Banyu Emas: Legenda Air dan Ketangguhan Banyumas
Ringkasan
Deskripsi
Banyu Emas: Legenda Air dan Ketangguhan Banyumas
Pendahuluan
Nama Banyumas menyimpan paradoks: banyu berarti air, mas berarti emas—dua unsur yang menggambarkan kemakmuran dan kehidupan. Namun, ironisnya, wilayah ini justru berulang kali dilanda kekeringan. Fenomena ini memperlihatkan perbedaan tajam antara makna simbolis dalam nama dan kenyataan sehari-hari masyarakatnya.
Artikel ini berupaya menelusuri jejak sejarah dan budaya Banyumas melalui legenda banyu emas, menyandingkannya dengan catatan bencana kekeringan dari masa lalu hingga masa kini, serta menelaah kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi. Dengan pendekatan sejarah, antropologi, dan kebencanaan, artikel ini menunjukkan bahwa resiliensi masyarakat tidak hanya tumbuh dari teknologi modern, tetapi juga dari makna budaya dan pengalaman kolektif.
UNDRR (2015) menekankan bahwa ketangguhan komunitas lahir dari kemampuan “belajar dari pengalaman bencana masa lalu untuk menghadapi tantangan masa depan.” Dengan kerangka ini, Banyumas dapat menjadi studi kasus penting: bagaimana sebuah legenda lokal berkembang menjadi strategi mitigasi yang relevan di era krisis iklim.
Legenda Banyu Emas: Air Lebih Berharga dari Emas
Dalam Babad Banyumas diceritakan bahwa wilayah Selarong—nama lama Banyumas—pernah dilanda kemarau panjang yang sangat parah. Tanah merekah, sumur-sumur mengering, sawah retak, dan kehidupan sosial nyaris lumpuh. Hewan ternak banyak yang mati, hasil panen gagal, dan masyarakat terjebak dalam penderitaan berkepanjangan. Pada masa itu, muncul seorang pemuda asing yang datang dengan penampilan sederhana. Alih-alih disambut sebagai pembawa harapan, ia dituduh sebagai pembawa sial. Kecurigaan itu berujung pada penahanannya di penjara. Namun, ironi muncul tak lama kemudian: hujan deras turun dengan tiba-tiba, menyuburkan kembali tanah yang gersang. Air hujan itu dianggap begitu berharga, hingga masyarakat menyebutnya banyu emas—air yang nilainya melebihi emas karena membawa kehidupan di tengah kematian.
Legenda ini menarik untuk dianalisis dalam konteks sejarah dan budaya. Pertama, ia lahir dari pengalaman kolektif masyarakat agraris yang sangat bergantung pada air. Bagi petani, kekeringan berarti krisis pangan, ekonomi, dan sosial. Dengan demikian, kisah ini dapat dibaca sebagai cara masyarakat mengingat bencana melalui narasi simbolik. Kedua, legenda tersebut terkait dengan asal-usul nama Banyumas, yang dalam beberapa versi memang beragam: ada yang mengaitkannya dengan tokoh Joko Baya atau Raden Baribin, ada pula yang menekankan aspek “air emas” sebagai metafora kesuburan tanah. Munculnya legenda banyu emas bisa dipahami sebagai “arsip budaya”—bentuk lain dari dokumentasi sejarah bencana yang diwariskan lewat cerita rakyat.
Logika di balik legenda ini juga bisa dilihat dari cara masyarakat mengolah trauma kolektif. Bencana yang menghancurkan kehidupan tidak dituliskan dalam catatan ilmiah, tetapi ditransformasikan menjadi mitos agar lebih mudah diingat lintas generasi. Mitos itu memberi pesan moral: jangan menyepelekan air, karena pada saat tertentu nilainya bisa melampaui emas. Dalam konteks ini, legenda banyu emas bukan sekadar dongeng mistis, melainkan refleksi kultural atas hubungan manusia dengan air. Ia adalah bentuk lain dari sejarah, yang bukan ditulis dengan angka, tetapi dengan simbol, cerita, dan memori sosial.
Kekeringan Banyumas: Jejak Sejarah yang Terulang
Fenomena kekeringan di Banyumas bukan sekadar cerita legenda. Catatan resmi pemerintah daerah, media massa, hingga pengalaman warga menunjukkan bahwa kekeringan menjadi bencana berulang yang membentuk identitas lokal.
Tabel 1. Peta Kekeringan Banyumas 2005–2025
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Data ini menunjukkan dua hal penting. Pertama, kekeringan bukan fenomena sesaat, tetapi bencana berulang yang meningkat secara frekuensi dan intensitas. Kedua, kebutuhan bantuan air semakin besar, menandakan bahwa kapasitas infrastruktur air bersih belum memadai.
Kondisi 2024 sangat mencolok. Pada Agustus, 9.652 jiwa di 13 desa, 8 kecamatan mengalami krisis air bersih. Sebulan kemudian, jumlah terdampak melonjak ke 43 desa di 18 kecamatan, melibatkan 35.111 jiwa. Total air yang disalurkan mencapai 2 juta liter—jumlah yang menunjukkan betapa seriusnya krisis tersebut.
Refleksi Sejarah Lokal: Dari Gentong ke Galon
Sejarah lokal Banyumas menunjukkan bahwa masyarakatnya memiliki tradisi dalam menghadapi kekeringan. Gentong tanah liat digunakan sebagai wadah penyimpanan air hujan. Ia berfungsi sebagai “bank air” yang sederhana namun efektif. Kini, masyarakat lebih bergantung pada air galon dan bantuan dropping air. Pergeseran ini menandakan pergeseran paradigma: dari swasembada berbasis gotong royong menjadi ketergantungan pada pasar dan negara. Modernisasi tanpa konservasi melahirkan risiko baru: hilangnya kemandirian lokal. Dari kacamata antropologi bencana, perubahan dari gentong ke galon adalah simbol transformasi sosial. Ia menunjukkan bagaimana perubahan gaya hidup berpengaruh langsung terhadap kerentanan masyarakat.
Kearifan Lokal: Modal Sosial untuk Ketangguhan
Meskipun tradisi menyimpan air dalam gentong mulai hilang, masyarakat Banyumas tetap memiliki kearifan lokal yang menjadi modal sosial untuk bertahan menghadapi kekeringan. Gotong royong masih menjadi kekuatan utama, terutama dalam membangun penampungan air hujan sederhana di rumah-rumah atau fasilitas desa. Di beberapa wilayah, seperti Desa Kalitapen dan Panusupan, warga berinisiatif memanfaatkan talang dan tandon untuk menampung air hujan bersama-sama, sebuah praktik yang diwarisi dari leluhur tetapi kini diberi sentuhan teknologi modern. Selain itu, ritual sedekah bumi dan tolak bala masih dijalankan di desa-desa, bukan hanya sebagai bentuk spiritualitas, tetapi juga sebagai sarana memperkuat solidaritas. Tradisi ini menjadi ruang pertemuan sosial yang mempererat hubungan antarwarga, sehingga pada saat krisis, jaringan sosial tetap terjaga.
Selain aspek ritual, pengelolaan mata air secara komunal juga menjadi bagian penting dari strategi lokal. Di Kecamatan Somagede dan Gumelar, misalnya, warga masih melakukan ronda bergilir untuk menjaga sumber air agar tidak dirusak atau dieksploitasi berlebihan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa ketika hutan di sekitar mata air terjaga, aliran air tetap stabil meskipun kemarau panjang.
Sementara itu, pemerintah daerah dan lembaga terkait mulai mengintegrasikan warisan budaya ini dengan pendekatan modern. BPBD Banyumas sejak 2024 melakukan inventarisasi 52 mata air di wilayah rawan kekeringan sebagai langkah antisipasi jangka panjang. BNPB juga meluncurkan Portal Literasi Sejarah Bencana untuk mendokumentasikan kisah dan pengetahuan lokal agar dapat dijadikan sumber pembelajaran. Bahkan Kementerian Pertahanan telah membangun sumur bor di beberapa desa seperti Wangon dan Cilongok, untuk memastikan akses air bersih tidak sepenuhnya bergantung pada dropping air tangki. Perpaduan antara kearifan lokal dan intervensi modern ini memperlihatkan bahwa local wisdom dan modern science dapat berjalan beriringan, membentuk ketangguhan Banyumas dalam menghadapi bencana berulang.
Transformasi Makna: Dari Legenda ke Strategi Mitigasi
Legenda banyu emas bukan sekadar cerita rakyat. Ia adalah alat edukasi yang mengajarkan bahwa air adalah sumber daya yang lebih berharga dari emas. Dalam konteks modern, narasi ini menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran risiko. Pendekatan ini sejalan dengan Rencana Induk Penanggulangan Bencana (RIPB) 2020–2044 (Perpres No. 87/2020), yang menekankan pentingnya mengintegrasikan budaya lokal dalam strategi ketangguhan nasional. Dengan menjadikan legenda sebagai narasi edukasi, generasi muda dapat belajar bahwa menjaga sumber daya air adalah bagian dari identitas sekaligus kewajiban kolektif
Rekomendasi Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Budaya Lokal
Strategi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang lebih terarah dan konkret diperlukan untuk memperkuat ketangguhan Banyumas dan Indonesia secara umum. Salah satunya adalah pendidikan kebencanaan berbasis legenda lokal. Kisah banyu emas dapat dimasukkan dalam kurikulum Sekolah Aman Bencana (SPAB) sebagai sarana literasi budaya dan kebencanaan, sehingga generasi muda tidak hanya belajar tentang bahaya alam, tetapi juga memahami nilai kearifan lokal dalam menghadapi krisis. Dengan demikian, legenda yang diwariskan turun-temurun tidak berhenti sebagai cerita rakyat, melainkan menjadi instrumen edukasi yang membentuk kesadaran kolektif.
Di sisi lain, perlu pula inovasi praktis seperti pendirian bank air desa. Tradisi menyimpan air dalam gentong dapat dihidupkan kembali dengan teknologi modern seperti toren dan filterisasi sederhana, sehingga setiap rumah tangga memiliki cadangan air saat musim kemarau panjang. Upaya ini dapat diperkuat dengan inventarisasi digital mata air. Melalui teknologi GIS dan aplikasi berbasis komunitas, mata air dapat dipetakan secara akurat sehingga distribusi air menjadi lebih cepat, adil, dan tepat sasaran.
Semua langkah ini akan lebih efektif jika dijalankan dengan kolaborasi pentaheliks, yaitu keterlibatan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media. Dengan kerja sama tersebut, mitigasi bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab negara, melainkan gerakan bersama. Edukasi publik kreatif juga menjadi kunci, misalnya melalui poster, lomba menulis, hingga kampanye media sosial yang mengangkat kisah lokal. Melalui kombinasi tradisi dan inovasi, legenda banyu emas tidak lagi sekadar cerita masa lalu, tetapi berubah menjadi strategi mitigasi nyata yang menginspirasi bangsa untuk menghadapi tantangan iklim di masa depan.
Penutup
Banyumas, dengan nama yang mengandung makna kemakmuran air, menyimpan pelajaran penting tentang ketangguhan. Legenda banyu emas bukan hanya warisan budaya, tetapi juga cermin bagaimana masyarakat menafsirkan bencana dan membangun strategi bertahan.
Data terkini menunjukkan bahwa kekeringan adalah ancaman nyata yang berdampak pada puluhan ribu jiwa. Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa Banyumas selalu menemukan cara untuk bertahan—dari gentong tanah liat hingga bank air modern, dari ritual sedekah bumi hingga kolaborasi pentaheliks.
Banyumas adalah cermin Indonesia. Dengan menggali jejak sejarah bencana dan mengangkat kearifan lokal, kita tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga membangun masa depan bangsa yang lebih tangguh menghadapi krisis iklim global.
Daftar Pustaka
Adger, W. N., Hughes, T. P., Folke, C., Carpenter, S. R., & Rockström, J. (2005). Social-ecological resilience to coastal disasters. Ecology and Society, 10(2), 1–15.
Antara News. (2025, 22 April). Antisipasi bencana kekeringan di Banyumas. Antara Jateng.
Babad Banyumas. (n.d.). Naskah Tradisional Jawa Tengah. Manuskrip Jawa.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (2018). Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI). Jakarta: BNPB.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas. (2023). Laporan Kekeringan Wilayah Banyumas. Purwokerto: BPBD Banyumas.
Banyumas Ekspres. (2025, 28 Juni). BPBD Banyumas siaga kekeringan 2025: Wilayah rawan dapat prioritas dropping air bersih. Banyumas Ekspres.
Kompas. (2024, 12 Agustus). Kekeringan di Banyumas meluas: 9.652 jiwa krisis air bersih. Kompas Regional.
Kompas TV. (2024, 5 November). Kekeringan 5 bulan, 28.000 liter air disalurkan ke Banyumas. Kompas TV Regional.
Suara Merdeka. (2024, 18 September). Jumlah wilayah terdampak kekeringan di Banyumas capai 43 desa. Suara Merdeka Banyumas.
United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR). (2015). Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015–2030. Geneva: UNDRR.