Artikel

Latest News

Prinsip Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita ala Masyarakat Desa Wotgalih

Panas sinar matahari pagi menjadi penyemangat bagi tim Ekspedisi JawaDwipa (EJD) yang merupakan kerjasama BNPB, Skala dengan dukungan Siapsiaga melangkah menyusuri jejak sejarah di wilayah Kab. Lumajang. Senin, 21 November 2022 tim EJD bertolak menuju Desa Jatimulyo. Desa ini kerap dilanda bencana banjir di wilayah bagian selatan yang menggenangi sawah-sawah warga. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini, warga tidak merasakan gempa besar yang merusak. Bencana yang masih diingat oleh warga adalah angin puting beliung yang terjadi pada tahun 2013. 

Sumariono, ketua Destana Jatimulyo mengatakan “Sebelum puting beliung yang terjadi 2013, Desa Jatimulyo pernah mengalami bencana angin puting beliung pada tahun 1980 yang merusak beberapa rumah.”

Cerita menarik dikemukakan oleh Satap, ia mengatakan “Tahun 2015, ada pengerukan pasir untuk tambak, saat itu ditemukan perahu yang masih kokoh, karena kurangnya pengetahuan dari pengeruk tanah, jadi perahu hanya dibuang.”

Satap sangat menyayangkan temuan ini tidak ditindaklanjuti. Ia merasa temuan perahu yang ada pada kedalaman 15 meter sangat aneh. Banyak kemungkinan yang terjadi yang dapat menyebabkan perahu itu tertimbun, bahkan mungkin salah satu faktornya adalah bencana tsunami, longsor atau bencana lainnya yang terjadi di masa lalu. 

Tak hanya Desa Jatimulyo, tim EJD juga mendatangi Desa Wotgalih yang posisinya juga berada di sepanjang pesisir selatan Jawa. Hanafi, ketua Destana Wotgalih menjelaskan bahwa nama Wotgalih berarti jembatan kayu. Jembatan ini menghubungkan daerah antara Dusun Wotgalih, Dusun Meleman, dan Dusun Talsewu. Jembatan ini berasal dari tenggulunan yang roboh melintang di sungai dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menyebrang sehingga dinamai dengan Wotgalih, ‘wot’ berarti jembatan, ‘galih’ berarti keras dan kuat.

Masyarakat Desa Wotgalih memiliki kesadaran tinggi akan kelestarian alam. Mereka meyakini bahwa bila alam rusak, pastilah menimbulkan permasalahan bagi masyarakat yang tinggal di desa ini. Masyarakat di desa ini mempunyai peraturan yang unik untuk melindungi kelestarian desanya. Penduduk desa tersebut bersama pemerintahan Desa Wotgalih membuat peraturan larangan mengambil pasir di Pantai Mbah Drajid. Peraturan tersebut dibuat karena masyarakat percaya jika pantai tersebut dirusak akan menimbulkan bencana bagi warga desa. Bahkan, Nur Wahid (63) pernah mengalami intimidasi dari para penambang pasir. Pantai Mbah Drajid sekarang sudah menjadi daerah wisata dan menghasilkan pemasukan untuk desa. Selain itu banyak juga warga yang memancing di tempat tersebut, untuk dijadikan sebagai lauk pauk santapan mereka di rumahnya.

Isu tentang Tsunami juga kerap kali terdengar di telinga masyarakat, tetapi masyarakat juga percaya bahwa area perbukitan pasir besi bisa meredam gelombang jika terjadi tsunami. Selain itu, masyarakat di Desa Wotgalih juga memiliki istilah tersendiri dalam membedakan jenis-jenis gelombang pasang nelayan memiliki istilah ‘ombak sapon’, yang berarti ombak besar. 

Bagi masyarakat di Desa Wotgalih, ‘ombak sapon’ merupakan ombak yang besar dan sangat berbahaya bagi para nelayan. Hal tersebut menunjukan bahwasannya masyarakat di desa tersebut sudah mengetahui ancaman ancaman yang berasal dari laut. 

Ada pula istilah ‘air bloro’, yaitu ombak besar yang tingginya melebihi ombak pasang biasanya. Perbedaan dari keduanya yaitu, bila ‘ombak sapon’ hanya datang pada bulan bulan tertentu, sementara itu, ‘air bloro’ merupakan ombak besar yang jarang terjadi dan tidak tahu kapan datangnya. Pada zaman dahulu, sebelum masyarakat mengenal perbendaharaan kata tsunami, mereka menyebut kejadian tsunami juga sebagai ‘air bloro’.

‘Kita jaga alam, alam jaga kita’ menjadi slogan yang amat sangat cocok untuk warga Desa Wotgalih yang benar-benar memperhatikan kelestarian alam. Melalui peraturan desa, tambang pasir tidak dijalankan dan warga menjadi lebih tenang sebab ancaman tsunami menjadi berkurang. (Tim Ekspedisi JawaDwipa)

 

Sumber : Disasterchannel.co 

Tulis Komentar

Comments (0)

Tulis Komentar