Artikel

Latest News

Letusan Gunung Tambora 1815 : Babad Tak Terlupakan Sepanjang Masa

Letusan Gunung Tambora 1815 : Babad Tak Terlupakan Sepanjang Masa

 

Peristiwa meletusnya Gunung Tambora pada 10 April 1815 menjadi sebuah sejarah yang tak terlupakan untuk seluruh masyarakat Indonesia, bahkan dunia. Sebab, letusan tersebut mendatangkan malapetaka yang belum ada tolok bandingnya.

Kekuatan letusan Gunung Tambora tercatat pada 7 skala VEI (The Volcanic Explocivity Index), yang mana dipercayai merupakan letusan gunung terdahsyat dalam sejarah peradaban manusia modern. Dari letusannya tersebut, sebagian besar Kepulauan Indonesia diselimuti oleh debu vulkanik yang menyebabkan Indonesia mengalami kegelapan selama tiga hari. Bahkan, suara letusannya terdengar sampai Sumatra, sehingga beberapa tempat menyangka suara tersebut adalah suara tembakan meriam musuh. Di Makassar dan Yogyakarta pasukan disiagakan, bahkan sampai tahap siap tempur dan baru menjadi jelas bahwa dentuman-dentuman itu berasal dari letusan gunung setelah hujan debu turun.

Bukan hanya Indonesia, letusan Tambora juga berdampak pada global, misalnya saja menyebabkan tsunami di beberapa negara Asia, Amerika Utara, Kanada, dan Eropa. Selain itu, juga menyebabkan terjadinya perubahan iklim secara ekstrem di Amerika dan Jerman. Di dua negara ini musim panas tak kunjung tiba selama setahun. Letusan yang besar tersebut telah menewaskan 47.925 orang dan menyebabkan 36.275 orang lain mengungsi ke pulau-pulau sekitarnya.

Ganasnya letusan Gunung Tambora pun dibuktikan dalam Syair Kerajaan Bima. Nah, menurut Syair Kerajaan Bima, dahsyatnya letusan Gunung Tambora tersebut digambarkan sebagai wujud kemarahan dan kutukan Tuhan. Hal ini dituangkan dalam buku Loir Chambert-Loir.

waktu subuh fajar pun merekah

diturunkan Allah bala celaka

adalah pada waktu tengah malam

meletuplah bunyi seperti meriam

habislah terkejut sekalian alam

serasa dunia bagaikan karam

pasir disangka hujan yang rintik

jatuh di atap bunyinya mengertik

hari yang terang kelam berbalik

air yang hilir menjadi mudik

…abu yang turun sebagai ribut

 

rupanya alam kelam kabut

datangnya banjir mudik dari laut

terdampar ke darat perahu hanyut

…asalnya konon Allah Taala marah

perbuatan Sultan Raja Tambora

membunuh tuan haji menumpahkan darah

kuranglah pikir dan kira-kira

(dalam Chambert-Loir, 2004: 267-268)

 

Legenda Letusan Gunung Tambora

Teks lisan Eysinga dalam buku Chambert- Loir menggambarkan, konon bahwa letusan dahsyat Gunung Tambora pada tahun 1815 karena Allah SWT marah kepada Sultan Tambora dan Abdul Gafur yang telah membunuh seorang ulama dari Turki, bernama Haji Mustafa.

Konon, Haji Mustafa (dalam versi Eysinga bernama Tuan Said Idrus) membunuh anjing peliharaan sultan dan secara sembarangan memasuki sebuah masjid. Ulama tersebut menyebut orang yang memasukkan anjing ke dalam masjid adalah kafir. Sultan merasa sakit hati dan mencari cara untuk mempermalukan ulama tersebut. Ia mengundang Haji Mustafa dalam jamuan makan yang diselenggarakannya. Sultan memerintahkan juru masak istana untuk menyajikan hidangan yang berasal dari daging kambing dan anjing. Hidangan daging anjing disuguhkan kepada Haji Mustafa. Haji Mustafa menyantap hidangan itu tanpa rasa curiga. Ketika sultan memberitahukan bahwa yang disantapnya adalah daging anjing yang haram, Haji Mustafa menyanggah bahwa yang dimakannya adalah daging kambing yang halal.

Mereka berbantah dan sultan menjadi sangat murka. Ia memerintah orang-orang kepercayaannya untuk menghabisi Haji Mustafa. Haji Mustafa dibawa ke Gunung Tambora untuk dihabisi. Namun, karena ia kebal terhadap senjata, Haji Mustafa disiksa sampai kepalanya pecah. Ketika para utusan sultan berada di tengah perjalanan menuju istana untuk melaporkan tugas yang diperintahkan, Gunung Tambora pun meletus melontarkan lava pijar, kayu terbakar, batu terbakar mengkuti para pembunuh itu. Lalu, para pembunuh pun berlari ke penjuru Negeri Tambora. Maka dari itulah, semuanya habis terbakar oleh Letusan Gunung Tambora. Selang beberapa hari, air bah pun ikut menenggelamkan Negeri Tambora dan negeri-negeri sekitarnya, seperti Sumbawa, Sanggara, Papekat, Dompo, dan Bima.

Lalu setelah Gunung Tambora meluluhklantakkan wilayah-wilayah tersebut, Perdana Menteri mengumpulkan ulama untuk membaca kitab suci, memanjatkan doa permohonan ampun kepada Tuhan, dan bersedekah kepada fakir miskin.

Namun, derita akibat peristiwa tersebut masih terus berlanjut. Banyak orang menjadi pengemis, memakan apa saja yang dapat dimakan dan adakalanya berakibat fatal karena salah makan tumbuhan beracun. Ada juga yang mati terlantar di tengah padang sehingga menjadi santapan burung-burung pemakan bangkai, dan ada pula yang mati dengan berlumuran kotoran sehingga tubuhnya menjadi santapan hewan-hewan liar. Sebagian besar korban tewas tidak mendapatkan perlakuan sebagaimana kematian orang terhormat, dikafankan, disalatkan, dan dikuburkan

 

Dari legenda tersebut, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa bencana tidak dapat diprediksi kapan datangnya. Selain itu, bencana tersebut juga menuntun kita bahwa betapa tidak berdayanya manusia di hadapan Tuhan. Oleh sebab itu, kita harus tetap taat kepada Tuhan, selalu siaga, dan jangan pernah lupakan sejarah! (SS)

 

 

Sumber: Jurnal Manassa Volume 8, Nomor 2, 2018

 

Tulis Komentar

Comments (0)

Tulis Komentar