Kliping Koran - Uit Onze Oost: De Aardbeving op Sumatra

SUMATERA BARAT 0 Likes Bagikan :

Arsip Koran

Dari timur kita Gempa Sumatera. Padang Panjang hampir hancur. Diduga banyak yang tewas dan terluka. Akibat terputusnya sambungan telegraf, menurut Aneta (Algemeen Nieuws-en Telegraaf-Agentschap/ Keagenan umum Berita dan Telegraf) dari Padang, masih belum bisa mendapatkan pesan positif lagi dari dataran tinggi. Sambungan telegraf dengan Fort de Kock terputus setelah setengah cuaca pada Senin sore. Inspektorat pos meminta informasi kepada Sibolga melalui kabel laut dan mengetahui bahwa Fort de Kock berjalan dengan baik. Danau Singkarak di kaki Gunung Talang disebut-sebut sangat angker sehingga menimbulkan dugaan Talang sebagai penyebab gempa. Menurut laporan kota Anu, Tjoepa Tanari, dan Solok di kaki Talang telah hancur total. Lalu lintas mobil Padang-Pandjang tidak memungkinkan melalui Lembah Anai. Beberapa tempat telah terkoyak oleh gempa bumi. Sepanjang malam, getaran ringan terus terasa. Jalan Padang Pandjang-Fort de Kock tidak bisa dilalui, begitu pula dengan rel kereta api. Tiang-tiang telegraf telah jatuh.

 

Seorang pria Tionghoa yang tiba di Padang pada pukul setengah delapan Senin malam diutus dari Padang Pandjang untuk mendapatkan pertolongan, katanya Padang Pandjang sudah banyak yang hancur. Stasiun, kantor pos, sekolah, apotek, dan sebagian besar kamp Tionghoa telah runtuh. Seorang apoteker meninggal dan di lokasi kekurangan perban untuk korban luka. Orang Tionghoa datang dengan susah payah ke Padang melalui Lembah Anai, di mana jalan dan rel kereta api telah hancur. Gempa besar terakhir pada pukul setengah dua malam menjadi penyebab kehancuran. Selasa pagi, dokter dan polisi dari Padang berusaha mencapai Padang-Pandjang. Jumlah korban tewas dan luka-luka belum diketahui. Laporan yang belum dikonfirmasi mengatakan banyak yang tewas. Karena semua bangunan militer di Padang Padjang hampir rusak, Rumah Sakit militer telah runtuh, barak-barak militer kosong. Semua bangunan batu di sepanjang Jalan Koto Baru dan Padang Panjang runtuh. Orang-orang berkemah di tenda. Jembatan kereta api di Kandang Ampat, Lembah Anai dan Padang Luar rusak berat. Selain itu tak hanya di Padang Pandjang, dikabarkan kota utama Solok juga telah porak poranda.

(Sumber: Nieuwe Haarlemsche Courant, 30 Juni 1926)

Dokumen

Detail

Comment (0)