan kisah tentang “ombak besar” yang harus diwaspadai, sehingga ketika bencana datang, mereka tahu apa yang harus dilakukan (Rahman, 2010).

Namun, pengalaman pahit juga menunjukkan bahwa kearifan lokal saja tidak cukup. Perubahan lingkungan, pertumbuhan penduduk, dan pembangunan pesisir membuat beberapa tanda alam sulit lagi dibaca. Oleh karena itu, integrasi antara pengetahuan tradisional dan teknologi modern menjadi kunci. Saat ini, keberadaan BMKG dengan sistem peringatan dini, sirine tsunami, serta edukasi kebencanaan di sekolah-sekolah dapat berjalan beriringan dengan cerita-cerita rakyat yang diwariskan orang tua (Gaillard & Mercer, 2013).

Model integrasi ini bukan hanya memperkuat ketahanan masyarakat, tetapi juga memperkaya cara generasi muda memahami risiko bencana. Dengan menghargai cerita nenek moyang sekaligus memanfaatkan teknologi, masyarakat Flores dapat membangun budaya sadar bencana yang berlapis, adaptif, dan relevan dengan zaman. Dengan demikian, ingatan tentang Gempa Flores 1992 tidak hanya menjadi luka, tetapi juga sumber kekuatan kolektif.

Bencana besar seperti Gempa Flores 1992 bukan hanya tercatat dalam angka statistik korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Lebih dari itu, ia meninggalkan jejak emosional, sosial, dan budaya yang terus hidup dalam memori masyarakat. Dalam setiap cerita yang disampaikan dari orang tua kepada anak, dari tetua kampung kepada generasi muda, terselip sebuah pesan: bahwa hidup di daerah rawan bencana adalah tentang kesadaran, kewaspadaan, dan kebersamaan.

Menjaga memori bencana menjadi sangat penting, bukan sekadar mengenang tragedi, melainkan sebagai modal ketangguhan. Ketika generasi muda mengetahui kisah bagaimana leluhur mereka berjuang bertahan pasca-gempa dan tsunami, mereka tidak hanya mewarisi trauma, tetapi juga kekuatan. Cerita tentang gotong royong membangun rumah, saling menolong tanpa pamrih, dan bangkit dari keterpurukan adalah bukti bahwa sebuah masyarakat bisa menjadikan luka sebagai sumber energi untuk bertahan hidup.

Memori bencana adalah modal sosial yang tidak boleh hilang. Ia perlu terus dirawat, dibagikan, dan dihidupkan melalui pendidikan formal maupun non-formal, lewat ritual adat, peringatan tahunan, atau bahkan integrasi dalam kurikulum sekolah. Generasi baru perlu tahu bahwa mereka hidup di wilayah indah yang sekaligus rapuh, dan hanya dengan kesadaran serta kesiapsiagaan, mereka bisa mengurangi risiko di masa depan.

Di era teknologi, memori ini juga perlu dikaitkan dengan inovasi modern. Dokumentasi digital, museum bencana, hingga pelatihan simulasi berbasis teknologi bisa menjadi sarana agar pengalaman masa lalu tidak lenyap ditelan waktu. Sinergi antara ingatan kolektif dan teknologi mutakhir akan menjadikan masyarakat Flores lebih tangguh menghadapi ancaman yang mungkin datang kembali.

Akhirnya, ingatan tentang Gempa Flores 1992 harus kita wariskan bukan sebagai luka semata, melainkan sebagai pelajaran hidup yang menguatkan. “Dari Flores, kita belajar bahwa luka bisa diwariskan, tapi juga bisa diwariskan sebagai pelajaran hidup.”

 

Daftar Pustaka

Gaillard, J. C. (2007). Resilience of traditional societies in facing natural hazards. Disaster Prevention and Management, 16(4), 522–544.

Gaillard, J. C., & Mercer, J. (2013). From knowledge to action: Bridging gaps in disaster risk reduction. Progress in Human Geography, 37(1), 93–114.

Hiwasaki, L. (2014). Local and indigenous knowledge for community resilience: Hydro-meteorological disaster risk reduction and climate change adaptation in coastal and small island communities. UNESCO.

Hidayati, D. (1993). Gempa dan Tsunami Flores 1992: Dampak dan Pembelajaran. Jakarta: LIPI.

Lassa, J. (2018). Disaster Risk Governance in Indonesia and the Philippines: The Practice of Co-production. Springer.

Latief, H., & Hadi, S. (2002). Tsunami Catalogue for Indonesia. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan.

Natawidjaja, D. (2007). Earthquake hazard in Indonesia: Lessons from the past and potential future risks. Journal of Earthquake Science, 20(6), 397–406.

Prasetya, G. (1996). Tsunami hazard associated with major earthquakes in Indonesia. Pure and Applied Geophysics, 147(4), 697–716.

Puspito, N. T. (1994). Seismicity and tectonics of Indonesia: Implications for earthquake and tsunami hazard. Journal of Natural Disaster Science, 16(1), 1–12.

Rahman, A. (2010). Indigenous early warning indicators of cyclones: Potential application in coastal Bangladesh. Indian Journal of Traditional Knowledge, 9(1), 115–121.

UNESCO. (1994). Assessment of the Flores Earthquake and Tsunami 1992. Paris: UNESCO.

United States Geological Survey (USGS). (1992). M 7.8 – Flores Region, Indonesia. Diakses dari https://earthquake.usgs.gov

Comment (0)