Artikel

Latest News

Menelusuri Jejak Gempa Bumi dan Tsunami Aceh Tahun 2004 - Juara 1

Wilayah Kepulauan Indonesia memiliki tatanan tektonik yang rumit dan aktif, kondisi ini dicirikan oleh rangkaian kejadian gempa bumi yang tinggi di Indonesia. Berdasarkan buku Seimotektonik Busur Sunda yang diterbitkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2017, menyebutkan bahwa wilayah Kepulauan Indonesia diapit oleh tiga lempeng tektonik yang saling bertumbukan. Ketiga lempeng itu adalah Lempeng Benua Eurasia yang berada di bagian barat, Lempeng Samudera Pasifik yang bergerak dari timur ke barat serta Lempeng Samudera Hindia - Australia di bagian selatan yang menumbuk dan menyusup di bawah Lempeng Benua Eurasia. 

 

Interaksi ketiga lempeng tektonik seperti yang dijelaskan di atas berakibat pada terbentuknya deretan gunung api dan kejadian gempa bumi. Pertemuan ketiga lempeng ini dikenal dengan zona subduksi. Gambaran tentang zona subduksi dan kejadian gempa bumi di wilayah Kepulauan Indonesia dapat dilihat pada gambar 1. 



Gambar 1. Gambaran kejadian gempa bumi di Wilayah Kepulauan Indonesia yang diakibatkan oleh interaksi lempeng tektonik (Sumber gambar diperoleh dari laman www.seisnote.com)

 

Wilayah Provinsi Aceh berada di ujung barat Pulau Sumatera. Tahun 2004 silam, tepatnya pada tanggal 26 Desember, sebuah gempa bumi yang kuat melanda Provinsi Aceh dan sebagian Sumatera Utara. Dalam majalah Geomagz yang diterbitkan oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Volume 1 No. 4 Bulan Desember 2011 menjelaskan bahwa Gempa bumi yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004 memiliki kekuatan skala 9,2 Mw. Gempa bumi ini juga mengakibatkan terjadi gelombang tsunami yang menyapu sebagian besar wilayah pantai di Aceh dan beberapa wilayah pantai di Thailand, India sampai Afrika. Jumlah korban mecapai lebih dari 250.000 jiwa.

 

Gempa bumi yang terjadi di Aceh pada 2004 disebabkan oleh adanya aktivitas tumbukan lempeng tektonik pada zona subduksi. Dalam majalah Geomagz dijelaskan bahwa lempeng tektonik tersebut adalah Lempeng Samudera Hindia yang bergerak dengan kecepatan 50 mm/tahun menumbuk bagian dari Lempeng Benua Eurasia. Selain gempa bumi yang terjadi di Aceh pada tahun 2004, aktivitas tumbukan kedua lempeng tektonik ini juga mengakibatkan rangkaian kejadian gempa di wilayah Sumatera, salah satunya adalah kejadian gempa bumi di Pulau Nias pada bulan Maret 2005.

 

Dalam Buku Smong Purba yang diterbitkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Aceh tahun 2019, menyebutkan tentang gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada tahun 1907. Kejadian gempa bumi dan tsunami pada 4 Januari 1907 terjadi di dekat Palau Simuelue, Aceh. Masyarakat Pulau Simeulue menyebutkan kejadian ini dengan istilah SMONG dan dilantunkan dalam bentuk hikayat secara turun temurun. Kejadian gempa bumi dan tsunami ini memberikan pembelajaran penting bagi masyarakat Pulau Simeulue untuk memahami tanda-tanda alam sebelum terjadi sebuah bencana besar, seperti halnya bencana tsunami.

 

Smong menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Simeulue untuk memberikan edukasi tentang mitigasi gempa dan tsunami kepada anak cucu. Hikayat Smong berisikan pesan tentang tanda-tanda alam yang terjadi akibat gempa dan segera menyelematkan diri ke tempat yang lebih tinggi karena gelombang air laut akan datang. Pengetahuan yang dibawakan dalam hikayat Smong menjadi salah satu sebab masyarakat Pulau Simeulue banyak yang selamat dari bencana tsunami tahun 2004.

 

Kejadian gempa bumi dan kemudian diikuti oleh gelombang tsunami yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004 silam merupakan salah satu kejadian bencana yang dahsyat dalam sejarah Indonesia. Sebuah kejadian yang memberikan pembelajaran penting bagi kita untuk mempelajari serta memahami potensi bahaya gempa bumi dan tsunami. Hal ini dikarenakan wilayah Indonesia berada pada kawasan tektonik yang aktif. 

Tulis Komentar

Comments (0)

Tulis Komentar