Artikel

Latest News

Adaptasi Bencana Mahkota Berpucuk Lima

Mahkota Berpucuk Lima adalah sebutan untuk Benteng Belgica, sebuah benteng Belanda yang bisa dilihat di uang pecahan Rp.1000 baru. Benteng ini merupakan salah satu benteng yang ada di Banda Neira, sebuah pulau dalam gugusan 10 pulau vulkanik kecil bernama Kepulauan Banda di Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku.

Hingga akhir abad ke 18, Banda Neira terkenal sebagai penghasil pala satu-satunya di dunia. Saat itu, segenggam komoditas ini setara nilainya dengan segenggam emas. Sebelum Inggris dan Belanda datang ke Banda Neira, bangsa Portugis pada tahun 1512 datang untuk membeli rempah-rempah.

Gambar 1. Pala dengan latar Pulau Gunung Banda Api

Gambar 1. Pala dengan latar Pulau Gunung Banda Api

 

  • Benteng Nassau

Portugis mencoba membangun benteng di lokasi ini pada tahun 1529, tetapi setelah membangun fondasi, mereka meninggalkan pekerjaan tersebut karena permusuhan dari orang-orang Banda.

Pada tahun 1605 dibuat perjanjian antara VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) dengan orang kaya di Banda yang isinya monopoli VOC terhadap komoditi rempah. Namun, masyarakat Banda menginginkan pasar bebas dengan negara Eropa lain dan menjual kepada pembeli dengan harga tertinggi. VOC memaksakan monopolinya di Pulau Banda, sehingga mengutus pasukan untuk datang ke Banda pada April 1609 di bawah pimpinan Laksamana Pieter Willemsz Verhoeff. Negosiasi berjalan alot sampai terbunuhnya Laskamana Verhoeff dan beberapa tentara Belanda pada serangan gerilya.

Perang Banda terjadi, kemudian berujung dengan menyerahnya masyarakat Banda kepada Belanda. Pada bulan Agustus 1609 didirikanlah benteng Nassau di bekas reruntuhan benteng yang pernah dibangun oleh Portugis. Benteng Nassau adalah sebuah bangunan segi empat dengan empat bastion besar yang berfungsi sebagai pangkalan administratif dan militer utama mereka di Banda.

Gambar 2. Design benteng NassauGambar 2. Design benteng Nassau

 

  • Catatan sejarah tsunami

Pada 1611, karena Benteng Nassau tidak menjamin keamanan maka Pieter Both, Gubernur Jenderal Hindia Belanda pertama, menginstruksikan pembangunan benteng baru untuk memperkuat bukit.

Pembuatan benteng baru juga tidak lain dikarenakan bencana yang berdampak pada Benteng Nassau. Gempa, tsunami, iklim monsun tropis, dan bahan dan teknik konstruksi asli yang buruk telah mengakibatkan struktur menjadi bobrok.

Gempa besar dan tsunami yang terjadi pada 1 Agustus 1629 adalah salah satu pemicu pembuatan benteng baru di lokasi yang lebih tinggi dan konstruksi yang lebih kokoh. Kekuatan gempa diperkirakan MMI XI.

“Setengah jam setelah goncangan gempabumi, terjadi terjangan tsunami setinggi 15,3 meter di Pulau Banda. Air menerjang masuk benteng dengan sangat kuat sehingga mampu menggeser Meriam seberat 1,5 ton sejauh 11 meter. Pemukiman di pesisir pantai tersapu gelombang dan merusak bangunan berstruktur batu. Gelombang tinggi muncul sebanyak 3 kali. Terjangan tsunami juga terjadi di Pulau Lonthor setinggi 4 meter.” Sumber: Arthur Wichmann (1915) dan S.L. Soloviev dan CH. N. Go (1984)

  • Benteng belgica

Benteng baru ini dinamai Belgica. Awalnya benteng Belgica adalah benteng persegi sederhana di atas bukit. Pada tahun 1662, Jan Pieterszoon Coen memerintahkan renovasi benteng aslinya, sehingga diganti dengan benteng yang lebih kokoh.