BNPB DAN UNIVERSITAS ISLAM MAJAPAHIT GELAR SOSIALISASI SISTEM INFORMASI KEBENCANAAN UNTUK GENERASI SADAR BENCANA
Kapan dan Dimana
-
Tanggal dan WaktuThursday, 02 October 2025
00:10
-
LokasiMojokerto
Tentang Event
BNPB DAN UNIVERSITAS ISLAM MAJAPAHIT GELAR SOSIALISASI SISTEM INFORMASI KEBENCANAAN UNTUK GENERASI SADAR BENCANA
MOJOKERTO - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Direktorat Sistem Penanggulangan Bencana bersama Universitas Islam Majapahit (UNIM) Mojokerto menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Sistem Informasi Kebencanaan dengan tema “Jejak Sejarah, Peta Risiko, dan Data Terpadu: Membangun Generasi Sadar Bencana”.
Acara yang berlangsung pada Rabu (1/10) ini merupakan rangkaian acara peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (Bulan PRB) 2025 yang dilaksanakan di Gedung Graha Nuswantara, Universitas Islam Majapahit, Mojokerto, Jawa Timur.
Kegiatan dihadiri oleh ratusan peserta baik secara luring dan daring dari kalangan mahasiswa, dosen, tenaga pendidik, BPBD provinsi dan kabupaten/kota, hingga masyarakat umum. Narasumber berasal dari BNPB, antara lain Lilis Siti Muttmainnah, S.Sos., M.Si. (Analis Kebijakan Ahli Muda), S. Yunita Sofiana Dewi, S.Sos., M.Sc (Penelaah Teknis Kebijakan), serta Riyanto Nugraha, S.IP (Penelaah Teknis Kebijakan), berbagi pengalaman sekaligus mengajak peserta untuk lebih dekat dengan tiga inovasi BNPB: aplikasi InaRISK khususnya dalam penilaian Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), Portal Literasi Sejarah Bencana, dan Disaster Knowledge Management System (DKMS).
Sosialisasi ini bertujuan untuk memperkenalkan dan mendorong pemanfaatan tiga sistem informasi BNPB:
- InaRISK Personal – berfokus pada penilaian Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
- Portal Literasi Sejarah Bencana – wadah informasi sejarah kebencanaan sebagai sarana edukasi, riset, dan literasi publik.
- Disaster Knowledge Management System (DKMS) – sistem manajemen pengetahuan kebencanaan berbasis data terpadu.
Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNIM, Dr. Wawan Hermawan, M.Pd., dalam sambutannya menekankan bahwa pendidikan kebencanaan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga pembentukan sikap dan kepedulian mahasiswa terhadap keselamatan bersama. Wawan mengatakan, melalui kolaborasi BNPB, perguruan tinggi, dan masyarakat, dapat membangun budaya sadar bencana demi Indonesia yang aman dan sejahtera.
Sementara itu, Analis Kebencanaan Ahli Madya BNPB, dr. Rucky Nurul Wursanty Dewi, M.K.M, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendorong perubahan paradigma penanggulangan bencana, dari reaktif menjadi proaktif. Menurutnya, pemanfaatan InaRISK, Portal Literasi Sejarah Bencana, dan DKMS, memungkinkan masyarakat untuk belajar dari masa lalu, memetakan risiko, dan mengelola pengetahuan agar masyarakat lebih siap menghadapi ancaman bencana di masa mendatang.
Lewat InaRISK Personal, peserta diperkenalkan pada cara melakukan penilaian terhadap SPAB. Harapannya saat mahasiswa FKIP nanti menjadi tenaga pendidik mampu memberikan penilaian di satuan pendidikan masing-masing.
Melalui Portal Literasi Sejarah Bencana, generasi muda diajak menyelami catatan bencana di masa lalu untuk belajar dari pengalaman bangsa menghadapi berbagai bencana.
Sementara DKMS menghadirkan pengetahuan kebencanaan yang terintegrasi dan berbasis kecerdasan buatan untuk mendukung riset, kebijakan, serta kesiapsiagaan masyarakat.
Pada kesempatan ini juga dilakukan simulasi melalui prosedur evakuasi dan penyelamatan mandiri di dalam ruangan apabila terjadi gempa bumi. Peserta mempraktikkan cara berlindung apabila terjadi gempa bumi untuk segera berlindung di bawah meja atau kursi, melindungi kepala, serta tetap tenang hingga guncangan berhenti. Setelah situasi aman, evakuasi dilakukan melalui pintu keluar terdekat menuju titik kumpul di area luar ruangan. Prosedur ini menjadi bagian penting dari edukasi kesiapsiagaan, agar setiap individu mampu menyelamatkan diri secara mandiri dan mengutamakan kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta ibu hamil.
BNPB berharap, melalui literasi, teknologi, dan jejaring akademik, akan tumbuh generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh menghadapi ancaman bencana. Dengan demikian, cita-cita Indonesia tangguh bencana bukan lagi sekadar slogan, melainkan budaya yang hidup dalam keseharian masyarakat.