"Archaeological evidence that a late 14th-century tsunami devastated the coast of northern Sumatra and redirected history"

ACEH 0 Likes Bagikan :

Journal
Hasil penelitian baru baru ini yang dilakukan oleh Earth Observatory of Singapore (EOS) dan Universitas Syiah Kuala menunjukan bahwa tsunami sedahsyat 2004 juga pernah menghantam Aceh 600 tahun yang lalu. Hasil kajian tersebut telah memberikan pemahaman baru dan pembelajaran tentang mitigasi bencana tsunami pada masa mendatang. Dahsyatnya tsunami 2004 telah meluluh lantakan wilayah pesisir Aceh dan sejumlah negara lainnya di seputar Samudra Hindia. Peristiwa tersebut mengejutkan dan membangkitkan kesadaran tentang pentingnya upaya pengurangan risiko bencana secara global. Di Aceh, lebih dari 160.000 korban meninggal dan banyak yang kehilangan tempat tinggal serta harta benda. Dampaknya, tsunami 2004 telah merubah peta politik di Aceh, dari konflik yang berkepanjangan menjadi propinsi dengan pemeritahan sendiri di Indonesia. Peristiwa serupa ternyata juga pernah terjadi pada tahun 1394 M. Kehancuran total pesisir Aceh pada saat itu juga memicu munculnya Kerajaan Aceh Darussalam yang kuat dan disegani di Asia Tenggara. Temuan ini telah dipublikasikan pada Proceedings of the National Academy of Sciences dalam minggu ini (https://www.pnas.org/content/early/2019/05/24/1902241116). Salah satu bukti kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam pada saat ini terlihat pada beragamnya tinggalan batu nisan yang bernilai seni tinggi. Sayangnya, batu nisan Aceh dan batu nisan plang-pling yang tersebar sampai ke seluruh Asia Tenggara tersebut pada saat ini banyak yang terabaikan, bahkan hancur oleh alam dan ulah tangan manusia. Peninggalan batu-batu nisan ini menjadi jejak awal dari penelusuran kedahsayatan tsunami yang terjadi 600 tahun silam di Aceh. Serangkaian penelitian yang dilakukan team besar yang dikomandoi oleh Prof. Kery Sieh dari EOS dan Nazli Ismail, Ph.D dari Universitas Syiah Kuala dalam 10 tahun terakhir menunjukan bahwa Aceh pernah dilanda beberapa kali tsunami besar. Salah satunya adalah tsunami yang terjadi pada tahun 1394 tersebut. Aceh merupakan salah satu pelabuhan yang ramai dikunjungi kapal internasional yang menuju dan keluar dari Asia Tenggara pada beberapa abad silam. Sedangkan Kerajaan Aceh Darussalam muncul pada abad ke-16 M dan menjadi kerajaan Islam yang disegani di Asia Tenggara pada saat itu. Aceh mampu bertahan dari invasi barat dalam beberapa abad, ketika daerah-daerah lain di Nusantara telah ditaklukan. Namun demikian, kajian tentang pemukiman sepanjang pesisir Aceh pada Abad ke-17 belum pernah dilakukan secara komplit. Oleh karena itu, team EOS dari Nanyang Technological University serta The International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) dan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) dari Universitas Syiah Kuala berinisitif melakukan kajian yang mendetail di sepanjang pesisir Banda Aceh dan Aceh Besar untuk mendapatkan jawaban tersebut. Penelitian dilakukan dengan menyisir sekitar 40 desa pesisir, mewawancarai para tetua setempat, dan memetakan setiap jejak dan bekas pemukiman di kawasan tersebut. Tinggalan jejak yang dipetakan berupa batu nisan kuno, pecahan keramik, dan pertapakan masjid tua yang tersebar di sepanjang pantai Banda Aceh dan Aceh Besar pada saat ini. Setidaknya ada sekitar 10 areal pemukiman purba di sepanjang pesisir telah musnah pada saat ini. Selain itu, temuan pecahan keramik yang tersebar di kawasan pemukiman tersebut bahkan ada yang berasal dari Abad ke-11 dan ke-12 M. Ini menunjukan bahwa kawasan pesisir tersebut telah dijadikan pemukiman sejak awal millennium pertama. Setelah itu, setidaknya dada 9 kawasan pemukiman yang berada sepanjang 40 km garis pantai telah diabaikan dan tidak berpenghuni lagi sekitar tahun 1400. Berdasarkan kajian geologi diketahui bahwa kawasan tersebut pernah dihantam tsunami pada tahun 1394. Meskipun demikian, temuan ini tidak memberikan informasi yang presisi tentang luas genangan, ketinggian, dan kekuatan tsunami serta dampaknya pada saat itu. Dengan adanya kajian arkeologi yang dilakukan sepanjang kawasan pesisir, setidaknya menujukan bahwa kemungkinan besar kekuatannya setara dengan tsunami 2004 dan menenggelamkan semua pemukiman yang terletak pada dataran rendah di sepanjang pantai. Kawasan Lamri (sekarang berada di Desa Lamreh, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar) merupakan salah satu pemukiman yang selamat dari hantaman tsunami 1394. Kawasan ini terletak pada sebuah tanjung yang relatif tinggi, oleh karena itu luput dari bah tsunami yang terjadi pada saat itu. Pemukiman Lamri dikenal sebagai salah satu pelabuhan penting dari jalur Sutera Maritim pada abad pertengahan. Sepanjang pantai Desa Lamreh ditemukan pecahan keramik berkualitas tinggi yang berasal dari berbagai bagian daratan Cina. Lebih istimewa lagi, di kawasan Lamreh juga ditemukan artefak yang berasal dari Syiria. Jejak keramik dari kawasan Timur Tengah tersebut belum pernah ditemukan pada bekas pemukiman-pemukiman kuno lainnya yang berada di kawasan yang relatif lebih rendah. Meskipun pernah menjadi kawasan penting pada masa lampau, kejayaan Lamri kemudian pudar sejak awal abad ke-16. Pemukiman yang terlihat sekarang di Desa Lamreh merupakan pemukiman baru yang tidak memiliki kesinambungan dengan pemukiman kuno tersebut. Setelah Lamri ditelantarkan, kegiatan perdagangan selama munculnya kerajaan Aceh Darussalam dialihkan ke kawasan pesisir yang lebih rendah di sepanjang pantai sebelah barat Lamri. Anggapan ini didukung oleh temuan adanya sebaran keramik yang berkualitas lebih tinggi dan batu nisan kuno milik petinggi kerajaan dan orang-orang terkemuka pada saat itu. Pembangunan kembali pemukiman di kawasan pantai yang lebih rendah dipengaruhi oleh kedatangan pedagang-pedagang muslim. Kemudian, pedagang asal Eropa juga dipercaya berperan dalam pembangunan kembalikawasan tersebut, mengingat Portugis pernah menaklukan Malaka pada tahun 1511. Kehadiran para pendatang luar tersebut memperkuat keberadaan Kerajaan Aceh Darussalam pada saat itu. Patrick Daly, dkk, "Archaeological evidence that a late 14th-century tsunami devastated the coast of northern Sumatra and redirected history", PNAS (April, 2019): pp. 1 - 8.

Dokumen

Detail

Comment (0)