Artikel

Latest News

CERITA KRAKATAU 1883 DI MATA PUJANGGA

Ketika gunung-gunung berapi di Indonesia memasuki siklus merusak pada abad ke-19, persepsi tentang gunung mengalami pergeseran atau perubahan. Letusan gunung yang terjadi sepanjang abad ke-19, seperti letusan Gunung Tambora (1815), Gunung Merapi (1822), dan Gunung Krakatau (1883), di mata para pujangga dianggap sebagai wujud kemurkaan Tuhan karena manusia telah lalai dan mungkar. Meskipun kebanyakan tindak kemungkaran dilakukan oleh para penguasa, seluruh masyarakat juga terpaksa untuk menanggung akibatnya.

 

Letusan sangat dahsyat terjadi pada 27 Agustus 1883 pukul 05.30, 06.44, 20:02, dan 10.52 pagi pada hari berikutnya. Gunung Danan, Perbutan, dan bagian barat laut Rakata hancur lebur. Dari kepundan gunung menyembur abu ke udara setinggi 70 km. Tsunami setinggi 40 meter menerjang kedua sisi pantai baik di Sumatra (Lampung) maupun Banten dan sekitarnya. Jumlah korban jiwa tercatat lebih dari 36.000 penduduk pribumi dan 37 orang Eropa. Gelombang ombak yang tinggi mencapai Australia, Srilanka, India, Arab, hingga Afrika Selatan. Letusan tersebut membentuk kaldera berdiameter 5-7 km dengan kedalaman 279 meter di bawah permukaan air laut yang sekarang dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.

 

Bencana itu dipandang oleh penyair SLK (Syair Lampung Karam) sebagai ujian dan hukuman dari Tuhan karena hukum Islam tidak ditegakkan.

 

Di atas langit nyata kelihatan

Seperti bunga api yang kelihatan

Hati di dalam takutlah Tuan

Bahala banyak diturunkan Tuhan

(bait 21 dalam Suryadi, 2009: 35).

 

 

Ayuhai Encik ayuhai Tuan

Tidakkah patut yang demikian

Hukum Islam tidak dikerjakan

Demikian azab yang dibahagikan

(bait ke-120 dalam Suryadi, 2009: 57)

 

Karena itu, penyair berseru kepada semua orang agar sebelum maut datang menjemput, bertobatlah!

 

Kebesaran Tuhan memberi tahu

Supaya tobat qabla an tamūtu

(bait ke-37 dalam Suryadi: 39)

 

Orang yang mati tiada dikatakan

Daripada banyak belum ketahuan

Haru-hara di dalam demikian

Mintak rakhmat kepada-Nya Tuhan

(bait ke-91, dalam Suryadi, 2009: 51).

 

Peristiwa di sekitar Banten yang dianggap sebagai penyebab turunnya bala dan azab tersebut adalah pesta perkawinan putri Bupati Caringin, R.T. Djajanegara (putra sulung R.A.A. Karta Natanegara Bupati Lebak). Keluarga besar Bupati berdatangan dari Serang, Lebak, Tangerang, Jasinga, Bogor, dan Caringin. Dalam pesta itu juga diselenggarakan khitanan bagi keponakan Bupati yang bernama Hassan. Menurut adat yang berlaku di Banten, khitanan tidak boleh diselenggarakan bersamaan dengan upacara perkawinan dan larangan itu sudah dipercayai oleh masyarakat karena berasal dari pesan nenek moyang. Akibat dari melakukan pelanggaran terhadap larangan itu, pemulihan kuasa adat menelan korban sangat besar. 55 orang keluarga Bupati yang hadir beserta seluruh isi Kabupaten hilang ditelan ombak ketika tsunami yang menyertai erupsi Gunung Krakatau melanda pantai Caringin pada 26 Agustus 1883 silam.

 

Di kalangan para alim, muncul tafsir yang berbeda. Hukuman Tuhan itu turun karena di rumah Bupati digelar tayuban, ronggeng, dan kegiatan lain yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Sementara itu, di kalangan masyarakat Belanda yang berada di Banten tumbuh keyakinan bahwa bencana besar yang menelan korban keluarga Bupati tersebut merupakan wujud azab yang disebutkan dalam Kitab Injil Perjanjian Lama. Azab itu turun karena penguasa dari dinasti Karta Natanegara merupakan penguasa yang lalim. Sebagai ilustrasi, dalam novel Max Havelaar karya Multatuli yang terbit pada 1860 dikisahkan Bupati Karta Natanegara dan keluarganya telah bertindak sewenang-wenang sehingga penduduk Lebak hidup miskin. Menantu sang bupati, Demang Parangkujang dan koleganya Demang Cilangkahan memaksa rakyatnya menjual kerbau kepada mereka dengan harga sangat rendah, bahkan kadang-kadang sama sekali tidak dibayar.

 

Di sisi lain, patih juga diketahui suka merampas sawah penduduk untuk menenangkan hati masyarakat dan untuk menolak kemungkinan datangnya bencana berikutnya. Pemerintah kolonial Belanda menganggarkan f. 4000, yang kemudian dibagikan ke 10 desa. Uang itu khusus digunakan untuk sedekah agar negeri ini tidak lagi mengalami kecelakaan atau bencana. Sebenarnya, kebijakan itu didorong oleh munculnya kecemasan penguasa kolonial Belanda terhadap perilaku sebagian besar warga Banten yang menjadi lebih religius pasca erupsi Krakatau. Mereka memadati rumah-rumah peribadatan. Sepintas aktivitas itu tidak menunjukkan kebencian atau kemungkinan perlawanan terhadap pemerintah yang sah. Namun, dengan dorongan para imam yang tidak bertanggung jawab ditakutkan religusitas itu dapat menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan. (SS)

 

 

Sumber: Jurnal Manassa Volume 8, Nomor 2, 2018