...

Banten Tangguh Bencana dengan Kearifan Lokal: Gempa Bumi dan Tsunami di Banten dalam Kajian Historis

24 09 2025 Lomba Kategori Umum Khopipah Fauziah 1 Likes Bagikan :
Ringkasan: Banten Tangguh Bencana dengan Kearifan Lokal Banten secara historis merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap bencana gempa bumi dan tsunami, seperti yang tercatat sejak letusan Gunung Kapi pada 416 M hingga letusan Krakatau 1883 yang dahsyat, serta serangkaian gempa kuat lainnya di berbagai abad. Mengingat kerentanan geologis yang tinggi ini, upaya penanggulangan bencana di Banten tidak hanya harus mengandalkan teknologi modern, tetapi juga secara aktif mengintegrasikan dan melestarikan kearifan lokal. Berbagai tradisi dan cerita lisan seperti "Bayah bakal dikumbah" di Lebak, anjuran mengamati perilaku hewan di Pandeglang, konsep "urat gunung kendeng", penggunaan bambu dalam konstruksi tahan gempa, dan tradisi "Haul Kalembak" di Caringin, merupakan bentuk pengetahuan adaptif masyarakat yang telah teruji waktu. Penting bagi pemerintah daerah, masyarakat, dan komunitas untuk berkolaborasi dalam menggali, meneliti secara ilmiah, mempopulerkan, dan mengaplikasikan kearifan lokal ini, bahkan mengintegrasikannya ke dalam kurikulum pendidikan, guna membangun kesadaran mitigasi bencana yang berkelanjutan dan mewujudkan Banten yang tangguh.

Deskripsi

BANTEN TANGGUH BENCANA DENGAN KEARIFAN LOKAL: GEMPA BUMI DAN TSUNAMI DI BANTEN DALAM KAJIAN HISTORIS

 

Khopipah Fauziah, Nugroho Bayu Wijanarko, Ardela Iga Pratiwi

E-mail: khopipahfauziah@students.unnes.ac.id

Ilmu Sejarah, FISIP, Universitas Negeri Semarang

 

Pendahuluan

Bencana terjadi karena keteraturan alam yang tidak dapat direncanakan, dicegah, ataupun direkayasa oleh manusia (Handayaningsih, 2018). Indonesia telah akrab dengan bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi dan bencana lainnya. Secara geologis, Indonesia terletak pada batas pertemuan tiga lempeng tektonik dunia yaitu Lempeng Benua Eurasia, Lempeng Samudera Indo-Australia dan Lempeng Samudera Pasifik sehingga memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap gempa bumi dan tsunami (Sadly dkk, 2018).

Salah satu wilayah yang menjadi langganan bencana-bencana tersebut ialah Banten. Tinggalan-tinggalan sejarah baik berupa cerita lisan maupun naskah-naskah kuno menceritakan tentang kejadian-kejadian bencana alam yang melanda wilayah ini. Kisah tertua sejarah kebencanaan di Banten tertulis dalam Kitab Jawa “Pustaka Raja” mencatat kejadian erupsi Gunung Kapi -diyakini sebagai Gunung Krakatau Purba- (Cahyadi, 2019). Gunung ini mengalami erupsi sehingga menimbulkan tsunami di Selat Sunda pada 338 Saka atau 416 M (Mardiyanto dkk, 2019). Selain ancaman letusan Gunung Krakatau, yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah ancaman gempa bumi darat dan laut. Gempa di Banten terjadi karena kondisi geologi berupa sistem sesar yang dipengaruhi daya mendorong dari lempeng Indo-Australia ke arah utara serta sesar Sumatera atau sesar Semangko memanjang hingga ke Ujung Kulon. Di Ujung Kulon sendiri terdapat sesar aktif bernama sesar Ujung Kulon (Sururoh dkk, 2020). Sesar ini sering menimbulkan gempa yang cukup kuat seperti gempa 6,5 SR pada 16 Oktober 2009 dan gempa 6,9 SR pada 2 Agustus 2019 (Tempo, 2023).

Belum lagi Banten berada dalam salah satu segmen Megathrust di bagian selatan Jawa yang memanjang hingga Selat Sunda (Segmen Enggano). Terdapat istilah seismic gap yaitu kawasan tektonik aktif yang jarang mengalami gempa namun berpotensi mengakibatkan gempa berkekuatan besar. Menurut Sri Widiyantoro, tidak terdapat gempa magnitudo 8 atau lebih dalam beberapa ratus tahun terakhir sehingga adanya indikasi ancaman gempa tsunami dahsyat di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa (Fakhruddin, Prestianta, & Kustiwa, 2022). Potensi lainnya yang menyebabkan gempa berupa pelepasan energi dari rotasi sesar Sumatera dan dorongan subduksi dari bagian selatan Jawa. Aktivitas ini memungkinkan aktifnya Anak Gunung Krakatau dan gunung api lainnya (Sururoh dkk, 2020).

 

Pembahasan

Banten dalam Lintasan Zaman: Sejarah Panjang Gempa Bumi dan Tsunami

Rentetan peristiwa gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Banten bukanlah hal yang baru. Banten memang telah sejak lama aktif sehingga aktivitas seismik sudah menjadi takdir geologis yang terjadi lebih dari berabad-abad lalu. Peristiwa tsunami pertama yang tercatat dalam sejarah Banten terjadi pada 416 M akibat letusan Gunung Kapi (Sadly dkk, 2018). Saking dahsyatnya letusan ini sehingga gelombang tsunami mencapai daerah pegunungan menenggelamkan pennduduk dan harta bendanya serta memisahkan sebuah daratan hingga menjadi dua bagian (Soloviev & Go, 1974).

Pada 5 Januari 1699, gempa kuat mengguncang Batavia dan Bantam (Banten) terasa hingga daerah Jawa Barat dan Sumatera menyebabkan kerusakan di sejumlah gedung dan lumbung hingga korban hilang mencapai 28 orang (Sururoh dkk, 2020). Gempa ini juga menyebabkan tanah longsor dan semburan lumpur serta gempa susulan selama lebih dari setahun (Albini dkk, 2013). Sebanyak 1.000 orang dari daerah pedalaman dipekerjakan untuk membersihkan pohon yang tumbang serta memperbaiki saluran air yang meluap (Hajenius & Lauremberg, 1701).

Gempa bumi besar maupun kecil sering terjadi di Bantam pada abad ke-18. Gempa besar pada Oktober 1722 menyebabkan air laut naik (Soloviev & Go, 1974). Pada 24 Agustus 1757, gempa bumi magnitudo 7,5 mengguncang Bantam dan Batavia selama 5 menit mengakibatkan air Sungai Ciliwung naik hingga di atas 0,5 meter di atas permukaan normal (Sadly dkk, 2018; Soloviev & Go, 1974). Gempa besar lainnya terjadi pada 22 Januari 1780 berkekuatan 8,5 SR diawali dengan suara gemuruh di bawah tanah selama 3 menit membuat 20 rumah hancur dan mengalami keretakan. Gempa susulan terus berlangsung selama satu tahun (Radermacher, 1780).

Pada abad ke-19, gempa besar diawali pada 10 Oktober 1834 dirasakan di Bantam, Batavia, Karawang, Bogor hingga Priangan (Javansche Courant, 15 Oktober 1834). Dari 4 hingga 27 Juni 1848, Bantam diguncang gempa sebanyak 80 guncangan (Buddingh, 1851). Pada 4 Mei 1851, guncangan gempa bumi sebanyak 2 kali dirasakan diiringi suara gemuruh dari kejauhan. Kapal-kapal yang tertambat di pelabuhan berderak sangat kencang. Tak lama kemudian, air laut surut sejauh 0,5 meter namun menjadi naik setelahnya setinggi 1-1,5 meter (Cahyadi, 2019). Beberapa guncangan gempa terasa pada tanggal 9 Januari 1852. Tiga guncangan yang sangat kuat dan 4 guncangan yang ringan lebih terasa secara beruntunan dan berlangsung selama 2 menit menyebabkan runtuhnya atap masjid kuno di Caringin (Javansche Courant, 17 Januari 1852). Pada malam hari, laut bergemuruh dan air tiba-tiba naik sangat cepat sehingga membuat perahu-perahu kecil mulai bergerak. Air laut kemudian surut dengan cepat dan kemudian naik lagi lebih tinggi dan cepat. Fenomena ini berulang beberapa kali (Lange, 1852).

Selain ancaman gempa, terdapat pula ancaman dari Gunung Krakatau yang tidak aktif selama dua abad, keaktifannya ditandai dengan banyaknya gempa dari tahun 1880-1883 di sepanjang Selat Sunda. Kemungkinan besar gempa ini terjadi akibat pergeseran tanah yang mempersiapkan letusan besar Krakatau. Pertanda paling dahsyat adalah gempa pada 1 September 1880. Gempa terasa sangat kuat di Bantam sehingga menyebabkan rumah-rumah retak dan runtuh (Sandick, 1890). Pada 2 September 1880, gempa kembali mengguncang Bantam dengan sangat kuat sehingga menyebabkan lampu di mercusuar padam dan bandul jam pengatur di menara terputus dari pegasnya (Zierikzeesche Courant, 16 Oktober 1880).  Pada 1 sampai 2 Desember 1880, gempa yang cukup kuat kembali mengguncang Caringin (PGNC, 16 September 1881). Gempa sering terjadi di Bantam pada tahun-tahun berikutnya meskipun intensitasnya sangat rendah. Sayangnya, tidak seorang pun memberi perhatian khusus pada gempa di bulan Mei 1883 yang teramati di sekitar Selat Sunda yang akhirnya menimbulkan sebuah bencana besar (Sandick, 1890). Sebuah telegram dari Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang diterima oleh Departemen Koloni menyebutkan bahwa Krakatau meletus pada tanggal 26 Agustus 1883 mengakibatkan hujan abu yang menghancurkan sebagian besar wilayah Bantam Utara (Twentsche Courant, 1 September 1883). Ketinggian lahar letusan mencapai 135 meter jatuh ke laut sehingga air laut menjadi naik hingga mencapai ketinggian 10 meter (Sulaiman & Ridwan, 2019). Pada tanggal 27 Agustus pagi, gelombang pasang besar teramati di Selat Sunda hingga 30 meter. Peristiwa ini merengut korban sebanyak 36.417 jiwa dan 297 desa mengalami kerusakan.

Awal abad ke-20, gempa magnitudo 7,9 di selatan Bantam menyebabkan kerusakan diding bangunan di Bantam Utara pada 27 Februari 1903 (Sururoh dkk, 2020). Pada 26 Maret 1928, Krakatau kembali erupsi sehingga menyebabkan kenaikan air laut di sekitar gunung tersebut (Cahyadi, 2019). Pada 27 Mei 1929, Observatorium mencatat gempa bumi yang cukup kuat di Bantam hingga menyebabkan seismograf mengalami malfungsi, jarum penunjuknya bergerak keluar dari gulungan perekam (Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 31 Mei 1929). Pada 22 April 1958, terjadi 3 gempa kuat di Banten disertai dengan banjir pasang dan tinggi gelombang yang berangsur-angsur meningkat (Soloviev & Go, 1974). Pada 16 Desember 1963, gempa bumi magnitudo 6,5 mengakibatkan tsunami setinggi 0,7 meter di Labuan menyebabkan kerusakan ringan (Sadly dkk, 2018; Cahyadi, 2019). Pada 9 November 1974, gempa magnitudo 6,1 SR menyebabkan retakan di dinding rumah dan merobohkan satu rumah di Leuwiliang.  Kegempaan di Selat Sunda di atas 2,5 SR cukup tinggi. Pada tahun 1985 terjadi 29 kali, tahun 1986 14 kali, tahun 1987 8 kali, tahun 1988 13 kali, tahun 1989 12 kali, dan tahun 1990 6 kali guncangan. Tahun 1994 terdapat 2.456 kali gempa dan tahun 1993 sebanyak 1.692 kali (Fauzi dkk, 2020). Gempa-gempa ini masih terus mengguncang Banten meskipun dalam skala kecil. Berdasarkan catatan peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Banten memang memiliki kerentanan dari segi geologis sehingga memerlukan suatu pendekatan tanggap bencana yang berkelanjutan dan bisa diterapkan dalam masyarakat Banten sendiri.

 

Mewujudkan Banten Dinamis: Tangguh Menghadapi Bencana

Data Kajian Risiko Bencana (KRB) menunjukkan bahwa tingkat bahaya dan risiko seperti gempa dan tsunmai di Banten sebagian besar benilai tinggi sehingga perlu perhatian khusus. Lebih dari 45% wilayah Banten merupakan daerah rawan gempa, di antaranya bagian selatan dan barat berpotensi tinggi mengalami gempa tektonik (Sururoh dkk, 2020). Oleh karenanya diperlukan langkah-langkah yang pasti untuk mempersiapkan diri di masa mendatang. Bentuk upaya penanggulangan bencana di Indonesia didominasi oleh penggunaan teknologi atau sistem. Selain itu, kearifan lokal dan pendidikan kebencanaan juga perlu dilakukan dalam upaya ini. Kearifan lokal memegang peranan penting dalam literasi kebencanaan dalam suatu komunitas. Pemahaman ini berhubungan dengan lingkungan agar mendapatkan kepercayaan dari masyarakat sehingga dapat memainkan peranan penting dalam mitigasi bencana baik dalam tingkat individu maupun komunitas (Fakhruddin, Prestianta, & Kustiwa, 2022).

Banten dalam hal ini memiliki banyak kearifan lokal terkait dengan mitigasi bencana. Di Kabupaten Lebak terdapat cerita Bayah bakal dikumbah artinya suatu saat nanti Bayah akan dilanda tsunami atau caah laut. Bila terjadi caah laut, para leluhur berpesan agar mengungsi ke daerah Kiara Payung dan Bungkeureut. Sementara itu, leluhur di Kampung Paniis, Pandeglang berwasiat bila terjadi caah laut untuk mengambil air tsunami dengan priuk lalu merebusnya hingga habis. Waktu untuk merebus air dikatakan sama dengan waktu gelombang surut. Mereka juga menganjurkan untuk membawa hewan seperti ayam dan kucing karena peka terhadap kondisi alam. Selain itu, gelagat dan perilaku aneh hewan seperti buaya muara atau hewan ternak dapat menjadi pertanda bagi warga Tamanjaya akan adanya bencana (Sururoh dkk, 2020). Cerita caah laut dan cerita lisan lainnya perlu diaplikasikan dan direlokasikan dalam mata pelajaran daerah. Hal ini digunakan untuk meningkatkan kesadaran mitigasi bencana dan bagaimana menyikapi ramalan atau pesan yang tersirat dalam tradisi lisan tersebut. Penanggulangan bencana harus direncanakan dengan baik untuk membangun kesadaran yang lebih tinggi untuk guru dan siswa seperti membentuk kelompok mitigasi bencana sekolah dan menjadwalkan simulasi bencana (Sardjijo dkk, 2024).

Cerita lainnya yaitu keberadaan urat gunung kendeng. Kisah ini menyatakan bahwa Pulau Jawa selayaknya sebuah tubuh yang diikat oleh urat. Ketika salah satu urat mengalami sesuatu maka akan tersambung dengan urat lainnya (Sururoh dkk, t.t.). Orang Baduy meyakini bahwa urat kendeng ini harus dijaga agar tidak terjadi bencana, sementara Kasepuhan Cicarucub menganggap bahwa urat kendeng merupakan sebuah tali yang memperkuat ikatan batin antar wilayah. Warga Kecamatan Panggaran memiliki penamaan lokal terkait aktivitas bencana seperti sidat untuk segmen patahan dan urat berarti sesar (Sururoh dkk, 2020). Istilah urat gunung kendeng di masyarakat Baduy, Kasepuhan Cicarucub dan Kecamatan Panggaran hendaknya ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah dengan melakukan penelitian ilmiah untuk membuktikan kebenarannya sehingga dapat dijadikan dasar kebijakan mitigasi bencana. Selain itu, penamaan lokal untuk bencana gempa seperti sidat dan urat perlu dipopulerkan dan dijelaskan lebih lanjut kepada masyarakat sekitar.

Tanaman bambu dianggap mampu menahan guncangan dan getaran gempa. Sebuah arsip kolonial tahun 1850 memasukan bambu ke dalam peraturan wilayah termasuk untuk desain rumah. Jauh sebelum pemerintah kolonial memasukannya ke dalam peraturan, orang-orang Baduy membangun rumah dengan menggunakan bambu dan kayu karena memiliki kekuatan untuk menyerap dan menahan guncangan kuat. Kombinasi kedua material ini dianggap aman serta tidak mudah runtuh akibat gempa bumi (Sururoh dkk, 2020). Meskipun belum ada penelitian ilmiah terkait tanaman bambu yang dapat meredam getaran gempa, namun beberapa penelitian menyebutkan bahwa bambu sangat efektif dalam membuat susunan tanah yang kuat untuk mencegah longsor dan menyerap air. Hal ini karena bambu memiliki akar serabut yang dapat mengikat permukaan tanah sehingga risiko erosi dan longsor dapat berkurang (LIPI, 2017). Jika demikian, bambu dapat ditanam di area-area rawan longsor untuk mengurangi dampak longsoran tanah akibat gempa. Bambu juga dapat ditanam secara massif di pinggiran sungai atau daerah rawan gempa di seluruh Banten. Selain untuk mencegah kerusakan akibat gempa, bambu bisa digunakan sebagai bahan material yang murah dan ramah lingkungan. Pemerintah Banten juga dapat membuat kebijakan terkait penggunaan bambu sebagai bahan material bangunan di daerah rawan gempa. Rumah-rumah di area rawan gempa sebaiknya kembali menggunakan desain rumah panggung Sunda atau rumah orang Baduy yang dianggap tahan gempa untuk meminimalisir kehancuran.

Ingatan tentang bencana seperti peristiwa letusan Krakatau 1883 (Haul Kalembak) harus terus dilestarikan. Haul berarti kegiatan untuk mengenang sesuatu, sementara kalembak (bahasa Sunda) berarti terkena atau terseret ombak. Tradisi ini dilakukan di Caringin sebagai memori kolektif dari letusan Krakatau 1883 direfleksikan dalam doa-doa yang dipanjatkan (Sururoh dkk, 2020). Haul Kalembak merupakan salah satu cara masyarakat untuk mengingat dan mengenang kejadian tsunami akibat letusan Gunung Krakatau 1883 (Sururoh dkk). Ingatan tentang Krakatau juga terukir dalam salah satu dinding Wihara Avalokitesvara yang menjadi tempat berlindung warga ketika letusan terjadi (Sulaiman & Ridwan, 2019). Tradisi ini bukan hanya untuk dikenang tapi juga sebagai peringatan agar tetap waspada akan bencana di masa mendatang.

Masyarakat seringkali memiliki pemahaman terkait bencana di lingkungannya masing-masing dibandingkan dengan pemangku kebijakan karena mereka terhubung dengan kondisi nyata di lapangan (Pratama & Hiram, 2019). Kearifan lokal yang ada akan lebih maksimal apabila mendapat dukungan dari masyarakat, komunitas dan pemerintah. Pemerintah sebagai pemangku kebijakan berkewajiban untuk membuat kebijakan yang mampu melindungi segenap masyarakat dari ancaman bencana. Kebijakan ini dapat berupa perpaduan antara kearifan lokal dengan penelitian ilmiah yang dilakukan sehingga keduanya dapat saling berkesinambungan. Sementara masyarakat dan komunitas dapat berperan sebagai stakeholder untuk memperluas, menyebarkan dan memberi informasi terkait kearifan lokal yang terdapat di Banten.

 

Kesimpulan

Gempa yang sering terjadi di Banten bukanlah hal baru, tetapi telah terjadi sejak ratusan tahun lalu. Oleh karena itu, pengetahuan lokal yang lahir dari respon masyarakat terhadap situasi bencana di masa lalu dapat dijadikan pembelajaran untuk mengurangi risiko bencana di masa mendatang. Seperti cerita caah laut di Lebak dan Pandeglang perlu diaplikasikan dan direlokasikan dalam mata pelajaran daerah dari tingkat sekolah dasar hingga menengah untuk meningkatkan kesadaran mitigasi bencana. Kearifan lokal lainnya perlu digali agar pemerintah daerah dapat membuat kebijakan untuk mitigasi bencana berdasarkan nilai-nilai dan tradisi yang ada di masyarakat.

 

Daftar Pustaka

Albini, P., dkk. (2013). Global Historical Earthquake Archive and Catalogue (1000-1903). GEM Technical Report.

Buddingh, S.A. (1851). Indisch Arhief Tjidschrift voor De Indien. Lange & Co.

Cahyadi, F.D. (2019). Sejarah Tsunami di Selat Sunda sebagai Dasar Pembangunan Wilayah Pesisir Banten. Prosiding Seminar Nasional: Revitalisasi Nilai Budaya dan Sejarah Bahari Banten sebagai National Character Building.

Fakhruddin, I., Prestianta, A.M., & Kustiwa. A. (2022). Memasyarakatkan kembali Dongeng sebagai Alat Komunikasi Kebencanaan di Panggarangan, Lebak Selatan. Jurnal Sinergitas PkM dan CSR, 6(2).

Fauzi, A., dkk. (2020). Menyimak Fenomena Tsunami Selat Sunda. JURNAL GEOGRAFI: Geografi dan Pengajarannya, 18(1), 43-62.

Hajenius, J., & Lauremberg, P. (1701). ACERRA PHILOLOGICA.

Javansche Courant, 15 Oktober 1834; 17 Januari 1852.

Handayaningsih, S. (2018). Bersahabat dengan Bencana Alam. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 31 Mei 1929.

Lange, S.H.D. (1852). Geographie, Geologi, Geognosie, Oryktognosie, Meteorologi, Inorganische Chemi. Waarnemingenvoor de Astronomische Plaatsbepaling van Batavia.

Mardiyanto, D., dkk. (2019). Merawat Ingatan: Bencana Alam dan Kearipan Lokal di Pulau Jawa. Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

PGNC, 16 September 1881.

Radermacher, J.C.M. (1780). Bericht Wegens de Zwaare Aardbeving van den 22 January 1780.

Sadly, M., dkk. (2018). Katalog Tsunami Indonesia Tahun 416-2017. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.

Sandick, R.A.V. (1890). In Het Rijk van Vulcaan: De Uitbarsting van Krakatau en Hare Gevolgen. W.J. Thieme & Cie.

Sardjijo, dkk. (2024). Raising Awareness of Disaster Mitigation Literacy: Shaping Student Character in Reducing Disaster Risk through Local Folklore of South Lebak Banten. International Journal of Arts and Social Science, 7(10).

Solihuddin, T., dkk. (2020). Dampak Tsunami Selat Sunda di Provinsi Banten dan Upaya Mitigasinya. JURNAL SEGARA, 16(1), 15-28.

Soloviev, S.L., & Go, CH.N. (1974). Catalogue of Tsunamis on the Western Shore of teh Pacific Ocean. Nauka Publishing House.

Sulaiman, F., & Ridwan, A. (2019). STUDI KEBANTENAN dalam Perspektif Budaya dan Teknologi. UNTIRTA PRESS.

Sururoh, L., dkk. (2020). Banten: Memori dan Pengetahuan Lokal tentang Bencana. Perkumpulan Skala Indonesia dan Yappika Indonesia.

Sururoh, L., dkk. Ingatan Kolektif dan Pengetahuan Lokal Mengenai Bencana di Banten. Yayasan Skala Indonesia.

Tempo, Riwayat Sesar Ujung Kulon Sesar Aktif Penyebab Gempa Banten, 11 Mei 2023.

Twentsche Courant, 1 September 1883.

Verbeek, R.D.M. (1884). Kort Verslag over de Uitbarsting van Krakatau op 26, 27 en 28 Augustus 1883. Landsdrukkerij.

Zierikzeesche Courant, 16 Oktober 1880.

Comment (0)