Artikel

Latest News

Bencana Melahirkan Karya Lagu - Juara 3

"Tuhan marahkah Kau padaku? Inikah akhir duniaku? Kau hempaskan jari-Mu di ujung Banda. Tercenganglah seluruh dunia." 

Bencana alam tentu meninggalkan duka mendalam bagi siapa pun. Di tengah duka itu, empati berpadu kreativitas dari para musisi tanah air bermunculan. Penggalan lirik lagu di atas menjadi salah satu buktinya. 

Itulah bagian pembuka lirik lagu “Indonesia Menangis” karya Chossy Pratama yang Sherina Munaf nyanyikan. Lagu bergenre pop yang rilis tahun 2005 itu secara gamblang mengajak pendengar merenungkan, apakah Tuhan sedang marah sehingga membuat bencana yang amat besar di tanah Aceh, Indonesia.

Lagu ini terinspirasi dari bencana alam gempa bumi dan gelombang tsunami di lepas pantai barat Aceh pada 26 Desember 2004. Kira-kira terjadi setahun sebelum proses kreatif penciptaanya. Merujuk pada Kompas.com, kejadian ini memakan sekitar 230 ribu korban jiwa. 

Bahkan, dunia sampai tercengang. Bencana alam itu tidak hanya menimpa wilayah Aceh, tetapi juga terjadi di negara yang terletak di kawasan Teluk Bengali. Mulai dari Sri Lanka, India, dan Thailand (Kompas.com). Selain itu, juga memporak-porandakan Malaysia, Myanmar, Bangladesh, Maladewa; serta wilayah Afrika di Kenya, Tanzania, Seychelles, Afrika Selatan, dan Madagaskar (Tejakusuma, 2005). 

Tsunami adalah gelombang air besar yang disebabkan oleh pergerakan lempeng bumi secara tiba-tiba. Gelombang yang timbul umumnya terjadi selama 20 sampai 200 menit (Tejakusuma, 2005). Semua bangunan yang berada di daerah pesisir bisa hancur karena tinggi gelombangnya mencapai beberapa meter di atas batas normal. 

 

Berita Kepada Kawan

 

Selain itu, ada juga lagu superpopuler yang terinspirasi dari bencana alam di Dieng, Jawa Tengah. Lagunya berjudul “Berita Kepada Kawan”. Penyanyi Abid Ghaffar bin Aboe Djafar atau lebih dikenal dengan Ebied G. Ade menciptakannya untuk mengenang bencana erupsi Kawah Sinila yang disertai gas beracun. 

Lagu yang rilis sejak 1979 ini mengisahkan akhir perjalanan menyaksikan kejadian menyedihkan, warga Desa Kepucukan, Batur, Banjarnegara meninggal terkena gas beracun (Liputan6.com). Dampak bencana alam tersebut Ebied G. Ade abadikan terutama pada lirik berikut: 

Kawan coba dengar apa jawabnya. Ketika ia ku tanya mengapa. Bapak ibunya telah lama mati. Ditelan bencana tanah ini." 

Meletusnya Kawah Sinila disertai gas beracun yang memporak-porandakan kawasan sekitarnya itu menyebabkan 149 jiwa meninggal dan 998 penduduk setempat mengungsi. Bencana ini terjadi pada tanggal 20 Februari 1979 (Kompas.com). 

Pada malam hari ketika bencana itu terjadi, warga panik dan bergegas keluar dari rumah. Mereka mencoba menyelamatkan diri karena gempa mengguncang. Tiba-tiba terdengar dentuman keras dan terlihat kilatan api dari bukit disertai hujan abu serta bau belerang yang menyengat. Karena gelap, penduduk tidak mengetahui ada gas beracun di sekitar kawah.

Banyak dari mereka, khususnya penduduk dewasa, menjadi korban setelah menghirup gas beracun yang melayang kurang lebih setinggi 1 meter dari atas tanah. Karena itu, banyak anak kecil yang selamat namun sebaliknya untuk penduduk dewasa. 

 

Akar Bencana

 

Ada satu lagi karya seni (lagu) dari musisi Indonesia yang penciptaannya terilhami oleh akar penyebab bencana alam, seperti penggundulan hutan. Karya ini diciptakan oleh Soedjarwoto atau lebih dikenal dengan nama Gombloh. Lagu berjudul “Lestari Alamku” dia ciptakan pada tahun 1982. 

Syair lagu ini menceritakan tentang alam Indonesia dulu yang indah. Penuh rimbun pepohonan, kicauan burung di sana-sini, dan penduduknya berbahagia. Sayangnya, saat lagu itu diciptakan hingga  kini, keindahan alam nusantara hampir tinggal kenangan karena kerusakan alam di mana-mana. Inilah salah satu penggalan lirik lagunya. 

Mengapa tanahku rawan kini. Bukit-bukit pun telanjang berdiri. Pohon dan rumput enggan bersemi kembali. Burung-burung pun malu bernyanyi."  Begitulah keprihatinan Gombloh atas rusaknya alam negeri ini akibat ulah manusia, hingga tercipta lagu “Lestari Alamku” untuk mengekspresikan isi hatinya. 

Sebenarnya, dua lagu sebelumnya juga mengajak untuk merenungkan sikap manusia yang banyak merusak alam. Dalam lagu “Indonesia Menangis”, ini tampak pada lirik: “Tuhan mungkin Kau kuabaikan. Tak ku dengarkan peringatan. Kusakiti Engkau hingga perut bumi. Maafkan kami ya Rabbi.”

Lagu “Berita Kepada Kawan” juga menyampaikan pesan agar manusia lebih bersahabat dengan alam. Berikut penggalan liriknya:

Barangkali di sana ada jawabnya. Mengapa di tanahku terjadi bencana. Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita ... Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita.”

Itulah tiga karya cipta seni yang terinspirasi oleh bencana alam, baik yang diakibatkan oleh alam atau ulah manusia. Lewat lagu-lagu, manusia bisa memahami dan menelusuri jejak sejarah bencana sehingga lebih bijak bersahabat dengan alam.

Lampiran Foto

Foto masjid yang menjadi satu-satunya bangunan utuh di wilayah Meulaboh yang diambil pada 2 Januari 2005 oleh Eugene Hoshiko, fotografer Associated Press yang meliput tsunami Aceh. (Sumber: https://www.kompas.com/tren/image/2020/12/26/081500665/hari-ini-dalam-sejarah-mengenang-peristiwa-tsunami-aceh-2004?page=1)


Sebagian korban yang tewas akibat gas beracun di Dataran Tinggi Dieng pada 1979. Potret oleh Humas Pemda Banjarnegara (Sumber: https://www.kompas.com/tren/image/2020/02/20/140751165/20-februari-1979-letusan-dan-gas-beracun-di-dieng-tewaskan-149-orang?page=2)

Tulis Komentar

Comments (0)

Tulis Komentar